Wilayah di Tanah Jawa yang Belum Bisa Dimasuki Ajaran Islam Pada Zaman Walisongo
Setiap muslim wajib memperjuangkan agama Islam dengan sekuat tenaga sesuai kadar kemampuan masing-masing. Walisongo yang begitu besar memperjuangkan agama Islam terlebih ditanah jawa, tapi masih ada satu Wilayah di Tanah Jawa yang Belum Bisa Dimasuki Ajaran Islam. Daerah yang belum bisa dimasuki agama Islam pada saat itu adalah daerah di timurnya gunung Lawu yang disebut Ponorogo.
Kenapa walisongo belum bisa memasukkan didikan agama Islam kewilayah Ponorogo? Karena situasi dan kondisi pada saat itu belum saatnya untuk memasukkan ajaran agama Islam. Sifat daerah di Ponorogo “lir kadyo macan” yang diberi nama singo barong dan didukung oleh para warok. Ada warok surogentho. Warok suromenggolo dan seterusnya. Namun meskipun demikian, Para Walisongo selalu berdoa agar salah satu anak turunnya bisa menyebarkan ajaran agama Islam di Ponorogo.
Lantas siapa yang bisa memasukkan didikan agama Islam ke wilayah Ponorogo setelah masanya walisongo? Ternyata adalah adiknya raden patah (sama ibu, tapi beda bapak) yang biasa di panggil Betoro Katong. Betoro Katong itu bermakna “lir kadyo dewo kamanungsan” ampuhnya.
Kisah Betoro Katong
Setelah Betoro Katong masuk wilayah Ponorogo, dan mengajarkan didikan agama Islam, Singo barong tunduk. Para warok sowan ke Betoro Katong dan Tanya ke Betoro Katong “ Eyang.. Bagaimana Eyang bisa menakhlukkan danyang yang memiliki sifat lir kadyo macan singo barong?”.. dan Betoro Katong menjawab pertanyaan itu dengan Sanepo (Peribahasa yang diperagakan). Betoro Katong membuat sanepo sangat hebat hingga bisa menjadi sebuah kesenian yang bernama Reog.
Kesenian Reog itu sebenarnya adalah sanepo. Reog itu berasal dari bahasa arab yaitu Ro’yul Haqq, yang bermakna firasat yang benar. Sesuai dengan sabda nabi Muhammad :
اتقوا فراسة المؤمن فاءنه ينظر بنور الله
“Hati-hatilah kalian dari firasat orang mukmin, karena mereka memandang kalian dengan nur cahaya Allah”
Bagimana Betoro Katong membentuk firasat tersebut? Yaitu menggambar kepala macan yang menandakan singo barong, dan diduduki oleh gagak merak. Dimana gagak meraknya membawa (mentotol) tasbih. Kalau zaman sekarang ada orang buat reog, terus gagak meraknya gak bawa (mentotol) tasbih, berarti orang itu tidak faham lengkap tentang sejarah, dan tentu merubah sejarah.
Apa maknanya singo barong diduduki gagak merak? Gagak dimaknani “gak..gak nak.. aku iki lek bengi ora tau turu… Merak iku Merem wae orak..” tiap malam tidak tidur, tapi memutar tasbih (dzikir malam dan tajahud). Itulah makna gagak merak memegang (mentotol) tasbih.
Baca juga : Panduan Wudhu Terlengkap
Makna tabuhan reog
Warok bertanya lagi ke betoro katong. Betoro katong menjawab untuk menghitung dan apa saja tabuhannya reog itu. Tabuhan reog itu ada 5, ya itu yang bisa menjadi syarat betah melek.
Pertama, Kethuk (seperti terbang tapi kecil) maknanya “wong gelek caket bakal kepethuk” orang yang sering deket dengan allah, bakal dapat rahmat Allah. Dan orang deket dengan sesama manusia bakal ketemu kebaikan manusia) sesuai dengan konsep habluminallah dan habluminnnas.
Kedua, Kenong maknaya “yen wes kepethuk bakal dumunung” (orang kalau sudah deket, bakal mengerti”.
Ketiga, Kempul maknanya “sungkem koyo kumpul dadi siji” ; kumpul dengan Allah melalui ibadah dan ngawulo gusti, sementara dengan manusia bisa di representasikan seperti satu nusa satu bangsa dan satu bahasa.
Keempat, Kendang maknanya “barang yen wes seken yon dang lakonno”.. ( kalau sudah ada kesempatan melakukan sesuatu, segera laksanakan..
Kelima, Gongso maknanya “ndang-ndang ngagungno sing kuoso” (segera mengagungkan yang kuasa)
Dan di sela sela kesenian reog itu ada suling, maknanya “cara iling gusti allah kudu di peksu (paksa)” artinya kalau ibadah , kita harus melawan hawa nafsu agar tidak membuat kita malas beribadah.
*artikel disarikan dari ceramah KH. Husein Ilyas Mojokerto mengenai Wilayah di Tanah Jawa yang Belum Bisa Dimasuki Ajaran Islam
Penulis: M. Fathurrozaq
Editor: Rifqi Hayyinul Ula



