Batsul Masail

Tasyahudnya Orang yang Tidak Memiliki Jari Telunjuk

Penulis : A. Khidir Adib / Editor : F. Azfar

Ketika musalli (Orang yang sholat) tidak memiliki jari, apakah boleh diganti dengan jari lain demi mendapatkan kesunnahan mengangkat jari telunjuk ketika tasyahud?

Tidak bisa, sebab ia telah kehilangan taklif untuk melakukan kesunnahan. Jadi, jari yang lain itu tidak bisa menggantikan jari telunjuk. (Ibnu Qasim Al-Ubbadi, Hasyiyah As-syirwani wa al-ubbadi, Dar al-hadis, 2/207).

Baca juga : Hukum Berdiri saat Mahallul Qiyam di Tengah Peringatan Maulid

قول : (لفوات سنة وضعها السابق) قد يؤخذ منه أنه لو قطعت مسبحته لا يشير بغيرها من بقية أصابع اليمنى لفوات سنة وضع البقية المعروفة.

Dihukumi Makruh

Bahkan makruh hukumnya jika musalli tersebut berisyarah menggunakan jari telunjuk tangan kiri ketika tasyahud,meskipun ia tidak memiliki tangan kanan. (Ibnu Hajar Al-haitami, Tuhfatul Muhtaj Fi Syarh Al-minhaj, DKI, 1/207)

وَتُكْرَهُ الْإِشَارَةُ بِسَبَّابَةِ الْيَسَارِ وَإِنْ قُطِعَتْ يُمْنَاهُ لِفَوَاتِ سُنَّةِ وَضْعِهَا السَّابِقِ وَمِنْهُ يُؤْخَذُ أَنَّهُ لَا يُسَنُّ رَفْعُ غَيْرِ السَّبَّابَةِ لَوْ فُقِدَتْ لِفَوَاتِ سُنَّةِ قَبْضِهَا السَّابِقِ وَيَظْهَرُ فِيمَا لَوْ وَضَعَ الْيُمْنَى عَلَى غَيْرِ الرُّكْبَةِ أَنْ يُشِيرَ بِسَبَّابَتِهَا حِينَئِذٍ لِمَا هُوَ وَاضِحٌ أَنَّ كُلًّا مِنْ الْوَضْعِ عَلَى الْفَخِذِ وَالرَّفْعِ وَغَيْرِهِمَا مِمَّا ذَكَرَ سُنَّةٌ مُسْتَقِلَّةٌ.

Jadi, musalli yang tidak memiliki jari telunjuk tidak bisa melakukan kesunnahan isyarah dengan mengangkat tangan ketika tasyahud. Alasan mengapa yang diangkat itu jari telunjuk tangan kanan, dikarenakan jari telunjuk mempunyai urat atau saraf yang terhubung dengan hati.

Hal itu berbeda dengan jari tengah, dikarenakan saraf dari jari tengah itu terhubung dengan dzakar (Alat vital laki-laki), serta falsafah tersebut untuk isyarat tauhid (mengesakan Allah). (Syekh Al-baijuri, Hasyiyah Al-baijuri, 1/330).

وخصت المسبحة بذلك لأن فيها عرقاً متصلا بالقلب بخلاف الوسطى فإن لها عرقاً متصلا بالذكر وبهذا يحصل الغيظ عند الإشارة بها, وينوي الإشارة بالمسبحة بالتوحيد فيجمع فيه بين قلبه ولسانه وجوارحه.

Adapun waktu mengangkat tangan saat tasyahud adalah ketika hamzahnya lafadz Illa Allah. Berikut tendensinya,

وسن رفعها أي المسبحة مع إمالتها قليلا عند همزة إلا الله للاتباع وإدامته أي الرفع فلا يضعها بل تبقى مرفوعة إلى القيام أو  السلام والأفضل قبض الإبهام بجنبها بأن يضع رأس الإبهام عند أسفلها على حرف الراحة كعاقد ثلاثة وخمسين. ولو وضع اليمنى على غير الركبة يشير بسبابتها حينئذ. ولا يسن رفعها خارج الصلاة عند إلا الله وسن نظر إليها أي قصر النظر إلى المسبحة حال رفعها ولو مستورة بنحو كم كما قال شيخنا.

Artinya : “Disunnahkan untuk mengangkat jari telunjuk ketika sampai pada hamzahnya lafadz Illallah, sebab yang demikian itu adalah perilakunya Rasulullah SAW ketika sholat. Jari telunjuknya itu diangkat sampai ia mau berdiri (untuk menuju Rakaat selanjutnya) atau sampai ia Salam (keluar dari sholat). Disunnahkan juga untuk melihat jari telunjuknya ketika posisinya itu telah diangkat, yang demikian itu masih sunnah meskipun jari telunjuk yang diangkat itu tertutup oleh lengan baju.” (Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari, Fathal mu’in, Dar Ibnu Hazm, h.122).

Hukum Menggerak-gerakkan Telunjuk

Pada masalah menggerak-gerakkan telunjuk ketika tasyahud, para Fuqaha’ berbeda pendapat. Menurut Imam Al-Baihaqi yang demikian itu adalah makruh,

قوله (ولا يحركها) أي لا يسنّ تحريكها, وقيل: يسن وقد ورد كل منهما في خبر. قال البيهقي : والخبران صحيحان, وإنما قدموا الأول على الثاني لأن عدم التحريك أنسب بالصلاة المطلوب فيها الخشوع الذي قد يذهبه التحريك مع احتمال أن يكون المراد بتحريكها في خبره رفعها مرة واحدة على أنه يمكن أنه لبيان الجواز جمعاً بين الخبرين. قوله (فإن حركها كره ولا تبطل صلاته في الأصح) هو المعتمد لأن حركتها خفيفة, وقيل: تبطل صلاته إن حركها ثلاثاً متوالية, وظاهر أن محل الخلاف ما لم تتتحرك الكف وإلا بطلت الصلاة جزماً.

Artinya : “Dalil menggerakkan tangan ketika sholat itu adalah hadis yang sama-sama sahih, namun para ulama’ itu lebih memilih hadis yang mengatakan bahwasanya tidak sunnah menggerakkan telunjuk ketika tasyahhud, sebab menggerakkan telunjuk ketika tasyahhud itu kemungkinan menghilangkan kekhusyukan, padahal dalam sholat itu dituntut untuk khusyuk. Tapi ada yang mengkompromikan antara kedua hadis ini, yakni menggerakkannya itu hanya satu kali (ketika mengangkat telunjuk di huruf hamzahnya lafadz Illallah) kemudian tidak menggerakkannya lagi”. (Syekh Al-baijuri, Hasyiyah Al-baijuri, 1/330).

Baca juga : Wujudkan Rasa Syukur Melalui Peringatan Maulid Nabi

Jadi lebih baik tidak menggerakkan telunjuk, dikarenakan hal itu hukumnya makruh. Salatnya tidak batal sebab yang demikian. Namun ketika ia menggerakkan  dengan telapak tangannya sebanyak 3 kali secara berkesinambungan, maka salatnya batal.

Wallahu a’lam bi as-shawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *