Artikel

Evolusi Rasm Utsmani: Dari Sejarah Hingga Penggunaannya Saat Ini

Evolusi Rasm Utsmani: Dari Sejarah Hingga Penggunaannya Saat Ini

Al-Qur’an tidak bisa lepas dari rangkaian peristiwa dan juga Sejarah yang berhubungan dengan Rasulullah. Hal tersebut menjadi sebab adanya beberapa perbedaan dalam hal kepenulisan al-Qur’an dan Hadis Nabi. Seperti halnya pengguanaan Rasm Utsmani.

Pada zaman Rasulullah SAW. masih banyak para sahabat yang hafal Al-Qur’an. Namun, saat itu Al-Qur’an belum dibukukan menjadi satu dalam sebuah mushaf dan masih dalam bentuk pecahan batu, papan kayu, pelepah kurma, dan lain sebagainya.

Ide Sayyidina Umar

Namun setelah terjadinya peristiwa perang Yamamah, banyak penghafal Al-Qur’an yang syahid di medan perang. Hal itu membuat sayyidina Umar bin Khattab ra. menyuruh para sahabat untuk mengumpulkan dan melakukan penulisan ayat-ayat al-Qur’an menjadi satu mushaf.

Baca juga: Menyingkap Rahasia Rasm Al-Qur’an Utsmani: Penafsiran Muhammad Syamlul

Proyek penulisan tersebut diketuai oleh Zaid bin Tsabit dan melahirkan gaya penulisan Al-Qur’an yang saat ini kita sebut dengan Rasm Utsmani.

Perbedaan dalam Membaca Al-Qur’an

Disatu sisi, pada era Khalifah Utsman bin Affan, salah satu yang melatarbelakangi pembukuan Al-Qur’an karena sebagian masyarakat Muslim di daerah Syam dan Irak memiliki perbedaan dalam membaca Al-Qur’an, sehingga menimbulkan konflik dianatara mereka.

Dari peristiwa tersebut, khalifah Utsman membuat kebijakan dengan menetapkan satu dialek saja dalam membaca Al-Qur’an. Beliau mengintruksikan kepada beberapa sahabat untuk mengumpulkan mushaf-mushaf Al-Qur’an dan melakukan penyeragaman berdasarkan kesepakatan bersama.

Khalifah Utsman meminta untuk menjadikan naskah yang disimpan oleh Hafsah binti Umar sebagai standarisasi penulisan al-Qur’an. Hal tersebut bertujuan agar mushaf-mushaf yang ditulis merujuk pada apa yang sudah dilakukan Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khatab.

Merujuk tuntunan Rasulullah SAW.

Khalifah Abu Bakar sendiri juga merujuk pada apa yang telah ditulis oleh para sahabat sebagaimana atas petunjuk Nabi Muhammad Saw. Mushaf-mushaf tersebut disalin ulang sesuai dengan mushaf pada masa Khalifah Abu Bakar.

Akan tetapi perbedaannya adalah khalifah Utsman telah menyeragamkan dialeknya menjadi satu yakni dialek Quraish. Hal tersebut dilakukan karena Khalifah Utsman ingin menyatukan umat Islam ke dalam qira’at shahih yang berasal dari Rasulullah Saw.

Baca juga: Kontekstualisasi Syukur dalam Perspektif Al-Qur’an

Adapun proyek penulisan Al-Qur’an pada zaman Khalifah Utsman dilakukan oleh Zaid bin Tsabit dan tiga orang yang berasal dari suku Quraish yakni Abdullah bin Zubair, Sa’id bin ‘Amr al-‘Ash, dan Abd al-Rahman bin Haris serta diawasi secara langsung oleh Khalifah Utsman.

Setelah proyek penulisan mushaf-mushaf tersebut selesai, Khalifah Utsman melakukan beberapa langkah sebelum mushaf-mushaf yang ditulis tersebut disebar luaskan ke beberapa wilayah Islam diantaranya yakni,

  1. Naskah terakhir dibaca di depan para sahabat

Hal ini dilakukan agar mushaf yang ditulis selaras dengan naskah yang disimpan oleh Hafsah, kemudian duplikat mushaf tersebut disebar luaskan ke beberapa wilayah Islam.

  1. Khalifah Utsman membakar mushaf-mushaf yang lain

Penulisan mushaf-mushaf telah selesai, serta duplikat mushaf juga sudah disebarkan. Khalaifah Utsman merasa sudah tidak memerlukan lagi tulisan-tulisan mushaf yang lama.

Hal ini juga memperoleh persetujuan dari masayarakat dan mereka menerima keputusan Khalifah Utsman. Sayyidina Ali bin Abi Thalib juga memberikan komentar terkait hal tersebut,

“Demi Allah dia tidak melakukan apa-apa terhadap mushaf-mushaf tersebut kecuali dengan persetujuan kami semua (tidak ada seorang pun diantara kami yang membantah).”

  1. Khalifah Utsman mengirim mushaf-mushaf beserta para Qari’

Mushaf-mushaf tersebut dikirim ke seluruh wilayah Islam beserta paraQari’ diantaranya yakni Aid bin Thabit ke Madinah, Abdullah bin As-Sa’ib ke Makkah, Al-Mughirah ke bin Shihab ke Suriah, Amr bin Abd Qais ke Basra, dan Abu Abdur Rahman As-Sulaimi ke Kuffah.

Hal ini dilakukan oleh Khalifah Utsman setelah beliau mendapatkan saran dari para sahabat.

Khalifah Utsman berkata, “Aku berpendapat, sebaiknya kita mengumpulkan manusia hanya pada satu mushaf sehingga tidak akan terjadi perpecahan dan perbedaan.” Pendapat ini kemudian disetujui demi kemaslahatan umat Islam.

Perlu diketahui bahwa penulisan Rasm Utsmani tidak terdapat tanda baca atau harakat. Adanya harakat itu setelah masa kekhalifahan Utsman. Hal ini dikarenakan seiring berjalannya waktu banyak banyak non arab yang masuk Islam dan ingin membaca Al-Qur’an, namun tidak bisa membaca karena tidak adanya titik dan harakat. Maka dari itu, para tabi’in berinisiatif menambahkan harakat, titik, dan lain sebagainya.

Upaya mempersatukan umat Islam

Pembukuan Al-Qur’an yang dilakukan Khalifah Utsman memiliki faidah bagi umat Islam. Salahsatunya yakni mempersatukan umat Muslim dengan menyeragamkan bacaan Al-Qur’an berdasarkan Riwayat shahih dari Rasulullah Saw.

Selain itu juga untuk menyatukan tertib surah atau susunan-susunan surah dalam Al-Qur’an sesuai dengan petunjuk Rasulullah semasa beliau hidup. Rasm Utsmani yang saat ini kita pakai ditulis dengan Riwayat yang mutawattir, sehingga tidak ada perselisihanyang timbul dan akan tetap terpelihara atas pemeliharaan Allah SWT. hingga hari kiamat.

Oleh karena itu, pada menggunakan Rasm Utsmani harus diperjuangkan untuk digunakan, sebab sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan para sahabat yang telah melalui sejarah panjang dalam proses pembukuan Al-Qur’an.

Sejatinya memang Al-Qur’an diturunkan dengan hafalan, bukan dengan tulisan. Namun karena para sahabat ingin mendapatkan keberkahan dari al-Qur’an, maka mereka menulisnya.

Penulis: Shellen Salsabilla Amilya Firdaus

Editor: Fani Azfar

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *