Belajar Tawakal dari Idol K-pop
Teman-teman, saat mendengar kata tawakal, apa yang pertama kali muncul dalam pikiran kalian? Pasrah? Diam? Atau menunggu keajaiban tanpa melakukan sedikit pun usaha? Sayangnya, tawakal tidak sesederhana itu. Dalam Islam, tawakal justru lahir dari proses panjang bernama ikhtiar.
Menariknya, pelajaran tentang tawakal ini bisa kita temukan dari tempat yang tidak kita duga sebelumnya. Dari perjalanan para idol K-pop misalnya.
Di balik penampilan panggung yang meriah, gemuruh sorakan fans, dan musik yang menggaung di berbagai tempat, ada proses panjang yang jarang diperhatikan. Bertahun-tahun masa pelatihan, jam tidur yang berantakan, tekanan mental, hingga ketidakpastian akan masa depan mereka. Sebab persaingan yang begitu ketat, tidak ada yang bisa menjamin bahwa kerja keras mereka akan berujung dengan debut apalagi sebuah kesuksesan.
Meskipun begitu, mereka tetap berlatih, tetap mengulang proses yang sama setiap hari.
Baca juga: Ikhtiar Batin Penangkal Virus Corona
Usaha yang Tidak Selalu Menjanjikan Hasil
Banyak trainee (program latihan) yang telah menghabiskan waktu remaja mereka dalam ruang yang sempit. Mereka merelakan masa bermainnya demi mengejar impian yang belum pasti bisa mereka dapatkan. Berkali-kali mereka mengulang gerakan yang sama, menerima kritik keras, bahkan menyaksikan teman-temannya yang gugur atau mengundurkan diri satu per satu. Ironisnya, semakin lama mereka bertahan, semakin besar pula kemungkinan mereka kecewa.
Situasi seperti ini dekat dengan kehidupan kita. Kita belajar dengan bersungguh-sungguh, berdoa siang dan malam, namun hasilnya tidak selalu seperti apa yang kita harapkan. Pada posisi ini manusia diuji, tentang dia yang akan berhenti dan menyerah atau terus bertahan dan bersabar.
Dalam Islam, ikhtiar bukan soal hasil, melainkan kesungguhan. Sedangkan untuk hasilnya, kita percayakan saja sepenuhnya kepada Allah. Percaya saja skenario Allah jauh lebih baik dari apa yang kita inginkan.
“Barang siapa yang bertawakal kepada Allah, ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.” (Q.S Al-Anfal: 49)
Ketiga Gagal Tidak Lagi Menjadi Akhir
Tidak sedikit idol yang debut dari agensi kecil yang minim perhatian, bahkan nyaris bubar karena kekurangan dana. Ada yang albumnya tidak laku, mendapat hujatan publik, juga serangan kebencian yang bisa datang kapan saja. Namun, alih-alih untuk menyerah, mereka lebih memilih bertahan. Mereka kembali mencoba memperbaiki diri, mencoba lagi, dan menerima kenyataan bahwa tidak semua bisa dikendalikan.
Di sinilah makna sebenarnya dari tawakal itu muncul. Tawakal bukan berarti sakit saat gagal, melainkan tidak membiarkan kegagalan mencabut harapan dan kepercayaan terhadap takdir Allah.
Tawakal ada untuk mengajarkan kita akan masih adanya harapan untuk terus melangkah, meski arah hidup sedang tidak jelas ujungnya.
Baca juga: Tawakal: Antara Usaha dan Keyakinan
Menyerahkan Hasil dan Menenangkan Diri
Banyak idol yang mengaku bahwa hidup mereka penuh dengan kecemasan. Merasa takut mereka tidak cukup baik, takut ditinggalkan, takut mengecewakan, takut tidak memiliki masa depan. Namun, perlahan mereka belajar untuk fokus terhadap hal yang bisa mereka lakukan hari ini. Bukan tentang ketakutan akan hari esok.
Bukankah kita sering melupakan satu hal sederhana itu?
Saat kita sibuk mengkhawatirkan hasil, hati menjadi lelah. Padahal Allah tidak pernah meminta kita untuk memastikan keberhasilan. Kita hanya perlu berusaha semampu kita tanpa perlu khawatir dengan hasil yang diperoleh nantinya.
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. At-Talaq: 3)
Ambil Pelajarannya, Bukan Menjadikannya Teladan Utama
Islam membebaskan kita untuk mengambil pembelajaran dari mana saja, termasuk dari para idol K-pop. Namun, kehadiran mereka bukan berarti menggantikan peran teladan utama kita Rasulullah SAW. Kita sering mendengarkan kisah perjalanan Rasulullah SAW. dalam berdakwah yang penuh rintangan dan ujian. Tapi, apa salahnya jika kita mengambil contoh dari apa yang bisa kita lihat sekarang?
Pada akhirnya, hidup tidak jauh dari ruang latihan yang sunyi. Kita berusaha, jatuh, bangkit dan mencoba lagi, tanpa pernah tahu bagaimana hasil akhir yang kita dapatkan nanti.
Di situlah tawakal bekerja. Ketika usaha sudah maksimal, doa sudah dipanjatkan, dan hati belajar untuk percaya bahwa Allah tidak akan pernah salah dalam memberikan akhir cerita bagi para hambanya.
Karena sejatinya, yang paling menenangkan bukanlah kepastian yang jelas, melainkan keyakinan bahwa kita tidak berjalan sendirian.
Oleh: Luk Luk I.N.
Editor: Musa Al Kahfi



