Telaah Perbandingan Tafsir Al-Qurthubi dan Fath Al-Qadir: Iman Kepada Kitab Allah dan Hari Akhir dalam Surah Al-Baqarah Ayat 4

Agama Islam merupakan agama yang berlandaskan pada iman atau keyakinan. Di antara fondasi agama Islam yaitu iman kepada kitab Allah dan hari akhir. Hal tersebut mengajarkan tentang keyakinan, bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian dan Al-Qur’an merupakan sumber pedoman kehidupan manusia.
Pentingnya Menanamkan Iman
Hari akhir atau yang disebut dalam Al-Qur’an al-yawm al-akhir. Istilah tersebut digunakan untuk merujuk pada kehidupan dunia yang fana ini, serta mencakup proses yang panjang setalah kehidupan duniawi ini. Sehingga dengan meyakini rukun iman tersebut, maka dapat mempengaruhi kehidupan manusia sehari-hari.
Sebagaimana yang telah diyakini oleh orang mukmin, bahwa setiap perbuatan yang dilakukan, maka terdapat pembalasan di hari akhir kelak. Oleh karena itu, penting menanamkan keimanan pada hati setiap individu terhadap rukun iman dalam agama Islam.
Apabila seseorang iman kepada kitab Allah dan hari akhir, maka setiap langkah yang dilakukan dalam kehidupan yang fana ini mengandung nilai-nilai moral yang diajarkan dalam Al-Qur’an.
Ayat tentang Iman Kepada Kitab Allah dan Hari Akhir
Adapun salah satu ayat yang relevansi dengan pembahasan iman kepada kitab Allah dan hari akhir yakni surah Al-Baqarah [2]:4. Dalam ayat tersebut mengajarkan perihal kehidupan di dunia dan akhirat secara mendalam.
Namun, setiap mufassir terkadang memiliki penafsiran yang berbeda. Oleh karena itu, di sini penulis menelaah dari dua karya kitab tafsir yaitu tafsir Al-Qurthubi dan tafsir fath al-qadir. Kedua tafsir tersebut, di latar belakangi oleh mazhab yang berbeda, yaitu dari mazhab sunni dan mazhab syiah. Adanya perbedaan tersebut, maka dapat menghasilkan pemahaman dan wawasan yang luas.
Dengan demikian, tujuan dari penulisan ini adalah untuk menelaah secara mendalam bagaimana penafsiran iman kepada kitab Allah dan hari akhir dalam surah Al-Baqarah [2]:4. Dengan perbandingan menggunakan perspektif kitab tafsir Al-Qurthubi dan Fath al-Qadir. Adapun penulis akan menjelaskan makna hari akhir dengan perspektif Al-Qurthubi dan perspektif dari Al-Syaukani tafsir fath al-qadir. Selanjutnya memberikan perbandingan dari kedua tafsir tersebut.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَۗ
“dan mereka yang beriman pada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Nabi Muhammad) dan (kitab-kitab suci) yang telah diturunkan sebelum engkau dan mereka yakin akan adanya akhirat.” Al-Baqarah [2]:4
baca juga: Krisis Moral di Era Modern: Refleksi dalam Tafsir al-Qurthubi dan Tafsir Fath al-Qadir
Tafsir Al-Qurthubi
Pandangan Al-Qurthubi dalam ayat tersebut menjelaskan bahwa, terdapat perbedaan berpendapat mengenai siapa yang dimaksud dari orang-orang yang beriman kepada kitab. Ada orang yang mengatakan mengenai maksud dari iman kepada kitab itu merupakan ahli kitab yang beriman atau telah masuk Islam yaitu Abdullah bin Salam. Serta terdapat juga yang mengatakan bahwa hal tersebut turun kepada orang-orang Arab yang beriman. Tetapi ada pendapat lain yang mengatakan bahwa, ayat sebelumnya dan ayat ini turun kepada orang mukmin secara umum.
Allah berfirman “kepada kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu, yaitu Al-Qur’an, serta kitab-kitab yang telah turun sebelumnya, seperti kitab: taurat, injil,dan zabur. Namun hal ini berbeda dengan sikap dari kaum Yahudi dan Nashrani yang menolak Al-Qur’an. Mereka Beralasan hanya beriman terhadap kitab yang diturunkan kepada golongannya sendiri.
Terdapat sebuah riwayat dari Abu Dzar RA yang diriwayatkan oleh Husan Al-Ajuri dan Abu Hatim Al-Busti, bahwa Rasulullah menyatakan bahwa Allah menurunkan seratus empat buah kitab. Di antaranya: kepada Syits lima puluh shahifah, Akhnukh tiga puluh buah, kepada Ibrahim sepuluh buah, serta kepada Musa sebelum Taurat sepuluh buah. Dan menurunkan Taurat, Injil, Zabur dan Al-Furqan (Al-Qur’an).
Dalam tafsir Al-Qurthubi ini juga dijelaskan bahwa terdapat seseorang yang bertanya “bagaimana mungkin untuk mengimani seluruh kitab tersebut dengan hukumnya yang berbeda-beda? Maka hal ini, terdapat dua jawaban pertama, mengimani semua kitab bahwa semua kitab tersebut diturunkan oleh Allah. Kedua, mengimani isi kitab tetapi hanya bagian yang tidak dihapus serta yang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an.
Dari ayat ini juga ditegaskan tentang hari akhir, “serta mereka yakin akan adanya kehidupan akhirat” di sini meyakini tanpa adanya keraguan yang mana kata Al-Yaqin berarti mengetahui tanpa adanya keraguan. sedangkan kata Al-Aakhirah yang diambil dari kata al-ta’khiir, sebab akhirat ini belum datang kepada hidup manusia. Adapun ad-dunya dari kata ad-dunuw yang artinya dekat. Sehingga keimanan kepada akhirat berarti meyakini bahwa kehidupan di dunia ini akan berakhir dan meyakini hari akhir tanpa keraguan.
Tafsir Fath Al-Qadir
Pandangan dari Al-Syaukani dalam kitab tafsir fath al-Qadir ini, mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkaitan dengan ahli kitab yang beriman. Mereka adalah orang yang meyakini terhadap risalah yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad dan apa yang telah diturunkan Allah sebelumnya. Adapun riawayat dari Ibnu Jarir, yang menguatkan pendapat tersebut yaitu dalam surah Ali Imran ayat 199 dan surah Al-Qashah ayat 52-54.
Kedua ayat tersebut menurut Ibnu Jarir dan para mufassir lainnya seperti: Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud serta sahabat yang lain. Bahwasanya kedua ayat tersebut diturunkan dengan berkenaan kepada orang-orang beriman secara umum, seperti sifat-sifat orang yang bertakwa. Sedangkan yang dimaksud dari dengan “apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad” ialah Al-Qur’an. dan yang dimaksud dengan “apa yang diturunkan sebelumnya” adalah kitab terdahulu seperti taurat, injil dan zabur.
Adapun kata al-yaqinu dalam tafsir fath al-qadir ini adalah sebuah akurasi ilmu dengan menafikan keraguan maupun kesamaran darinya. Al-Kasysyaf mengatakan bahwa “mereka meyakini mengenai hari pembangkitan setalah mati dan manusia dikembalikan kepada Allah serta semua dari perkara akhirat yang lain tanpa ada rasa keraguan sedikit pun. mereka yang dimaksud di sini ialah bukan orang-orang yang menyatakan beriman dengan apa yang diturunkan sebelumnya, tetapi mengingkari apa yang dirisalahkan oleh nabi Muhammad.
baca juga: Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 15: Penciptaan Bumi Sebagai Anugerah Allah
Kesimpulan
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa makna iman kepada kitab-kitab Allah dan hari akhir pada surah Al-Baqarah ayat 4 dengan perbandingan antara tafsir Al-Qurthubi dan Fath Al-Qadir ini memiliki kesamaan, meskipun di latar belakangi oleh mazhab yang berbeda. Dari kedua mufassir tersebut sepakat bahwa iman kepada kitab Allah itu mencakup seluruh kitab-kitab suci yang diturunkan oleh Allah. Akan tetapi, pandangan Al-Qurthubi lebih menekankan linguistik dalam penafsiranya.
Sedangkan Al-Syaukani fokus terhadap penerimaan risalah Nabi Muhammad yaitu Al-Qur’an. Sementara dalam keimanan pada hari akhir, kedua mufassir tersebut memandang kaya al-yaqinu sebagai tanpa ada keraguan. Tetapi, Al-Qurthubi lebih intens menyoroti makna dari kata al-akhirah dan ad-dunya, sedangkan Al-Syaukani lebih menekankan gambaran peristiwa ketika hari akhir nanti.
Penulis: Wachyu Ambarwati
Editor : Ahmad AY



