Kalam Hikmah

Maukah Kamu Berjanji Padaku untuk Berhenti Berbohong?

 

هَلْ تُعَاهِدُنِى عَلَى تَرْكِ الكَذِبِ

تَقَدَّمَ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  رَجُوْلٌ يُرِيْدُالِإِسْلاَمَ فَبَعْدَ أَنْ نَطَقَ بِالشَّهَادَتَيْنِ قَالَ “إِنِّى أَقْتَرِفُ مِنَ الذُّنُوْبِ يَارَسُول الله مَا لاَ أَسْتَطِيْعُ تَرْكَهُ ” فَقَالَ يَارَسُوْلُ الله “هَلْ تُعَاهِدُوْنِى عَلَى تَرْكِ الكَذِبِ ؟ “قَالَ “نَعَمْ” ثُمَّ عَاهَدَهُ عَلَى ذَلِكَ وَانْصَرَفَ وَهُوَ يَقُوْلُ فِى نَفْسِهِ “مَاأهْوَنَ مَاطَلَبَ مِنِّى هَذَا النَّبِيُّ الكَرِيْمُ”

 فَلَمَّا أَرَادَالرَّجُلُ بَعْدَ ذَلِكَ أَنْ يَسْرِقَ قَالَ فِى نَفْسِهِ “إِنْ سَرَقْتُ وَسأَلَنِى الرَّسُوْلُ فَمَاذَا يَكُوْنُ جَوَابِى إِنْ أَجَبْتُ بِلاَ فقَدْ كَذَبْتُ وَقَدْ عَاهَدْتُهُ عَلَى تَرْكِ الكَذِبِ إِذَنْ فَخَيْرٌ لِى أَنْ أَبْتَعِدَ عَنِ السّرِقَةِ ” فَابْتَعَدَ عَنْهَا وَصَارَ بَعْدَ ذَلِكَ يَتَذَكّرُ عَهْدَهُ كُلَّمَا حَدَّثَتْهُ نَفْسُهُ بِارْتِكَابِ إِثْمٍ فَيَبْتَعِدُ عَنْهُ حَتَّى صَلُحَ حَالُهُ وَصَارَ مِنْ خِيَارِ النّاسِ العَلَمِيْنَ عَلَى نُصْرَةِ الدِّيْنِ والتَّمَسُّكِ بِهِ وَبِفَضَائِلِهِ.

Maukah Kamu Berjanji Padaku untuk Berhenti Berbohong?

    Ada seorang laki-laki menghadap Rasulullah untuk menyatakan bahwa dirinya ingin masuk Islam. Setelah ia mengucapkan syahadat, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku menumpuk banyak dosa yang aku sendiri tidak mampu meninggalkannya.”

   Kemudian Rasulullah pun berkata, “Apakah kamu berjanji padaku untuk meninggalkan dosa tersebut?” Dia menjawab, “iya.” Kemudian ia berjanji kepada Rasulullah dan pulang. Selanjutnya, ia berkata pada dirinya sendiri, “Alangkah mudahnya apa yang diminta Rasulullah dariku.”

    Selepas itu, ketika laki-laki tadi ingin mencuri, jiwanya pun terbesit, “Jika aku mencuri kemudian Rasulullah menanyaiku, lantas apa jawabanku? Jika aku menjawab tidak, maka aku berbohong. Padahal aku sudah berjanji untuk berhenti berbohong, jadi lebih baik aku jauhi saja mencuri.” Akhirnya, laki-laki itu meninggalkan perbuatan mencuri. Setelah kejadian tersebut, dia selalu ingat akan janjinya.

    Setiap dia akan melakukan kejahatan, jiwanya selalu mengingatkan bahwa perkara itu dosa, maka dia akan menjauhi perbuatan dosa tersebutbegitu seterusnya hingga perilakunyapun ter upgrade dengan sendirinya menjadi lebih baik. Akhirnya, dia menjadi individu yang baik atas pertolongan agama, serta kepatuhan atas perintah Rasulullah yang telah dijalaninya.

 

Oleh    : Akiya Qidam Hayya

Editor  : Fani Azfar

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *