Dialektika antara Keimanan dan Kesabaran dalam Berpuasa ala Imam Al-Ghozali

![]()
Pada artikel kali ini, kita akan membahas mengenai puasa. Pasti setiap kaum muslim sudah tidak asing lagi. Pertama, puasa adalah ibadah yang istimewa, karena puasa adalah satu-satunya ibadah yang hanya dapat diverifikasi oleh individu yang melakukan puasa itu sendiri. Bisa saja seseorang mengaku puasa, tapi ketika berada di tempat sepi, orang tersebut makan dan minum sepuasnya. Hal itu memang tidak ada yang tahu, hanya Allah dan diri sendiri yang dapat mengetahuinya. Oleh karena itulah, puasa disebut sebagai ibadah yang subjektif, karena orang lain tidak dapat menilai ibadah puasa seseorang.
Kedua, puasa adalah ibadah yang secara terang-terangan menantang Setan selaku penggoda manusia melalui syahwat dan sesuatu yang ada di dalam diri manusia sendiri yaitu hawa nafsu.
Kata Iman Al-Ghozali, sebagaimana yang telah dinukilkan dari atsar beliau yaitu,
بما دفع عنهم كيد الشيطان وفنه
Berdasarkan redaksi di atas, berpuasa dapat menolak sandupaya[1] dan rikodoyone[2] Setan. Sehingga, dimensi bathiniah (salah satunya kesabaran) sangat perlu diterapkan. Ketika membahas kesabaran dalam puasa, Imam Al Ghozali menyebutkan posisi ibadah puasa menduduki seperempat dari bagian iman. Hal itu merupakan representasi dari 2 hadis yakni الصوم نصف الصبر yaitu puasa adalah setengah dari sabar, serta hadis الصبر نصف الإيمان yaitu sabar adalah setengah dari iman. Artinya, seseorang yang tidak memiliki kesabaran dalam menjalankan ibadah puasa, maka dia telah kehilangan separuh dari keimanannya.
Kedua hadis tersebut tidak hanya menunjukkan bagian puasa dari segi iman, tetapi juga mengkorelasikan antara puasa, sabar, dan iman. Sabar adalah inti dari puasa itu sendiri. Sabar merupakan salah satu ciri orang yang beriman, serta orang yang mau bersabar adalah orang yang mau berpuasa. Di antara jalan untuk menemukan kesabaran adalah dengan berpuasa. Sabar yang dimaksud adalah sabar dalam mengamalkan sesuatu sesuai keyakinan dan sabar dalam menahan semua larangan dhohiriah yang dapat membatalkan puasa (dimensi fiqih) dan larangan bathiniah yang dapat mengurangi keutamaan puasa (dimensi batin).
Kunci melakukan semua ibadah
Seseorang yang telah berpuasa dengan menahan makan, minum, dan menjauhi segala hal yang dapat membatalkan puasa, sejatinya seseorang tersebut telah dianggap sah dalam menjalankan ibadah puasa (puasa dhohir). Namun, hal tersebut tidaklah cukup untuk menunaikan ibadah puasa secara sempurna, sehingga kita juga harus memperhatikan dimensi batinnya (puasa batin). Salah satu dimensi batin dalam berpuasa adalah sabar. Misalnya, ada teman yang memaki-maki kita dan sejatinya kita bisa membalasnya, akan tetapi kita memilih untuk tidak membalasnya. Orang seperti itu adalah orang yang sabar. Jadi, sabar merupakan kunci dalam melakukan semua ibadah.
Semoga kita senantiasa dapat bersabar atas segala hal, sehingga yang tersisa dalam diri kita hanyalah kecintaan terhadap Allah SWT. Mengapa saya menggunakan istilah cinta? Karena orang yang cinta selalu melakukan apa yang diperintahkan yang dicintainya (Allah SWT.) dan selalu berusaha untuk tidak membuat murka yang dicintainya (Allah SWT.), sehingga orang yang cinta akan selalu mengamalkan amar ma’ruf nahi munkar.
(1) Rekayasa/halangan
(2) Mengerahkan segala upaya
Penulis : Eliza Fitri Kamaliya
Editor. : Fani Azfar



