Tradisi Ulama: Budaya Sastra dan Jejak Sejarah dalam Kitab Santri Celeng
Apabila Syaikh Siti Jenar dikenal dalam khazanah sufisme karena sikapnya yang menentang arus utama keagamaan yang dikonstruksi oleh Raden Patah dari Kesultanan Demak Bintara, maka sudah sepatutnya KH. Ahmad Rifai Batang ditempatkan dalam lanskap kesusastraan Islam-Jawa atas resistensinya terhadap hegemoni kolonial VOC.
Dalam hal ini, Abdullah Wong (Abdullah Imam), budayawan Lesbumi PBNU, mengungkapkan bahwa gerbang pesantren adalah sastra, sebuah gagasan yang beliau uraikan dalam Tali Dadung sebagai tafsiran dari kitab Santri Celeng karya Binhad Nurrohmat.
Kitab Santri Celeng merupakan buku yang menghimpun 24 puisi epos melalui kisah perjuangan para kiai yang melawan tentara kolonial Hindia-Belanda hingga perjuangan mendirikan pondok pesantren di nusantara, khususnya kepada KH. Ahmad Rifai sebagai simbolisme dalam judul buku itu sendiri, yakni kisah santri celeng.
Kitab Santri Celeng menyiratkan keterkaitan kisah para Kiai Jawa dengan 24 bab dalam Sirrul Asrar karya Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, sebagaimana angka tersebut juga merepresentasikan jam‘ul huruf min kalimatit tauhid.
Baca juga: Gambaran Masyarakat Agraris pada Masa Nabi Muhammad
Melalui susunan 222 kata, 53 larik, dan 24 halaman, karya ini bukan hanya menghadirkan struktur simbolik, tetapi juga mencerminkan upaya tabarruk, sebuah penghormatan spiritual yang dilakukan Binhad dalam menarasikan perjuangan KH. Ahmad Rifai melalui metafora babi celeng, para tokoh perjuangan kemerdekaan, pedalaman tasawuf, sekaligus merawat kesinambungan tradisi intelektual ulama salaf di Timur Tengah dan Hijaz dalam upaya syarah-mensyarahkan.
Berangkat dari struktur simbolik tersebut, Kitab Santri Celeng tidak sekadar menjadi antologi puisi epos tentang pergolakan eksistensial dan perlawanan massal, tetapi juga berfungsi sebagai arsip sastra yang merekam jejak intelektualisme Islam Nusantara.
Melalui narasi yang menggabungkan sejarah, sufisme, dan budaya pesantren, karya ini menghidupkan kembali tradisi literasi ulama yang telah lama menjadi fondasi transmisi keilmuan di Nusantara.
Puisi-puisi Binhad Nurrohmat merepresentasikan dialektika intertekstual dengan model penulisan sufistik yang menjadikan metafora sebagai medium hermeneutika realitas sosial, serupa dengan corak yang ditemukan dalam karya Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani, hingga para pujangga pesantren kontemporer.
Apabila mengkaji judul kitab ini, nomenklatur santri celeng sendiri pada dasarnya merujuk pada suatu bentuk distorsi semantik yang merepresentasikan diksi peyoratif terhadap seseorang (santri) dengan latar pesantren, yakni terminologi “celeng” secara konvensional dikonotasikan sebagai kenajisan atau degradasi moral.
Alih-alih mengadopsi makna denotatif yang sarat dengan bias peyoratif, Binhad justru melakukan dekonstruksi epistemik atas nomenklatur tersebut dengan mengafirmasi realitas historis dalam wacana perlawanan.
Pemilihan terminologi ini bukan sekadar eksperimentasi linguistik, melainkan strategi semiotik yang mengartikulasikan penghormatan sublimatif terhadap figur KH. Ahmad Rifai. Pada perspektif ini, “kecelengan” yang melekat pada sosoknya bukan sekadar bentuk stigma, melainkan alegori atas resistensi eksistensial yang menolak asimilasi ideologis kolonial maupun formasi hegemonik pemikiran tertentu.
Bahkan, metafora ini mengalami transfigurasi konseptual menjadi simbol keberdayaan intelektual keteguhan prinsip, dan keberanian untuk mendobrak kemapanan struktur sosial.
Di dalam kitab ini pula, terdapat narasi tokoh-tokoh dengan representasi insan kamilnya, sebagaimana kisah Syekh Hasyim Asyari dalam judul Tebuirengnya, Kiai Tamim Bangkalan dengan judul Rejosonya, dan Kiai Wahab Hasbullah dalam kisah Tambakberasnya.
Melalui dua hingga tiga larik yang ringkas ini, kita dapat menilai sejauh mana kekuatan dan kedalaman sajak Binhad, sebab meminjam istilah Paul Valery dengan ungkapan obscurité volontaire (kesamaran yang disengaja), ia berpendapat bahwa puisi atau ungkapan puitika tidak seharusnya menyajikan makna secara eksplisit, tetapi justru mendorong pembaca untuk menafsirkan secara mandiri.
Pada saat yang bersamaan, Afrizal Malna juga mengungkapkan bahwa puisi adalah ruang tertutup yang hanya dapat diakses melalui berbagai kemungkinan tafsir. Menurut pandangannya, puisi merupakan medan pertemuan berbagai realitas yang tidak tersusun secara logis dan harus dibaca dengan pendekatan simbolik serta intertekstual.
Kekuatan yang dimaksud dalam penyampaian ini merujuk pada karakteristik syarah yang disusun oleh Abdullah Wong sebagai penafsir yang secara langsung menguraikan sajak-sajak yang hadir, dengan mempertimbangkan konteks historis yang melingkupinya.
Baca juga: Amalan Menghindari Was-Was Ketika Sholat
Pada pengertian lain, puisi-puisi dalam kitab ini tidak sekompleks atau sesulit itu untuk dipahami atau ditafsirkan maknanya, namun kekuatan yang dimaksudkan di sini terletak pada adanya tafsiran sejarah yang dituliskan oleh para pensyarah, mirip dengan tradisi ulama Timur Tengah dalam berdialektika keilmuan.
Fenomena ini menyajikan khazanah intelektual yang menarik untuk dijadikan bahan kajian dan pembelajaran sastra, khususnya dalam ranah sastra pesantren atau sastra religiusitas dengan pendekatan teknik penafsiran langsung yang menghubungkan larik-larik puisi dengan narasi-narasi keilmuan yang relevan atau sejarah yang telah tercatat.
Santri Celeng
Kompeni benci kiai
dan menghasut santri
jadi babi hutan setelah mati
Tambakberas
Kepada tanah juga kepada air
Melangkah subur dan mengalir

Kumpulan puisi cekak ini terdiri dari dua atau tiga larik dengan pola rima yang serupa. Hal yang menarik jika diperhatikan lebih seksama adalah terlihat adanya tulisan Arab Pegon di bawah sajak, yang merupakan ciri khas dalam tradisi pesantren salaf.
Penulisan Arab Pegon dalam puisi Tambakberas tersebut berbunyi /marang lemah uga marang banyu/ /kang melaku karone opo lemah lan banyu/ /hale subure/ /lan hale mili/.
Hal ini mencerminkan adanya integrasi antara budaya pesantren dan kajian kesusastraan dengan argumentasi bahwa meskipun lirik yang disajikan sangat singkat, hanya terdiri dari dua atau tiga baris, makna yang terkandung dalam puisi tersebut dapat dipandang sebagai ilmu hikmah yang relevan untuk diterapkan dalam pembelajaran di pesantren.
Terlebih lagi, hal ini mengadopsi model pembelajaran nahwu (sintaksis Arab) sebagai pendekatan dalam mendalami teks, yang mencerminkan kedalaman intelektual dalam menyampaikan pesan-pesan religius dan filosofis.
Tidak hanya itu, puisi dalam kitab ini menyajikan syarah atau tafsiran sebagaimana yang ditemukan dalam kitab-kitab turats yang dikaji di kalangan pesantren. Sebagai contoh berikut merupakan tafsiran dari puisi Tambakberas yang ditulis oleh Abdullah Wong.
“Sekitar 1825 datang seorang yang ‘alim juga pendekar sakti, bernama Kiai Abdus Salam. Kiai Abdus Salam atau Shoichah adalah putra kiai Abdul Jabbar bin kiai Abdul Halim atau Pangeran Benowo bin kyai Abdurrohman alias Joko Tingkir.
Kyai Abdus Salam menyerahkan pesantren kepada dua putranya, yaitu Kiai Utsman dan Kiai Said. Dari Kiai Said inilah lahir Kiai Wahab Hasbullah, salah satu tokoh pendiri NU yang begitu cinta (Kepada tanah) tumpah darahnya.
Sebelum mendirikan NU bersama KH Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab mendirikan Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Negeri) pada 1916. Demi menopang pergerakan, Abdul Wahab Hasbullah mendirikan Nahdlatul Tujjar (Kebangkitan Saudagar) yang melakukan penggalangan dana bagi perjuangan pengembangan Islam serta kemerdekaan Indonesia pada 1918.
Organisasi ini dipimpin Hasyim Asy’ari, sedangkan Abdul Wahab Hasbullah menjabat sebagai sekretaris sekaligus bendahara. Kecintaan kepada negeri, kepada tanah (juga kepada air) yang mengalir adalah bukti bahwa keulamaan tak semata sibuk duduk merapal wirid tanpa (melangkah) menjalani laku kehidupan keumatan dan kebangsaan.
Harapan Mbah Wahab adalah dimana pun pesantren berada jangan pernah melupakan pondasi tanah air dan kebangsaan. Kesadaran itu mesti dipupuk dan senantiasa (subur) sehingga terus berkembang (dan) memberikan manfaat seluas-luasnya seperti Mars Yahlal Wathin karya Mbah Wahab yang terus (mengalir) hingga saat ini.
Di tahun 1916, sebelum NU didirikan, mars ini wajib dinyanyikan sebelum sekolah di Nahdlatul Wathon dimulai. Salah satu syair yang paling penting adalah, “Wala takun minal hirman,” atau jangan kalian menjadi bangsa terjajah”
Apabila dicermati, kata yang dicetak tebal tersebut berfungsi sebagai kata kunci dalam puisi induk, bahwa Abdullah Wong melakukan penafsiran dengan merujuk pada pelbagai sumber sejarah dan narasi keislaman yang membentuk serta merangkai kosakata tersebut, sehingga menghasilkan sebuah tafsiran komprehensif yang melingkupi makna puisi ini.
Hal semacam ini mirip dengan praktik yang ditemukan dalam kitab-kitab kuning, kitab turats, atau manuskrip yang sering kali dilengkapi dengan beberapa sumber kitab (rujukan) yang diambil, keterangan tambahan, komentar, hingga tafsiran muallif menggunakan istilah syarah atau hasyiyah.
Hal ini menjadi bagian dari kesinambungan ilmu dan tradisi ulama Hijaz, yang bertujuan untuk memperoleh keberkahan dalam karya tulis mereka, mengingat karya tersebut akan dipelajari dan dikaji oleh para murid atau santri yang pada gilirannya akan mengkaji dan mendalami kitab tersebut sebagai bagian dari proses transmisi ilmu.
kitab ini tidak hanya menceritakan sejarah para tokoh pahlawan pesantren atau keislaman, melainkan ada juga seperti penguatan nilai-nilai tasawuf di dalamnya seperti dalam judul puisinya, yakni mulai dari wali, kitab kuning, sowan, ziarah, tahajud, tirakat, fikih,tasawuf, akidah, tawasul, sanad, berkah, ilmu, wahyu, dan beberapa puisi lainnya yang apabila dikumpulkan berjumlah 24 judul.
Abdullah Wong dalam kitab ini menempatkan bahwa puisi termasuk dari bagian integral dalam berfilsafat, sehingga retorika dan puisi adalah bagian dari seni logika. Menurut al farabi, puisi menghasilkan sikap takhyil, yakni pembangkitan gambaran imajinatif atas satu objek.
Sedangkan untuk retorika disebut sebagai istilah yang bermakna bahwa diterimanya secara luas pada penglihatan pertama, sama hal nya seperti apa yang Abdullah Wong tulis dalam tafsiran ini sehingga menghasilkan kesan mendalam yang persuasif sekaligus reflektif.
Ketika alam semesta secara universal tampak begitu sederhana dalam segala kompleksitas partikularnya, sastra justru berada dalam kerumitan tersebut. Tidak dapat disangkal, kajian sastra merupakan salah satu kajian yang paling kompleks karena mengandung probabilitas makna, tujuan yang sangat beragam, dan tak terduga.
Sastra tidak hanya menyembunyikan kedalaman makna, tetapi juga menyisakan berbagai kemungkinan pertanyaan dan teka-teki. Sastra seringkali digunakan untuk menyembunyikan sekaligus menampilkan makna secara bersamaan.
Ketika sastra berhubungan dengan dimensi kedalaman makna yang melibatkan aspek lahir dan batin, maka sastra tidak dapat dipisahkan dari santri. Sebab, santri adalah individu yang tidak hanya mengasah akal dan nalar, tetapi juga mengembangkan akhlak dan hati nurani.
Sastra yang dimaksud oleh Abdullah Wong dari Binhad dalam persoalaan ini adalah sastra sakral, yaitu sastra yang berakar dari pancaran tauhid. Ia bukan sekadar hasil keterampilan merangkai kata secara estetis, apalagi sekadar produk imajinasi tanpa landasan spiritual.
Sebagaimana Al-Qur’an yang menginspirasi lahirnya berbagai disiplin ilmu sekaligus memperkokoh pengetahuan yang telah ada, sastra pun berfungsi dalam koridor yang serupa. Sebagai suatu tradisi, sastra telah eksis sebelum turunnya Al-Qur’an.
Namun dengan kehadiran wahyu tersebut, sastra justru mencapai puncak kefasihan estetikanya. Berbagai manifestasinya, sastra merupakan medium wasilah yang memanifestasikan imajinasi dalam bentuk yang sublim.
Senada dengan konsepsi di atas, keselarasan antara santri dan sastra terletak pada pemaknaan istilah itu sendiri, yakni sashtra yang secara etimologis merujuk pada individu yang mendalami kitab suci serta teks-teks keilmuan yang memiliki kedalaman spiritual.
Maka, keterkaitan antara santri dan sastra bukan sekadar relasi historis atau kebiasaan tekstual, melainkan suatu simbiosis epistemologis yang telah mengakar dalam tradisi keilmuan Islam. Ihwal pesantren, puisi, hikayat, serta prosa keislaman lainnya berfungsi sebagai medium reflektif yang menautkan dimensi spiritual dengan aspek rasionalitas.
Oleh karenanya, sastra dalam tradisi santri tidak pernah terlepas dari nilai-nilai transendental yang berorientasi pada pencarian makna hakiki.
Keberadaan sastra sakral sebagaimana kitab Santri Celeng dalam ranah keilmuan pesantren ini menunjukkan bahwa sastra tidak hanya berperan sebagai sarana komunikasi estetis, tetapi juga sebagai instrumen pedagogis yang membentuk karakter, mengasah daya kritis, serta memperkaya wawasan keilmuan.
Berdasarkan paradigma ini, sastra bukan sekadar permainan kata, melainkan sebuah disiplin yang berkelindan dengan ilmu-ilmu alat, seperti nahwu, balaghah, dan mantiq, yang menjadi pilar utama dalam memahami teks-teks suci.
Judul Buku : Santri Celeng
Penulis : Binhad Nurrohmat
Tahun Terbit : 2021
Penerbit : Boengaketjil, Jombang
Tebal buku : 73
ISBN : 9786236511978
Penulis : Muhammad Ariby Zahron
Editor : Fani Azfar



