Perubahan Mendadak dan Anomi Sekolah: Menggugat Kebijakan Ujian TKA dan Dampaknya pada Psikologi Sosial Kelas XII
Belakangan ini ada kejadian yang cukup menarik sekaligus agak ironis di dunia pendidikan kita. Tiba-tiba muncul perubahan besar soal sistem ujian, terutama hadirnya Tes Kompetensi Akademik (TKA) yang jadi syarat kelulusan atau penentu masuk universitas. Meski niatnya baik ingin meningkatkan kualitas pendidikan namun perubahan ini justru bikin banyak orang di sekolah jadi cemas dan bingung. Para siswa kelas XII yang sedang di fase transisi dari remaja ke dewasa, tiba-tiba harus menyesuaikan diri dengan aturan main baru yang mereka sendiri enggak pernah tahu kenapa dan bagaimana aturan itu dibuat.
Pengertian Anomi
Situasi ini mengingatkan saya pada sebuah konsep dari sosiolog Prancis bernama Émile Durkheim, namanya anomi. Sederhananya begini, anomi itu kondisi ketika aturan atau patokan hidup yang biasa kita pegang tiba-tiba melemah atau bahkan hilang. Akibatnya, kita jadi kehilangan arah dan bingung harus berbuat apa, karena yang tadinya jadi panduan sudah tidak jelas lagi. Biasanya ini terjadi saat masyarakat mengalami perubahan yang terlalu cepat, sementara aturan atau norma baru belum sempat terbentuk dengan matang.
Kalau kita lihat pada konteks pendidikan saat ini, perubahan kebijakan ujian seperti TKA ini bisa dibilang menciptakan semacam “anomi versi sekolah”. Bayangkan, guru dan siswa sudah bertahun-tahun terbiasa dengan satu sistem ujian, punya pola belajar yang sudah jalan, sudah paham apa yang harus dikejar. Eh, tiba-tiba ada sistem baru dengan cara penilaian yang beda, dan waktunya pun mepet. Patokan lama yang selama ini jadi pegangan—cara belajar, cara mengajar, dan target yang mau dicapai seketika menjadi tidak relevan lagi.
Sekolah itu sebenarnya kayak miniatur masyarakat, kata Durkheim. Di sekolah, kita belajar tidak cuma pelajaran yang ada di buku, tapi juga nilai, aturan, dan cara bergaul yang baik. Tapi kalau aturan di sekolah tiba-tiba berubah tanpa pengantar yang jelas, sekolah justru bisa jadi gambaran kondisi sosial yang kacau. Nilai lama belum hilang, tapi nilai baru juga belum kuat berdiri. Kondisi semacam inilah yang bikin kita bingung, terutama buat kita yang lagi kelas XII. Siswa kelas XII sekarang ini kayak lagi hidup dalam “Limbo normatif.” Kita tahu harus belajar, tapi nggak yakin gimana cara belajar yang ‘benar’. Gurunya juga kadang bingung menjelaskan kebijakan pemerintah yang tiap semester sering berubah-ubah. Jadinya, muncul perasaan gelisah yang kompleks, termasuk rasa cemas, curiga satu sama lain, sampai kehilangan makna kenapa kita harus belajar.
Baca juga: Dugaan Manipulasi dan Kecurangan TKA
Dampak Psikologi Sosial
Dari fakta di atas, Durkheim punya istilah sendiri yaitu collective anomie. Artinya, bukan cuma satu orang yang bingung, tapi seluruh komunitas sekolah jadi kehilangan arah dan merasa nilai-nilai yang dulu saling nyambung sekarang berubah dan kacau. Dampaknya nggak cuma di pikiran aja, tapi juga terasa sehari-hari. Banyak teman kelas XII stres karena standar sukses di sekolah jadi nggak jelas. Ada yang merasa usaha mereka sia-sia karena “aturan main” terus berubah. Ada juga yang jadi terlalu kompetitif, sampai kebawa pola pikir survival of the fittest yaitu yang paling kuat yang menang. Ini bikin solidaritas sosial kita berubah. Dari yang awalnya solidaritas mekanik, di mana semua orang punya tujuan sama, yaitu lulus ujian, jadi solidaritas organik yang lebih individualistis dan penuh persaingan. Hubungan antar teman yang dulunya akrab dan saling bantu, sekarang mulai terasa dingin dan penuh tekanan.
Padahal, Durkheim selalu bilang, kohesi sosial itu penting banget. Kalau kondisi anomie terjadi, kohesi ini jadi rapuh. Kita nggak cuma kehilangan arah dalam belajar, tapi juga rasa kebersamaan yang seharusnya tumbuh di momen penting sebelum kelulusan. Masalahnya bukan cuma soal kebijakan pendidikan yang pakai TKA atau aturan baru, tapi lebih ke cara kebijakan itu dijalankan. Kalau perubahan aturan terjadi mendadak tanpa ada proses transisi yang jelas, bakal muncul kekosongan norma. Negara dan sekolah kayak lupa kalau tiap kebijakan nggak cuma soal hasil ujian, tapi juga soal psikologi sosial kita sebagai siswa. Kalau terus-terusan kayak gini, anomie ini bakal terus terulang. Kita bisa jadi generasi yang cuma taat aturan tanpa benar-benar mengerti tujuan atau makna di balik aturan itu sendiri. Durkheim mungkin bakal senyum pahit melihat kondisi ini. Karena dia percaya pendidikan itu bukan cuma alat buat ngukur kemampuan otak, tapi sarana buat membentuk moral dan rasa punya sama-sama di masyarakat.
Baca juga: Resiliensi Psikologis dan Faith Blues dalam Perspektif Islam
Sekolah Butuh Kepastian, Bukan Cuma Ganti Aturan Terus
Mungkin yang paling dibutuhkan sekolah saat ini bukan kebijakan baru setiap tahun, tapi kepastian dan arah yang jelas serta konsisten. Kalau pakai bahasa Durkheim tadi, sebuah masyarakat termasuk sekolah baru akan bisa berjalan dengan sehat kalau ada keseimbangan antara perubahan dan keteraturan. Tanpa aturan yang kokoh dan jelas, perubahan apa pun cuma akan bikin orang makin bingung dan kehilangan arah.
Kita nggak menolak perubahan, kok. Tapi perubahan yang baik itu harusnya memberi ruang dan waktu buat orang beradaptasi, membangun kebiasaan baru, dan menjaga kebersamaan yang sudah terbangun. Kalau tidak, sekolah hanya akan jadi tempat percobaan sistem yang bikin pusing dan para siswa kelas XII akan terus bertanya dalam hati ‘Sebetulnya kita ini lagi belajar buat masa depan, atau cuma jadi kelinci percobaan dari sistem yang sendirinya nggak tahu mau ke mana’.
Penulis: Yudita Nuriyah An-Nisa’, S.Sos
Editor: Musa Al Kahfi



