Artikel

Memanggil Kembali Jiwa Kecil Kita

Sebuah unggahan status whatsapp dari salah satu kontak di handphone saya sore itu membuat saya berpikir sejenak. Unggahan tersebut berisi foto anak kecil dengan caption yang intinya membahas kerinduannya akan masa kecil dan ungkapan terimakasih untuk diri sendiri pada dua masa tersebut (masa kecil & masa sekarang).

Hal yang membuat saya lantas tertarik dengan caption pada unggahan ini adalah perihal kalimat tidak adanya kepalsuan dalam diri anak kecil. Lalu saya akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa kenangan masa kecil bukan sekadar kenangan. Kita perlu memanggil kembali kenangan beserta jiwa kecil kita tersebut. Bagaimana maksudnya? Begini penjelasannya kira-kira.

Anak kecil bagi saya adalah gambaran sejatinya manusia. Sifat dan perilaku yang melekat pada diri anak kecil muncul sebagai fitrah dan bentuk respon alami seorang manusia yang minim terkontaminasi oleh lingkungan. Sehingga itulah  mengapa harusnya memang seperti itulah manusia.

Naasnya fitrah alami manusia yang tergambarkan dalam diri seorang anak kecil ini perlahan menghilang meninggalkan pemiliknya yang semakin bertambah usianya. Berbagai bentuk perlakuan kurang baik yang diterima si anak (yang sudah tumbuh dewasa) menggerus eksistensi fitrah ini. Maka dari itu rasanya kita perlu memanggil kembali mereka. Saya merangkumnya menjadi 5 sifat atau perilaku anak kecil yang perlu dipanggil kembali.

Rasa Ingin Tahu Yang Tinggi

Anak kecil selalu memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Ia akan menggunakan berbagai indranya untuk mengenali objek yang sedang menjadi perhatiannya. Itulah mengapa kita sering menjumpai anak kecil yang memasukkan benda apa saja yang ada di tangannya ke dalam mulutnya. Hal itu ia lakukan untuk mengenali tekstur atau mungkin rasa dari benda tersebut.

Terkesan bodoh mungkin bagi pandangan orang dewasa. Tapi itulah cara mereka belajar. Mereka menggunakan segala cara belajar yang terbatas itu untuk mengenali objeknya.

Jika kita bisa memanggil kembali jiwa anak kecil yang selalu ingin tahu ini maka kita akan menjadi pribadi yang terus bertumbuh, pintar, dan lihai dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Rasa ingin tahu yang tinggi akan memberikan dorongan untuk belajar. Meskipun tidak jarang media belajarnya berupa kesalahan atau kelalaian yang kita perbuat.

Jujur Dalam Mengekspresikan Perasaan

Anak kecil akan menangis jika sedang lapar, tertawa ketika melihat hal yang menurutnya lucu, tersenyum ketika terhibur, atau ekspresi-ekspresi lainnya. Tidak ada drama dalam diri mereka. Tidak pernah kita jumpai ada anak kecil yang “tertawa karir” mendapatkan lelucon dari orangtuanya. Tidak pernah juga kita temui ada anak kecil yang pura-pura tersenyum agar dianggap ramah oleh orang di sekitarnya. Bahkan ada istilah senyuman paling ikhlas adalah senyuman anak kecil.

Kita perlu belajar dari mereka untuk bersikap jujur terhadap diri kita sendiri maupun orang lain dalam mengekspresikan apa yang kita rasakan. Misalnya jika kita tidak suka dengan perilaku seseorang kepada kita maka sampaikanlah. Jangan hanya diam dan dipendam hanya agar dibilang ramah. Jangan jadi orang yang nggak enakan.

Tidak Terlalu Memusingkan Apa Yang Telah atau Akan Terjadi

Tidak memusingkan bukan berarti tidak memikirkan dan hanya berpangku tangan. Seorang anak kecil yang lapar misalnya, ia akan menangis. Respon alaminya memaksanya berpikir bagamana cara mendapatkan makanan. Lagi-lagi karena keterbatasan kemampuannya, ia hanya bisa menangis. Atau lebih tepatnya menangis adalah usaha maksimal yang bisa ia lakukan saat itu. Ia belum belajar teknik mendapatkan makanan dengan berbicara atau mencari makanan sendiri.

Itulah yang harusnya kita lakukan. Mengeluarkan usaha terbaik yang bisa kita lakukan untuk mencapai keinginan kita.

Tidak pernah ada ceritanya anak kecil overthingking atau stress memikirkan apa yang akan dimakan. Yang ia tahu hanya berusaha (dengan menangis). Maka ini juga yang harusnya kita lakukan. Fokus pada usaha dan jangan menghabiskan banyak energi untuk memikirkan masa lalu atau memusingkan masa depan. Tugas kita hanya berusaha dan berusaha.

Bangun Kembali Saat Terjatuh

Bayangkan bagaimana jika dulu saat kita belajar berjalan dan terjatuh lalu kita berhenti karena trauma atau semacamnya maka pastilah kita sekarang tidak bisa berjalan apalagi berlari. Si anak kecil itu bisa berulangkali mecoba, jatuh lagi, bangkit lagi dan hebatnya hal itu ia lakukan tanpa bantuan motivator.

Apa pesannya? Motivasi bangkit yang sesungguhnya ada dalam diri kita sendiri. Itu alami. Mungkin lingkungan buruk kita lah yang turut menggerus motivasi kita tersebut. Menutupnya agar tidak lagi keluar sehingga seakan-akan butuh seorang motivator. Sekali lagi bangkit setelah jatuh adalah respon alami anak kecil yang harus kita hadirkan lagi dalam diri kita di usia dewasa.

Terus Bermain

Yang terakhir ini mungkin terdengar agak aneh ya. Orang dewasa kan waktunya serius, bukan waktunya lagi main-main. Kok disuruh terus bermain seperti anak kecil. Yah bukan seperti itu maksud saya.

Hidup anak kecil tidak jauh-jauh dari yang namanya bermain. Dalam belajarnya ia bermain, dalam makannya ia juga masih bermain, hingga kadang susah disuruh tidur karena keasyikan bermain.

Sadarkah kita bahwa hidup ini juga hanyalah permainan. Permainan yang setiap harinya selalu naik levelnya. Dan selayaknya anak kecil yang suka bergonta-ganti permainan, kita pun harusnya bisa move on dari kegagalan kita di “permainan” sebelumnya lalu segera beralih ke permainan lainnya. Tenang saja, masih banyak permainan lain yang menunggu untuk kita menangkan di episode berikutnya.

Akhir kata mari kita benar-benar memanggil kembali jiwa kecil kita yang sudah lama berkelana. Kamu boleh menyuruhnya mengajarimu lagi caranya melakukan kelima hal tadi jika kamu sudah lupa caranya. Atau mungkin bisa juga menyuruhnya untuk langsung saja merasukimu biar cepat bisa.

Penulis: M Muhson Al Farizi

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *