ArtikelKalam Hikmah

Waktu adalah Pedang : Nikmat atau Adzab?

Beberapa orang memiliki cukup waktu untuk sekedar melampaui aktivitas selayaknya rutinitas. Mereka sadar, banyak waktu yang terbuang akan berakibat penyesalan di kemudian hari. Beberapa yang lainnya justru melewatinya begitu saja, seolah berkeyakinan masih ada hari esok yang bisa terulang. Ini bukan semata untuk men-judge atau menilai seseorang dari sisi kepemilikan waktu dan beban aktivitas. Ini adalah tentang pentingnya waktu dalam pemanfaatannya di kehidupan manusia.

Penulis mencoba merangkum dalam buku karya Abul Qa’qa’ Muhammad bin Shalih dengan judul “125 kiat salaf menjadikan waktu produktif”. Berikut beberapa hal yang penulis rangkum kaitannya dengan keseharian kita khususnya kaum remaja, tiga diantaranya adalah sebagai berikut:

Mendidik Diri dengan Cita-Cita Tinggi dan Bergantung kepada Perkara-Perkara Mulia

Di antara perkara-perkara mulia adalah memanfaatkan waktu untuk amal-amal kebajikan. Jika kita melihat pada nash-nash Al-Qur’an, banyak didapati isi kandungan yang mengajak berlomba dan bersaing dalam memperbanyak amal kebaikan. Seperti contoh firman Allah Swt. di Q.S Al-Anbiya ayat 90 :

فَاسْتَجَبْنَا لَهٗۖ وَوَهَبْنَا لَهٗ يَحْيٰى وَاَصْلَحْنَا لَهٗ زَوْجَهٗۗ اِنَّهُمْ كَانُوْا يُسٰرِعُوْنَ فِى الْخَيْرٰتِ وَيَدْعُوْنَنَا رَغَبًا وَّرَهَبًاۗ وَكَانُوْا لَنَا خٰشِعِيْنَ ۝٩

“Maka, Kami mengabulkan (doa)-nya, menganugerahkan Yahya kepadanya, dan menjadikan istrinya (dapat mengandung). Sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.”

baca juga: Kyai Marzuqi: NU Tulen, Pegiat Ajaran Aswaja

Mengenai mendidik diri dengan cita-cita tinggi, seorang salafus shalih pernah berkata kepada anaknya, “malas dalam perkara-perkara utama adalah seburuk-buruk teman. Gemar santai menyebabkan penyesalan sebagaimana ia menyuburkan orang untuk senang pada kelezatan. Maka perhatikanlah, bersusah-susahlah dahulu untuk dirimu, sesalilah kelalaian masa lalumu, bersungguh-sungguhlah menyusul orang-orang sempurna selama masih ada waktu.

Menjauhi Banyak Tidur

Tidur bisa menjadi nikmat, apabila dengan kadar yang proporsional. Ia juga bisa menjadi adzab, apabila melebihi porsi yang semestinya. Di antara perkara penting terkait dengan menjaga dan memanfaatkan waktu adalah jangan banyak tidur. Sebenarnya, bagaimana seorang muslim layak tidur di dunia ini sementara dia mengetahui dengan yakin bahwa tidur panjang di alam kubur terbentang di pelupuk matanya? Mengapa tidak bersiap-siap untuk menyambut tidur panjang itu? Apabila seseorang banyak tidur di dunia ini, sementara tidur panjang di alam kubur di depan matanya, lalu kapan dia beramal? Kapan dia menyiapkan amal shalih sebagai bekal berguna bagi dirinya pada waktu berdiri di hadapan Allah Ta’ala?

Seorang hamba shalih Hammam bin Al-Harits rahimahullah berdoa, “Ya Allah, cukupkanlah diriku dengan tidur yang sedikit dan limpahkanlah kepadaku bangun malam dalam ketaatan kepada-Mu.” (Sifatush Shafwah, 3/22).

baca juga: Humanitarian Islam Selaras dengan Norma Kewarganegaraan

Zuhud Dalam Perkara Dunia, Menyadari Kehinaan dan Kefanaannya

Allah Swt. telah memperingatkan kita dari fitnah dan godaan dunia, “Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar. Maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah sekali-kali setan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah.” (Q.S. Fathir : 5)

Apabila seseorang menyadari betapa murahnya dunia yang fana ini, mengetahui bahwa ia tidaklah kekal dan bahwasanya sebanyak apapun ambisi, keinginan dan kenikmatan yang dia dapatkan di dunia ini, maka akhir dari semua itu hanyalah kefanaan dan kebinasaan.

Apabila dia menyadari semua itu, niscaya dia akan bersikap zuhud di alam dunia yang fana ini. Ambisinya selalu berkait dengan akhirat. Kesibukan utamanya hanyalah menyiapkan bekal untuk akhirat. Maka, jika sesekali dunia telah mengalihkan kefokusannya, lantas dia segera bergegas untuk kembali mengingat-Nya. Wallahu A’lam..

Penulis: Zahrotul Imro’ah

Editor  : Ahmad AY

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *