Di Balik Kesetiaan Para Pengawal: Membaca Loyalitas dari Messi hingga Rasulullah

Piala Dunia selalu melahirkan tokoh-tokoh baru, bahkan dari mereka yang tidak mencetak gol. Di tengah sorotan yang nyaris tak pernah lepas dari Lionel Messi, nama Rodrigo De Paul dan Leandro Paredes ikut mencuri perhatian. Para pendukung Argentina menjuluki keduanya los guardaespaldas de Messi—dua “pengawal” sang kapten. Julukan itu bukan karena mereka mendapat tugas resmi dari federasi, melainkan karena hampir di setiap pertandingan mereka tampak berada paling dekat dengan Messi. Dari sesi latihan, perjalanan menuju stadion, hingga peluit akhir dibunyikan, ketiganya nyaris tidak terpisahkan.
De Paul bahkan berulang kali mengungkapkan bahwa bermain bersama Messi merupakan kebanggaan terbesar dalam kariernya. Di lapangan, ia dikenal sebagai pemain yang paling cepat bereaksi ketika Messi mendapatkan pelanggaran keras. Berkali-kali kamera menangkap De Paul berlari menghampiri lawan lebih dahulu dibanding pemain Argentina lainnya. Sementara Leandro Paredes menghadirkan bentuk kedekatan yang berbeda. Hubungan mereka telah terjalin bertahun-tahun di tim nasional, bahkan berlanjut di luar lapangan melalui pertemanan akrab bersama keluarga masing-masing. Julukan Bodyguard akhirnya lebih tepat dipahami sebagai metafora tentang loyalitas daripada uraian tugas seorang pesepak bola.
Kepemimpinan Lionel Messi
Sepak bola memang selalu melahirkan bahasa-bahasanya sendiri. Kadang-kadang, sebuah julukan mampu menjelaskan hubungan antarmanusia lebih baik daripada penjelasan yang panjang. De Paul dan Paredes tidak sedang menjaga tubuh Messi sebagaimana seorang petugas keamanan menjaga seorang kepala negara, yang mereka lindungi adalah ruang bermainnya (zonal marking). Mereka memastikan pemain terbaik Argentina itu dapat menjalankan perannya tanpa terus-menerus diseret ke dalam duel-duel yang tidak perlu. Dalam bahasa yang lebih sederhana, mereka menjaga agar seorang pemimpin tetap dapat memimpin.
Di sinilah pembicaraan mengenai kepemimpinan memiliki kedekatan magnetis. Lionel Messi sering ditafsir oleh banyak penulis sebagai representasi dari servant leadership, istilah yang diperkenalkan Robert K. Greenleaf pada 1970. Greenleaf berangkat dari gagasan sederhana bahwa pemimpin pertama-tama adalah pelayan. Pengaruhnya tidak lahir dari suara yang paling keras atau posisi yang paling tinggi, melainkan dari kemampuan membuat orang lain tumbuh. Messi jarang menjadi orator di ruang ganti. Ia lebih sering berbicara melalui ketenangan, konsistensi, dan kesediaannya memikul beban tim tanpa banyak drama.
Baca juga: Reaktualisasi Konsep Al-Quwwah dan Al-Amanah dalam Manajemen Pendidikan Islam
Leadership Cristiano Ronaldo
Adapun Cristiano Ronaldo, atau yang kerap dijuluki CR7 menghadirkan wajah kepemimpinan yang berbeda. Ia adalah simbol dari disiplin, ambisi, dan obsesi terhadap kemenangan. Banyak kajian kepemimpinan kontemporer menyebut corak semacam ini sebagai alpha leadership, yakni kepemimpinan yang bertumpu pada standar tinggi, kompetisi, dan dorongan untuk menjadi yang terbaik. Ronaldo tidak segan menunjukkan ekspresi ketika rekan setim kehilangan fokus. Ia menuntut dirinya secara keras, lalu mengharapkan standar yang sama dari orang-orang di sekelilingnya.
Sulit mengatakan bahwa salah satunya lebih baik daripada yang lain. Argentina menemukan ketenangan di sekitar Messi. Portugal berkali-kali memperoleh keberanian dari keyakinan CR7 terhadap kemenangan. Dua jalan yang berbeda itu sama-sama berhasil melahirkan kesetiaan. Barangkali memang tidak ada satu rumus tunggal tentang bagaimana seorang pemimpin seharusnya hadir.
Pengawal Rasulullah Saw.
Di titik itulah julukan “pengawal” menjadi lebih menarik daripada sekadar gurauan para pendukung sepak bola. Sebab seorang pengawal tidak lahir hanya karena ada sosok yang hebat, tetapi karena ada hubungan yang membuat seseorang rela berdiri di sisinya. Loyalitas semacam itu tidak mengenal batas zaman. Jauh sebelum stadion dipenuhi sorak-sorai dan kamera beresolusi tinggi, Madinah telah menyaksikan bentuk kesetiaan yang jauh lebih sunyi. Ketika Rasulullah ﷺ memerlukan seorang sahabat untuk menjalankan tugas yang penuh risiko, Az-Zubair bin al-Awwam adalah orang yang segera melangkah memenuhi panggilan itu.
Di dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim terdapat sebuah riwayat serupa. Pada saat Perang Khandaq, Rasulullah menghendaki seseorang menyelidiki pergerakan Bani Quraizhah. Beliau bertanya, “Siapa yang akan pergi kepada mereka?” Az-Zubair bin al-Awwam berdiri. Rasulullah mengulang pertanyaan itu, dan Zubair kembali maju. Setelah tugas itu selesai, Nabi bersabda, “Sesungguhnya setiap nabi mempunyai seorang hawari, dan hawariku adalah Az-Zubair.”
Istilah hawari sering diterjemahkan sebagai sahabat setia, pembela, atau pendamping utama. Akan tetapi, kata itu terasa lebih kaya daripada sekadar “pengawal”. Seorang pengawal bekerja berdasarkan tugas, sedangkan seorang hawari bergerak karena keyakinan. Ia tidak sekadar menjaga keselamatan fisik pemimpinnya, melainkan ikut menjaga cita-cita yang diperjuangkan pemimpin tersebut.
Az-Zubair bukanlah sosok yang asing dalam sejarah Islam. Ia termasuk kelompok awal yang memeluk Islam, keponakan Khadijah binti Khuwailid, sekaligus salah seorang dari sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira surga. Tubuhnya dipenuhi bekas luka peperangan. Di dalam berbagai riwayat, bekas sabetan pedang di tubuhnya menjadi saksi bahwa kesetiaannya tidak pernah berhenti pada ucapan. Ketika Rasulullah membutuhkan seseorang untuk mengambil risiko, Zubair hampir selalu berada di barisan terdepan.
Baca juga: Teladan Kepemimpinan Rasulullah
Menariknya, Rasulullah sendiri tidak pernah membangun kepemimpinan melalui jarak. Jika membaca Sirah Ibn Hisyam, Thabaqat karya Ibn Sa’d, maupun kajian-kajian modern seperti Martin Lings atau W. Montgomery Watt, akan terlihat pola yang berulang. Rasulullah hidup bersama para sahabat, mendengar keluhan mereka, menerima kritik, bermusyawarah, bahkan membantu pekerjaan-pekerjaan yang dianggap sederhana. Beliau ikut menggali parit pada Perang Khandaq. Beliau menambal sandal dan menjahit pakaiannya sendiri. Dalam bahasa Robert Greenleaf, seorang pemimpin memperoleh otoritas ketika ia lebih dahulu bersedia melayani.
Mungkin karena itulah, ketika banyak penulis menyebut Lionel Messi sebagai representasi servant leadership, asosiasi itu terasa masuk akal. Bukan karena Messi adalah Rasulullah. Perbandingan seperti itu tentu tidak tepat, melainkan karena cara pengaruh bekerja memperlihatkan pola yang mirip. Messi tidak membangun kepemimpinannya melalui pidato yang menggelegar. Ia membiarkan bola berbicara lebih dulu daripada dirinya. Ketika Argentina menjuarai Copa América 2021 dan kemudian Piala Dunia 2022, banyak rekan setim justru bercerita tentang bagaimana ketenangan Messi membuat ruang ganti tetap utuh di tengah tekanan yang luar biasa. Pengaruh yang lahir dari keteladanan sering kali bekerja tanpa suara.
Perbedaan dan Persamaan Kepemimpinan Lionel Messi dengan Rasulullah Saw.
Ilmu kepemimpinan memang mengenal banyak tipologi. James MacGregor Burns membedakan pemimpin transaksional dan transformasional. Bernard Bass kemudian mengembangkan gagasan Burns dengan menekankan kemampuan pemimpin membentuk motivasi pengikutnya. Max Weber berbicara mengenai otoritas karismatik, yakni kewibawaan yang diterima masyarakat karena kualitas pribadi seseorang, bukan semata-mata jabatan yang ia miliki. Akan tetapi, ketika membaca sirah Nabi Muhammad, terasa bahwa seluruh kategori itu belum sepenuhnya memadai. Kepemimpinan Rasulullah tidak berhenti pada kemampuan memengaruhi manusia. Kepemimpinan beliau mengubah manusia menjadi pribadi-pribadi yang kelak mampu memimpin orang lain. Di sinilah letak perbedaan yang paling mendasar.
Messi melahirkan pemain-pemain yang rela menjadi pelindungnya di lapangan. Ronaldo melahirkan rekan-rekan yang bersedia mengikuti standar kompetisinya. Rasulullah melahirkan Abu Bakar yang mengorbankan seluruh hartanya, Umar yang mengubah keberaniannya menjadi keadilan, Utsman yang menjadikan kekayaannya sebagai penyangga dakwah, dan Az-Zubair yang berkali-kali menawarkan dirinya ketika bahaya harus dihadapi.
Tidak seorang pun dari mereka menerima kontrak. Tidak ada gaji untuk menjadi pengawal Rasulullah. Yang ada hanyalah keyakinan bahwa manusia yang mereka lindungi sedang membawa amanah yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri.
Barangkali di sinilah sepak bola dan sejarah kenabian bertemu, meskipun keduanya tidak pernah benar-benar dapat disamakan. Stadion mengajarkan bahwa pemain hebat selalu membutuhkan orang-orang yang bersedia bekerja di luar sorotan. Sirah Nabi mengajarkan bahwa pemimpin agung selalu melahirkan manusia-manusia yang rela berada di belakang layar. Bedanya, dalam sepak bola, loyalitas sering kali berakhir ketika peluit panjang dibunyikan atau kontrak selesai. Dalam sejarah Islam, loyalitas para sahabat justru semakin kuat setelah Rasulullah wafat. Mereka menjaga ajaran, bukan sekadar menjaga pribadi.
Maka, ketika publik tersenyum melihat Rodrigo De Paul berlari membela Messi yang dijatuhkan lawan, atau ketika Leandro Paredes tanpa ragu berdiri di samping kaptennya, kita sesungguhnya sedang menyaksikan sesuatu yang lebih tua daripada sepak bola itu sendiri. Manusia sejak dahulu selalu mencari figur yang layak dijaga. Pertanyaan yang lebih penting bukanlah mengapa seseorang mempunyai pengawal, melainkan mengapa ada orang yang dengan sukarela memilih menjadi pengawalnya.
Jawaban atas pertanyaan itu rupanya tidak pernah benar-benar berada di tangan para pengawal. Ia selalu bermula dari pribadi yang mereka jaga. Sebab kesetiaan jarang lahir dari kekuasaan. Ia tumbuh dari kepercayaan yang dipelihara setiap hari, dari keteladanan yang tidak putus, dan dari keyakinan bahwa hidup seseorang telah memberi manfaat bagi kehidupan orang lain. Di situlah Az-Zubair berdiri dalam sejarah Islam, dan di situlah pula kita memahami bahwa kepemimpinan Rasulullah bukan hanya dikenang karena banyaknya pengikut, melainkan karena beliau mampu melahirkan manusia-manusia yang dengan sadar memilih menjaga risalah bahkan setelah beliau tiada.
Penulis: Muhammad Ariby Zahron



