PesantrenProfil Pesantren

Pondok Pesantren Al-Quran Nurul Huda: Pilar Ahlul Quran di Singosari

Pondok Pesantren Al-Qur’an Nurul Huda (PPANH) Singosari, Malang, merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam terkemuka yang berdiri sejak 20 Maret 1973. Pesantren ini didirikan oleh Kiai Abdul Manan Syukur, seorang ulama kharismatik kelahiran 24 April 1925 di Ponorogo. Sejak awal berdiri, pesantren ini memiliki fokus pada pendidikan tahfizul Qur’an dan secara bertahap berkembang menjadi pusat pengajaran Al-Qur’an yang terkemuka di wilayah Malang. Berikut adalah sejarah lengkap berdirinya hingga perkembangannya.

Sebelum mendirikan PPANH, Kiai Abdul Manan merintis dakwah di daerah Singosari. Beliau memulai dakwah dengan menghidupkan kembali sebuah langgar yang sebelumnya tidak terawat. Pengajaran Al-Qur’an dimulai dengan mengajarkan baca tulis Al-Qur’an kepada anak-anak dan mengajak jamaah dewasa untuk sholat berjamaah. Dengan meningkatnya minat masyarakat, Kiai Abdul Manan mulai membuka pengajian di rumahnya, yang saat itu masih berstatus rumah sewaan.

Baca juga: Kyai Marzuqi: NU Tulen, Pegiat Ajaran Aswaja

Awal Mula Berdirinya PPANH

Pada 20 Mei 1973, dengan dukungan masyarakat dan santri yang semakin banyak, Kiai Abdul Manan meresmikan berdirinya Pondok Pesantren Nurul Huda di Jalan Kramat No. 71, Singosari, Malang. Pada awalnya, pesantren ini hanya memiliki sepuluh santri yang menetap. Para santri tinggal di rumah Kiai Abdul Manan yang diberi sekat-sekat untuk menjadi tempat tinggal mereka. Meski demikian, banyak pula santri yang datang sebagai santri kalong, yaitu santri yang tidak menetap di pondok namun tetap mengikuti pengajian.

Gambar: PPANH Singosari
Gambar: PPANH Singosari

Pada awal berdirinya, PPANH hanya mengajarkan tahfizul Qur’an dengan metode yang sederhana. Namun, seiring waktu, pesantren ini mulai menerapkan metode pengajaran modern dan memperluas program-program pendidikannya. Beberapa program PPANH antara lain:

  • Madrasah Diniyah Salafiyah: Program pendidikan diniyah yang mengajarkan dasar-dasar agama dan kitab-kitab klasik.
  • Program Bahasa: Program ini berfokus pada penguasaan bahasa Arab sebagai bahasa utama dalam memahami Al-Qur’an dan ilmu agama lainnya.
  • Jama’ah Murottilil Qur’an (MMQ): Program kelompok santri yang mendalami bacaan Al-Qur’an secara murottal.
  • Ikatan Santri Penghafal Al-Qur’an (ISPANH): Lembaga ini bertujuan untuk membina dan mengembangkan kemampuan hafalan Al-Qur’an di kalangan santri.

Metode Khas Pendidikan Tahfiz

Dalam proses pendidikan tahfiz, PPANH menggunakan beberapa metode yang khas, seperti talaqqi (tatap muka langsung antara santri dan guru), musyafahah (pembacaan Al-Qur’an langsung kepada guru), serta sima’an (proses mendengarkan hafalan santri secara berkelompok). Metode sima’an ini telah menjadi tradisi di PPANH, terutama pada bulan Ramadan, di mana kegiatan ini terlaksana setelah sholat tarawih berjamaah dengan khataman 30 juz Al-Qur’an selama satu bulan penuh.

Baca juga: Ini Langkah dan Metode Menghafal Al-Qur’an yang Tepat

PPANH mengalami perkembangan pesat dalam hal sarana dan prasarana. Pada tahun 1977, pesantren ini membangun asrama putri dengan enam kamar dan mushola putri. Pembangunan ini adalah implikasi dari tingginya jumlah santri putri yang belajar di pesantren. Pada tahun 1982, PPANH memperluas fasilitasnya dengan membangun asrama putri berlantai dua serta pondok putra dari kayu.

Pada dekade 1990-an, PPANH terus membangun fasilitas baru seperti gedung madrasah, aula putri, serta asrama putra dan putri yang lebih modern. Puncak pembangunan terjadi pada awal 2000-an ketika jumlah santri mencapai lebih dari 1.600 orang. Pada masa ini, pesantren juga memperkenalkan program tahfiz yang lebih terstruktur, termasuk program tahfiz khusus untuk santri dari luar pulau Jawa.

Masa Emas PPANH

Puncak kejayaan PPANH terjadi pada periode 2000-2002, di mana pesantren ini menjadi pusat pendidikan tahfiz yang masyhur dengan jumlah santri yang sangat besar. Namun, setelah wafatnya Ibu Nyai Hj. Umi Hasanah, istri Kiai Abdul Manan, pada tahun 2006, kondisi kesehatan Kiai Manan mulai menurun. Kiai Abdul Manan wafat pada 9 Maret 2007 dalam usia 82 tahun. Sepeninggal Kiai Abdul Manan, pesantren ini tetap melanjutkan tradisi pendidikan Al-Qur’an yang beliau rintis, meskipun jumlah santri menurun sejak masa kejayaannya.

Kurikulum tahfizul Qur’an di PPANH mencakup beberapa tahapan, mulai dari bin nadhor (pembacaan Al-Qur’an dengan melihat mushaf) hingga bil ghoib (menghafal tanpa mushaf). Ujian tahfiz setiap enam bulan sekali dengan setoran hafalan kepada santri senior. Selain itu, santri yang telah menyelesaikan hafalan 30 juz dapat melanjutkan ke program Qiro’ah Sab’ah, yaitu mempelajari tujuh cara membaca Al-Qur’an.

Pondok Pesantren Nurul Huda Singosari Malang merupakan salah satu lembaga pendidikan tahfiz yang berperan besar dalam mencetak generasi penghafal Al-Qur’an yang berakhlak mulia dan berwawasan luas. Dengan metode pengajaran yang khas dan lingkungan pesantren yang mendukung, PPANH telah berhasil melahirkan banyak huffaz (penghafal Al-Qur’an) yang berkualitas. Meskipun sempat mengalami penurunan jumlah santri setelah wafatnya Kiai Abdul Manan, pesantren ini tetap berupaya untuk melanjutkan tradisi pendidikan Al-Qur’an yang telah berdiri sejak 1973.

Penulis: Muhammad Ariby Zahron

Editor: Bella Fadhilatus Sanah

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *