ArtikelEssayOpiniSastra

Menggeliatkan Kesalehan Beragama dalam Masyarakat Indonesia

“Tidak penting apapun agama atau sukumu…Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah bertanya apa agamamu…” (Gus Dur)

Kata-kata Gus Dur ini, menginspirasi saya untuk menulis dan merespon tentang isu-isu kekerasan dan sikap intoleransi antar umat beragama. Banyak fenomena kekerasan dan penindasan yang mengatasnamakan agama di negeri ini, seperti bentrok antara kaum sunni dan syiah di Madura, pembakaran masjid di Tolikara, pembakaran geraja di Aceh, bahkan fenomena 7 bulan yang lalu tentang pembakaran rumah warga eks-Gafatar di Pontianak. Kejadian ini menunjukkan sangat lemahnya sikap toleransi dan penghormatan terhadap perbedaan. Bukankah masyarakat kita bersifat pluralis?, dalam artian terdapat ragam suku, budaya, ras, bahkan agama di dalamnya. Lalu, mengapa kita bersikap intoleransi kepada mereka?, sehingga mengakibatkan fenomena yang sangat memalukan ini?

Isu-isu di atas, merupakan buah dari sentimen yang berlebihan antar kaum beragama. Sehingga, realitas menyajikan fenomena-fenomena yang justru berlawanan dengan hakikat agama.

baca juga : santri dan kentut

Pada hakikatnya, agama merupakan sumber kearifan, cinta, dan perdamaian antara manusia. Di dalamnya terkandung ajaran-ajaran yang memuliakan manusia. Oleh karena itu, tidak ada satu agamapun yang mengajarkan pada pemeluknya untuk bersikap apatis, intoleransi, apalagi bersikap radikalis terhadap kaum lainnya.

Dalam menyikapi berbagai fenomena di atas, perlu kiranya kita tumbuhkan kesalehan beragama di negeri ini. Menurut Abdul Munir Mulkhan Kesalehan merupakan suatu tindakan yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain, serta dilakukan atas kesadaran dan ketundukan pada ajaran tuhan. Tindakan saleh merupakan hasil atau produk dari iman seseorang yang dilakukan secara sadar. Jadi, sikap saleh dalam beragama merupakan sikap seseorang yang termanifestasikan secara baik dan harmonis dalam kehiduapan bergama, sehingga dapat terjalin sikap toleransi antar umat beragama.

Dalam kehidupan beragama, ada 2 kesalehan yaitu: 1). kesalehan individual, 2). kesalehan sosial. Kesalehan individual atau sering kita sebut dengan kesalehan ritual merupakan kesalehan yang mementingkan aspek ritual ataupun aspek ibadah seorang hamba kepadanya tuhannya. Misalnya, melaksanakan ibadah shalat, puasa, dan haji dalam agama islam, ibadah hari minggu di gereja bagi kaum kristiani dan ibadah-ibadah lainnya dalam agama hindu, budha, maupun khong hu chu. Singkat kata, kesalehan ini hanya mengutamakan kepentingannya sendiri, tanpa menghiraukan kepekaan sosial dalam bermasyarakat.

Sedangkan kesalehan sosial merupakan sikap yang mencerminkan kebaikan dan keharmonisan terhadap semua makhluk ciptaan tuhan, tanpa melihat status sosial, agama, dan latar belakang kehidupannya. Seperti, bersikap santun pada orang lain, suka menolong, peka terhadap permalasahan sosial, menghormati dan menghargai hak sesama, dan lain sebagainya. Kesalehan ini tidak hanya berdampak positif kepada dirinya sendiri, tapi berdampak luas kepada orang lain dan masyarakat. Sehingga mereka merasa nyaman, damai, dan tentram ketika berinteraksi sosial dengan kita.

Keriteria kesalehan seseorang itu tidak hanya diukur dari sisi ibadah saja, melainkan juga dilihat dari seberapa besar kontribusi sosial di masyarakat. Hal ini sesuai dengan hadist Nabi Muhammad SAW., yang dikisahkan bahwa suatu saat rosululloh mendengar cerita dari sahabat tentang seorang yang rajin sahalat di malam hari dan puasa di siang hari, tetapi lidahnya sering menyakiti tetangganya. Kemudian rosululloh bersabda kepada sahabatnya, bahwa hamba allah yang seperti ini akan menjadi penghuni neraka. Secara tersirat, hadist ini menjelaskan bahwa ibadah ritual saja belum cukup. Harus dibarengi dengan output atau nilai-nilai prilaku sosial.

baca juga : Tata cara mandi junub

Fakta dilapangan, masih kita jumpai ketimpangan antara kesalehan individual dan kesalehan sosial dalam masyarakat kita. Banyak orang yang saleh secara individual, tapi lemah dalam sosial. Ataupun sebaliknya, saleh secara sosial, akan tetapi lemah secara individual. Oleh karena itu, hemat saya 2 kesalehan ini harus kita proporsionalkan secara seimbang dalam kehidupan ini.

Ada 3 cara untuk menumbuhkan 2 kesalehan ini dalam masyarakat, yaitu :

  1.     Memahamkan agama secara “kaffah” kepada masyarakat

Banyak masyarakat Indonesia yang beragama secara KTP saja. Dalam artian mereka memeluk agama hanya sebatas identitas di KTP, tanpa adanya pemahaman tentang ajaran agama yang dianutnya. Sehingga hal ini menimbulkan kebutaan terhadap mereka akan makna dan hakikat agama yang sebenarnya. Hal inilah yang menjadi PR kita bersama, utamanya para kyai, pendeta, romo dan kaum agamawan lainnya untuk memberikan pemahaman secara kaffah (sempurna) tentang ajaran agama kepada masyarakat umum sesuai dengan agamanya masing-masing. Dengan harapan, masyarakat ini akan bersikap lebih religius lagi dan menerapkan nilai-nilai ajaran agama dalam sendi kehidupannya. Karena menurut Knitter pada hakikatnya tujuan agama adalah agar manusia mampu menjalin relasi harmonis dengan tuhan dan ciptaan-Nya, dan menjadikan agama sebagai sumber etika dan moral secara universal.

  1. Berdialog antar umat beragama

Jarangnya komunikasi antar umat beragama membuat sentimen berlebihan. Sehingga hal ini menyebab hubungan kurang harmonis antar kaum beragama. Isu-isu seperti menuduh sesat ajaran agama lain, enggan menolong terhadap kaum beda agama, sikap acuh tak acuh antar kaum beragama sampai pembakaran tempat ibadah telah mewarnai kehidupan sosial masyarakat ini. Jika tidak dicegah, hal ini akan menimbulkan konflik yang menyebabkan tindakan kekerasan antara kaum beragama. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi adanya konflik tersebut perlu dikembangkan upaya dialog antar umat beragama, baik dalam tataran sosial maupun teologi. Dialog ini sangat efektif untuk menanggulangi konflik tersebut. Selain itu, upaya ini dijadikan sebagai sarana untuk mencapai kerukunan antar umat beragama.

  1. Melakukan bhakti sosial bersama antar umat beragama

Setelah terjadi dialog yang baik antar kaum beragama, diharapkan adanya kegiatan sosial yang melibatkan semua agama di negeri ini. Hal ini merupakan wujud solidaritas untuk menanamkan kerukunan dan sikap toleransi antar kaum beragama. Selain itu, kegiatan ini juga meminimalisir rasa benci antar kaum agama. Karena fakta di lapangan membuktikan bahwa ketika kaum kristen melakukan bahkti sosial di daerah terpencil atau di daerah pedesaan, maka agama lain, mengeklaim bahwa hal itu merupakan kristenisasi. Oleh karena itu, menumbuhkan kerukunan antar umat beragama tidak hanya sekedar melakukan ceramah atau dialog keagamaan saja, melainkan harus bisa menyentuh ketataran prilaku sosial, seperti melaksanakan kerja bahakti sosial dan lain sebagainya. Sehingga hal ini akan meminimalisir sikap-sikap sentimen kaum beragama terhadap kaum yang lain.

baca juga : Multikulturalisme Pesantren

Ketiga hal ini merupakan cara untuk membangun kesalehan beragama. Sudah saatnya “kesalehan beragama” ini kita bangun sejak dini dalam masyarakat Indonesia. Supaya terjadi tatanan kehidupan sosial yang guyub, rukun, aman, dan tentram, tanpa ada kekerasan serta penindasan yang mengatasnamakan agama. Semoga kita semua sebagai generasi muda bangsa ini bisa melakukan kesalehan beragama dalam masyarakat kita masing-masing.

Wallahu’alam bis showab…

*Penulis adalah wartawan Media Santri NU (MSN) dan mediasantrinu.com yang dulu saat menjadi mahasiswa aktif di lembaga riset dan kepenulissan, serta pernah menjadi wartawan GEMA UIN Malang

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *