Menjelang Berbuka, Api Membara

Yap, kesulitan adalah teman dalam kehidupan, terutama bagi anak pesantren yang sering menguatkan diri dengan istilah “tirakat” di tengah kesulitan yang dihadapi. Banyak hal yang menjadi tantangan tersendiri bagi kaum santri, seperti yang sering terjadi di pondok kami, mulai dari antri mandi, kehabisan air, kehabisan makan, manimba air, pergi kesana kemari untuk sekedar “nunut” mandi serta berbagai kegiatan pondok yang lumayan melelahkan.
***
Sebut saja Lia, Tata, dan Immah, ketiganya adalah santri putri di salah satu pondok pesantren di Kota Malang. Mereka yang hendak mengambil nasi untuk berbuka puasa justru dikejutkan dengan kenyataan bahwa nasinya sudah habis.
Lantaran kehabisan nasi dan masih banyak santri yang bernasib sama seperti ketiganya. Lia berinisiatif mengajak Tata dan Immah untuk menanak nasi. Ia mengambil beras dengan takaran 2 mangkok yang lumayan besar. Sementara itu, Lestari memberi arahan kepada citra untuk menimba air di tandon dekat koperasi pondok. Tak ketinggalan, Bunga diberi tugas untuk mencuci beras dan mengukur takaran air yang digunakan. Setelah alat dan bahan di dapat, ketiganya berjibaku dengan beras dan nasi itu. Seusai di cuci, Lia bingung harus menanaknya dengan magic com listrik atau magic com kompor. Ia meminta pendapat Tita dan Immah. “Yok opo rek, enak e masak gawe magic com tah gawe kompor?”. Imma yang teringat pesan dari Bu lurah pondok, menyarankan untuk memasak menggunakan kompor agar cepat matang sehingga masyarakat pondok segera makan dan tidak kelaparan….
Pada akhirnya ketiganya memutuskan untuk memasaknya dengan kompor. Tak dinyana dan tak disangka kompor itu tidak menyala. “Mbak iki nyapo se kok kompor e ga urup? Gas e entek ta rusak?”, itu adalah suara Immah yang berlari sambil berteriak keluar dapur untuk menanyakan ke mbak pondok yang lain. “Mungkin entek“, terdengar sahutan dari Mbak Bintan. Sementara itu, Lia dan Tita masih mengotak-atik kompor gas itu. Immah melangkah kembali ke dapur dan duarrrr suara dentuman terdengar dari arah dapur. Immah sempat melihat api besar yang menganga dari atas kompor. Semua santri berteriak mendengar dentuman itu. Di waktu yang sama Lia berjalan mundur dengan tangan kanannya yang menarik tangan kiri Tita untuk menjauhi dapur. Kaduanya panik, takut, dan bahkan masih tidak percaya atas apa yang baru dilihatnya.
Immah menghampiri dan mengajak keduanya untuk pergi meninggalkan dapur. Para teman santri bertanya dan terus bertanya mengenai kronologi semburan api itu.
Immah memanggil Mbak Rinda yang sudah sering berurusan dengan kompor dan dapur. Setelah berjibaku dengan kompor tersebut, Mbak Rinda kembali menyalakan dan Alhamdulillah api itu menyala dengan normal. Pada akhirnya nasi itu matang dan ketiganya bisa berbuka meskipun terlambat.
Dari berbagai permasalahan yang sering mendera, jiwa dan raga benar-benar ditempa. kedewasaan seseorang akan dibentuk. Di setiap peristiwa ada pembelajaran yang nyata adanya. Sebut saja sabar, ikhlas, syukur yang sudah seharusnya menjadi teman. Segala kerumitan memang sering menghadang, tapi jalan sudah disediakan, janji Allah itu nyata adanya. Dan yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi dan melaluinya dengan segala cara terbaik menurut-Nya.



