ArtikelDunia IslamUncategorized

Wujudkan Rasa Syukur Melalui Peringatan Maulid Nabi

Penulis: Alfauzun Nisak/Editor: Rifqi Hayyinul Ula

Merayakan ulang tahun saat ini telah menjadi hal yang lumrah, termasuk bagi umat muslim. Orang-orang akan merayakan ulang tahun untuk orang terkasihnya, entah itu dengan membuat acara tumpengan, potong kue, tiup lilin, pemberian hadiah, dan masih banyak lagi.

Bulan Maulud

Kebanyakan orang menyebut Bulan Rabiul Awal adalah bulan Maulud. Bulan lahirnya Nabi kita Rasul Muhammad Saw. Nabi Muhammad lahir tepatnya di kota makkah pada hari senin tanggal 12 Rabiul awal 571 M.  Pada tanggal tersebut, umat muslim di seluruh penjuru dunia memperingati kelahiran Nabi, begitu juga di Indonesia. Di Jawa biasanya menyebutnya dengan muludan yang diperingati dengan membaca diba’, al–barzanji, simtuddhuror dan juga ambengan. Di Yogyakarta, memperingatinya dengan mengadakan grebeg maulud. Sedangkan di Rusia peringatan di isi dengan pembacaan qasidah, pengajian, pameran kaligrafi dan juga peluncuran kitab-kitab yang sudah diterjemahkan ke bahasa Rusia. Masih banyak lagi peringatan maulid di belahan dunia lainnya.

Rasulullah juga merayakan maulid kelahirannya. Kapan? Setiap hari Senin beliau selalu berpuasa. Ada yang bertanya, “Kenapa engkau berpuasa?” Nabi Menjawab, “Karena itu hari kelahiranku.” Dari kejadian tersebut akhirnya para ulama menyepakati dan menganjurkan untuk untuk memperingati maulid Nabi.

Baca juga: Rahasia Kerja Tuhan

Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani bertutur begini, “Tidak layak bagi orang yang berakal bertanya, ‘mengapa kalian memperingati maulid?’ seolah ia bertanya ‘mengapa kalian bergembira dengan adanya Nabi?”.

Gus Baha juga dawuh tentang logika maulid begini kata beliau, “Senang kelahiran anaknya. Padahal prospeknya ndak jelas. Nanti nakal atau nggak seperti bapaknya juga tidak jelas. Itu sudah senang. Loh, ini lahirnya Nabi, disenang-senangkan kok malah di syakali (diragukan). Artinya kelahiran Nabi ini jelas dipastikan memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat. Pasti membawa kebahagiaan dunia-akhirat. Loh, ada orang senang (dengan kelahirannya) kok dipersoalkan, itu pakai logika apa?”

Jika kita saja merayakan milad orang terdekat kita, maka sudah seharusnya kita turut berkontribusi dalam maulid Nabi. Beliau telah merindukan dan mendoakan kita jauh sebelum kita mengenalnya. “Ummati.. Ummati.. “ Beliau mengingat kita bahkan di saat sakaratul maut.

Ungkapan Rasa Syukur

Selain alasan yang di paparkan di atas, anjuran peringatan maulid nabi didasarkan atas tujuan maulid nabi itu sendiri. Salah satu tujuan maulid menurut Habib Lutfi bin Yahya adalah sebagai ungkapan rasa syukur. Sebab adanya Rasulullah, maka kita kenal Allah, agama, dan akhlak.

Dengan kita memperingati maulid, turut ambil peran di dalamnya, maka itu bisa menjadi wujud rasa syukur kita dengan hadirnya Nabi. Semoga dengan usaha kita dalam memperingati maulid Nabi ini, bisa menambah rasa syukur kita kepada Allah atas adanya Nabi dan juga menambah rasa mahabah kita kepada Al-Musthofa. Semoga Nabi Muhammad Saw mengakui kita semuanya sebagai umatnya. Amiin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهٖ وَصَحْبِهٖ اَجْمَعِيْنَ

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *