ArtikelDunia IslamTechnology

Manusia dalam Dinamika Postmodern

Awal memulai lembaran baru di tahun 2024, kita sudah disambut dengan beberapa keyword yang sedang hangat dibicarakan dari berbagai kalangan. Salah satu keyword yang sedang hangat saat ini yakni AI (Artificial Intelligence).

Munculnya AI (Artificial Intelligence)

Sebenarnya istilah tersebut mulai mencuat kira-kira pada pertengahan tahun 2023, akan tetapi mulai masif menjadi topik obrolan sejak akhir tahun 2023 hingga artikel ini terpublikasikan. Dari laman kemdikbud.go.id AI sendiri semacam program yang dirancang untuk meng-cloning kecerdasan manusia, khususnya dari segi pengambilan keputusan, logika, dan sebagainya.

Hingga saat ini, sudah banyak sekali aplikasi maupun platform-platform yang telah mengintegrasikan AI pada proses pengoperasiannya. Tentunya hal tersebut menjadi suatu pencapaian yang cukup tinggi dari segi intelektual maupun peradaban dalam dinamika kehidupan.

Baca juga: Mencari Kebahagiaan

Selain itu, upaya manusia dalam menciptakan dan mengontruksikan sebuah perangkat yang berguna bagi umat manusia untuk kedepannya, merupakan salah satu pengamalan jati diri manusia sebagai makhluk yang eksis.

Sisi Lain dari AI

Berbeda dengan hewan maupun tumbuhan, kedua genus tersebut memanglah eksis, akan tetapi tidak memiliki kesadaran akan eksistensinya sendiri. Hal itulah yang menjadi pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya. Akan tetapi dengan eksistensinya tersebut, dengan kemajuan yang ia ciptakan, apakah manusia mampu mengatur diri sendiri?

Sebagaimana fenomena dari penciptaan AI, manusia dengan berbekal ilmu maupun teori, kemudian menciptakan suatu penemuan yang spektakuler, bahkan hasil ciptaannya tersebut melampaui dirinya sendiri. Nah. Pada posisi tersebut, manusia mulai tidak berdaya dalam ciptaanya, mulai melemah, bahkan menjadi budak dari mesin besar yang ia ciptakan sendiri.

Pada fenomena saat ini, kita bisa memakai contoh ketika peserta didik menggantungkan diri terhadap platform ChatGPT maupun beberapa tools lain yang sifatnya mempermudah dalam pengerjaan tugas. Jika hal tersebut terjadi secara terus menerus, bukan tidak mungkin lima atau sepuluh tahun kedepan, kinerja otak manusia menjadi lambat.

Baca juga: Munas NU 2023: Bertanya ke AI Boleh, Tapi Haram Dijadikan Pedoman untuk Diamalkan

Dampak Ketergantungan pada AI

Bahkan kemungkinan terburuk yang timbul adalah jika manusia sudah akrab dengan kemudahan-kemudahan postmodern. Bukan menjadi hal yang mustahil jika kelak melahirkan DNA-DNA dengan kemampuan berpikir yang lambat dan berpengaruh terhadap generasi-generasi setelahnya.

Akhirnya, manusia mulai tertutup fitrah maupun sifat alami yang ia miliki. Hal itu merupakan imbas dari gaya hidup maupun sistem yang terdapat dalam kehidupan saat ini. Alih-alih ingin berhasrat untuk menjelajah dan menggenggam dunia dengan berbekal egosentris akan bisa dan pasti mampu. Akan tetapi goals yang tercapai justru berbanding terbalik dengan rencana awal.

Meminjam istilah dari Sayyid Husein Nasr, beliau menggambarkan bahwa fenomena tersebut adalah masa yang menunjukkan manusia terjebak dengan apa yang ia ciptakan sendiri.

Penulis: Fani Azfar

Editor: Bella F. Sanah

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *