EducationEssayRedaksiTechnology

Sumpah Pemuda di Era Digital : Peran Santri dalam Membangun Solidaritas dan Literasi Kebangsaan

Kalau kita mundur ke tahun 1928, para pemuda dari berbagai daerah di Nusantara berkumpul dan mendeklarasikan Sumpah Pemuda. “Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa.” Momen itu bukan sekadar sejarah, tapi titik balik yang menyatukan identitas kebangsaan kita. Nah, sekarang pertanyaannya: bagaimana semangat itu bisa kita jaga di era digital, ketika solidaritas sering kali lebih banyak dibangun lewat layar daripada tatap muka?

Di sinilah menariknya melihat peran santri. Generasi yang nggak cuma akrab dengan kitab dan pesantren, tapi juga mulai melek digital dan aktif di ruang publik online.

Solidaritas Sosial ala Durkheim

Sosiolog klasik Emile Durkheim bilang, masyarakat itu bisa kuat kalau anggotanya punya solidaritas sosial  semacam “lem perekat sosial” yang bikin orang merasa terhubung dan saling peduli. Durkheim membagi solidaritas jadi dua tipe:

  1. Solidaritas mekanik, yang muncul di masyarakat tradisional, orang saling terikat karena kesamaan nilai, kepercayaan, dan gaya hidup.
  2. Solidaritas organik, yang muncul di masyarakat modern, di mana hubungan sosial terbentuk karena saling ketergantungan dan perbedaan peran.

Nah, kalau dulu Sumpah Pemuda dibangun lewat solidaritas mekanik (karena satu visi: kemerdekaan dan kebangsaan), maka sekarang tantangannya adalah bagaimana menumbuhkan solidaritas organik di dunia digital, di mana kita semua punya latar belakang, pandangan, dan algoritma media sosial yang berbeda-beda.

Baca juga : Perubahan Mendadak dan Anomi Sekolah: Menggugat Kebijakan Ujian TKA dan Dampaknya pada Psikologi Sosial Kelas XII

Santri zaman sekarang nggak cuma belajar kitab kuning, tapi juga punya akun Instagram, TikTok, bahkan bikin konten dakwah di YouTube. Tapi lebih dari itu, mereka juga bisa jadi agen literasi kebangsaan yang menyebarkan nilai-nilai moderat, toleransi, dan cinta tanah air di tengah banjir informasi yang kadang menyesatkan.

Dalam konteks teori Durkheim, peran santri ini bisa dilihat sebagai penguat solidaritas organik. Mereka menjadi jembatan antara nilai tradisional pesantren dan dunia modern digital. Ketika banyak orang mulai terpecah karena perbedaan pandangan politik atau isu sosial, santri bisa hadir sebagai “penyejuk” yang menanamkan nilai keislaman yang rahmatan lil ‘alamin. Islam yang damai dan penuh kasih.

Solidaritas Digital: Dari Like ke Aksi Nyata

Era digital memang membuat kita mudah berinteraksi, tapi belum tentu benar-benar terhubung secara sosial. Banyak yang saling “follow”, tapi nggak saling peduli. Nah, di sinilah relevansi Sumpah Pemuda diuji kembali.

Santri bisa mengambil peran aktif dalam menciptakan solidaritas digital. Bukan sekadar ikut tren, tapi membangun komunitas yang sadar nilai kebangsaan. Misalnya dengan membuat konten edukatif, kampanye literasi, atau gerakan online yang mempromosikan toleransi antarumat. Dari situ, semangat “satu bangsa, satu bahasa, satu tanah air” bisa dihidupkan lagi dalam bentuk baru: satu jaringan, satu tujuan, satu solidaritas digital.

Baca juga : Miskiyanto, Petani Muda Gagas Pertanian Masa Depan dengan Terobosan Urban dan Digital Farming

Penutup: Sumpah Pemuda 2.0

Kalau Durkheim hidup di era media sosial, mungkin ia akan bilang bahwa masyarakat digital butuh “moral kolektif baru” berupa nilai-nilai yang bikin kita tetap manusiawi di tengah dunia yang serba cepat. Nah, santri dengan karakter spiritual dan sosialnya bisa jadi salah satu penjaga moral itu.

Jadi, Sumpah Pemuda di era digital bukan lagi tentang bersatu di medan politik, tapi bersatu di ruang digital, menjaga semangat kebangsaan lewat literasi, empati, dan solidaritas sosial yang hidup bukan hanya di dunia nyata, tapi juga di dunia maya.

Penulis : Yudita Nuriyah An-Nisa’, S.Sos

Editor : Muhammad Fachri HIbatullah

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *