Rasionalitas Al-Quran Mengguncang Hati Pemimpin Kafir Quraisy
Hidup di era modern dengan kebiasaan berpikir secara konkret meniscayakan kita meragukan segala hal yang tidak masuk akal. Agama Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW dengan syariatnya ada yang bersifat taaqquli dan taabbudi.
Dikotomi semacam ini seringkali menyebabkan kita mudah tunduk terhadap sesuatu yang belum kita fahami secara detail.
Fakta ini tidak selaras dengan spirit yang dibawa oleh Al-Qur’an. Seringkali Al-Qur’an mengingatkan diakhir ayat dengan afala ta’qiluun (apakah engkau enggan berpikir) dan afala tadabbaruun (apakah engkau enggan merenungkannya).
Abai dalam Rasionalisasi Al Qur’an
Al-Qur’an dimasa sekarang dijadikan ajang untuk memperbanyak pahala, terlebih di bulan suci Ramadhan. Fenomena semacam ini sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah. Akan tetapi secara tidak langsung bisa mengabaikan sisi rasionalitas Al-Qur’an jika tidak dibarengi usaha untuk memahaminya.
Tidak heran jika banyak Orientalis atau Non-muslim yang masuk Islam lewat gagasan logis yang ditawarkan oleh Al-Qur’an, sementara umat Islam sendiri statis. Mereka tidak bisa mengambil apa yang dihidangkan oleh Al-Qur’an kecuali hanya janji manis berupa pahala.
Baca juga: Santri: Agama dan Negeri
Bahkan, terdapat sekelompok orang yang hanya mengetahui manfaat Al-Qur’an sebagai jimat demi mencapai tujuannya.
Jubair bin Muth’im
Jauh sebelum itu, terdapat tokoh yang dikenal sangat memusuhi Islam, akan tetapi setelah itu mengucapkan syahadat karena kagum dengan kandungan ayat Al-Qur’an. Adalah beliau, Jubair bin Muth’im.
Jubair bin Muth’im termasuk salah satu orang kafir yang masuk Islam sama persis dengan apa yang dialami Umar bin Khattab. Mereka mengucapkan kalimat syahadat karena mendengarkan lantunan ayat Al-Qur’an. Bedanya, ia mendengarkannya secara langsung dari lisan Rasulullah Muhammad SAW.
Berawal dari Peristiwa Perang Badar
Kejadian ini berawal dari peristiwa perang Badar. Ujung dari kekalahan tersebut mengakibatkan sebagian pasukannya menjadi tawanan perang. Sebagai pemimpin, ia ingin melobi Nabi Muhammad SAW. perihal pasukannya agar dilepaskan.
Sesampainya di Madinah, tibalah waktu maghrib. Nabi SAW. beserta para sahabat sedang melaksanakan salat berjamaah di Masjid. Pada akhirnya, ia harus menunggu Nabi SAW. hingga selesai melaksanakan salat.
Dalam kitab Nahwu Tafsir Maudhui Li Suwari Alquran Alkarim karya syeikh Muhammad Alghozali, diceritakan bahwa Jubair mendengarkan Nabi SAW. sedang membaca surah At Thur ketika sedang melaksanakan salat. Ketika itu, Nabi SAW. membaca surah tersebut tepat pada ayat berikut,
Jubair bin Muth’im
(34) أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخالِقُونَ (35) أَمْ خَلَقُوا السَّماواتِ وَالْأَرْضَ بَلْ لا يُوقِنُونَ (36) أَمْ عِنْدَهُمْ خَزائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ (37)
Artinya: Cobalah mereka membuat yang semisal dengannya (Al-Qur’an) jika mereka orang-orang benar (34) Apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka menciptakan (diri mereka sendiri)? (35) Apakah mereka menciptakan langit dan bumi? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). (36) Apakah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu ataukah mereka yang berkuasa? (37). (QS. At Thur 35-37).
Ayat yang Menggoncangkan Hatinya
Jubair merasakan hatinya seakan-akan terbang. Kegelisahan meliputinya ketika mendengarkan ayat tersebut. Setelah itu, ia sadar betapa kerasnya ayat tersebut dalam mengguncangkan keyakinannya selama ini.
Kekafirannya terhadap ke Esaan Tuhan yang tercongkol dalam hatinya benar-benar hancur dan disapu bersih oleh firman Allah Swt. tersebut.
Ajaran Tahid Rububiyyah dan Uluhiyyah
Secara umum, makna ayat ini adalah menetapkan tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah Allah SWT. Lebih lanjut, Syeikh Wahbah Azzuhaili menafsirkan ayat tiga puluh lima bahwa tujuannya adalah untuk membantah akan pengingkaran adanya sang pencipta yang Maha Esa.
Seakan-akan ayat tersebut ingin berbicara kepada orang-orang kafir, “Apakah mereka mendapati dirinya itu tanpa ada yang menciptakan atau merekalah sang pencipta itu?”
Baca juga: Hukum Cut Off, Memutus Pertemanan yang Toxic
Dengan demikian, menurut akal sehat hal itu pastilah mustahil. Sebab, sesuatu yang ada tanpa diciptakan atau sesuatu itu ada dengan diciptakan oleh dirinya sendiri itu tidaklah rasional.
Demikian pula berdasarkan pengalaman dan realitas, hal itu tidak akan pernah dijumpai, bahkan, mereka juga mengakuinya. Maka dalam hal ini Allah lah yang menciptakan dan menghidupkan segala sesuatu yang ada.
Penulis: Moch. Yusuf
Ediror: Fani Azfar



