Artikel

Syekh Hamami Zadah dalam Tafsir Yasin Hamami “Surah Yasin Adalah Jantung Bagi Al-Qur’an”

Penulis: Vela Qotrun Nada (Mahasiswi Pascasarjana IAI UIN Walisongo Semarang)

Surah Yasin merupakan salah satu surat yang fenomenal diantara 114 surat didalam al-Qur’an karena dalam surat ini banyak berinteraksi dengan kaum muslim, surat ini begitu dibutuhkan bukan hanya sebagai ayat suci antara relasi khalik dan makhluk akan tetapi sebagai ayat sosial dalam relasi masyarakat. Seperti ketika ziarah kubur, tahlilan, bahkan dijadikan amal wasilah demi qabulnya suatu hajat. Hal ini tentu tidak lepas dari adanya pemahaman tentang keistimewaan dalam Surat Yasin.

Makna Yasin

Mengenai makna ‘Yasin’ sendiri terdapat perbedaan di kalangan Ulama. Sebagian Ulama Tafsir berpendapat bahwa lafadz ‘Yasin’ adalah salah satu nama dari nama-nama Allah. Tafsir Istirobadzi menyebutkan bahwa Allah Swt mempunyai 4000 nama. 1000 tidak ada yang mengetahui kecuali Allah sendiri. 1000 yang lain hanya diketahui oleh Allah Swt dan para malaikat. 1000 yang lain terdapat di Lauh Mahfudz. 300 terdapat di dalam Taurat. 300 terdapat di dalam Injil. 300 lainnya terdapat di dalam Zabur, dan 100 sisanya terdapat di dalam al-Quran yang mana 99 darinya tertulis jelas di dalamnya, sedangkan 1 sisanya lagi disamarkan, yaitu al-ismu al-a’dzom yang tidak diketahui kecuali oleh para nabi dan rasul.

Sebab Turunnya Surah Yasin

Surat Yasin turun ketika orang-orang kafir kukuh dalam keingkaran seraya berkata, “Sebenarnya Muhammad itu bukanlah seorang nabi dan juga bukan seorang rasul, melainkan hanyalah anak yatim yang dilindungi oleh Abu Tholib, Ia tidak pernah pergi ke sekolahan, Ia juga tidak pernah belajar dari seorang guru. Lalu bagaimana bisa Ia menjadi seorang nabi”. Kemudian Allah Swt dengan tegas membantah perkataan mereka dan menurunkan Surat Yasin ini. Allah Swt berfirman, “Muhammad, Jika orang-orang kafir mengingkari kerasulanmu maka janganlah bersedih atas pengingkaran mereka itu. Aku bersaksi, “Sesungguhnya kamu termasuk sebagian dari para utusan.”

 Surah Yasin dalam Tafsir Hamami

Dalam Tafsir Hamami di katakan:

فلما كانت هذه السورة دالة وشاهدة على رسالته فلا جرم جرم أ نها  صا رت قلب القرآن كما قال عليه السلام إن لكل شيئ قلبا وقلب القرآن يس ومن قرأها كتب االله له قراءة القرآن عشر مرات.

Surat Yasin merupakan hati atau jantung bagi al-Quran karena menunjukkan dan memberikan kesaksian atas kerasulan Nabi Muhammad Saw. Rasulullah Saw “Setiap sesuatu pasti memiliki jantung. Dan jantung al-Quran adalah Surat Yasin. Barang siapa membacanya maka Allah menuliskan baginya membaca seluruh al-Quran sebanyak 10 kali.”

Baca Juga: Keromantisan Hidup Bersama Al Qur’an

Keistimewaan Surah Yasin

Rasulullah Saw bersabda, “Perbanyaklah membaca Surat Yasin karena mempunyai banyak keistimewaan,”. Adapun yang keistimewaan tersebut antara lain:

  1. Orang yang lapar ketika membaca Surat Yasin dengan hati yang hudur maka Allah akan membuatnya kenyang dengan anugerah-Nya.
  2. Apabila ada orang merasa ketakutan, kemudian membaca Surat Yasin, maka Allah akan menghilangkan kesedihan dan ketakutannya.
  3. Apabila ada orang fakir berkenan membaca Surat Yasin maka akan selamat dari hutangnya.
  4. Ketika orang memiliki hajat tertentu, kemudian ia membaca Surat Yaasin, maka Allah akan memenuhi hajatnya.
  5. Barang siapa membaca Surat Yasin di pagi hari maka ia berada dalam perlindungan Allah sampai waktu sore hari. Tidak ada suatu negara (kota ataupun desa) yang di dalamnya masih ada orang yang membaca Surat Yasin atau menafsirinya kecuali Allah menjauhkan dan menghilangkan dari mereka bencana, krisis ekonomi, penyakit tho’un, wabah, dan penyakit lain dengan perantara kemuliaan Surat Yasin.

Dalam penutup kitab tafsirnya, Syekh Hamami Zadah menuliskan salah satu hadis yang merupakan hasil riwayat dari Rasulullah Saw “Bacakanlah orang-orang mati kalian Surat Yasin.” Setelah di takhrij kualitas hadis tersebut adalah dhaif karena adanya dua perawi yang majhul yaitu Abu Utsman dan bapaknya, serta terdapat idhthirab dalam sanadnya. Hadis ini hasil riwayat dari Abu Dawud, Ibnu Majah, An Nasa’iy dalam Amalul Yaum wa lailah, Ahmad, Al Hakim, Al Baghawiy dalam Syarhu as-Sunnah, Al Baihaqiy, Ibnu Hibban dalam shahihnya.  Semuanya dari jalur Sulaiman at Taimiy dari Abu Utsman dan Lais an Nahdiy dari bapaknya dari Ma’qil bin Yasar secara marfu’.

Kendati demikian hadis dhaif tetap dapat kita amalkan dalam hal fadhail a’mal, keutamaan amal-amal yang baik, Tujuan para ulama melegalkan bukan berarti memberikan wewenang terhadap hadis yang lemah sebagai penetapan hukum. Melainkan untuk mengajarkan adab yang baik serta mendorong terwujudnya amal saleh. Wallahu a’lam…

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *