
Penulis : Muhammad Fathurrozaq, santri PP. Sabilurrosyad (Gasek) malang.
Editor : F. Azfar
Beliau KH. Moeslim Imampuro atau yang lebih akrab di sebut mbah Liem adalah Kiai khas di balik kesuksesan Gus Dur. Pada saat Gus Dur maju menjadi Ketua Umum PBNU hingga maju menjadi Presiden Republik Indonesia, Mbah Liem lah salah satu tokoh Khas yang mengawal spiritualitas dan keberanian Gus Dur.
Mengawal Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU
Saat itu, Muktamar NU ke – 29 di Cipasung Pada tanggal 1 hingga 5 Desember 1994 adalah salah satu Muktamar paling menegangkan. Hal itu dikarena pelaksanaan Muktamar tersebut diawasi oleh rezim Orde Baru yang notabenya ingin mengkerdilkan eksistensi NU.
Mereka menganggap Gus Dur sebagai ancaman, sehingga berbagai taktik di gunakan oleh rezim Order Baru agar Gus Dur tidak terpilih dalam pemillihan ketua umum PBNU pada muktamar ke- 29 tersebut. Seperti mendukung oknum yang bernama Abu hasan untuk menjadi lawan Gus Dur dalam pemilihan Ketua Umum PBNU .
Ketika Puncak Muktamar, tepatnya saat penghitungan suara, perolehan suara Gus Dur masih tertinggal dengan perolehan suara Abu Hasan. Para Kiai dan Tokoh pendukung Gus Dur mulai cemas dan sedih. Pada saat itulah ada beberapa pemuda yang mendekati KH. Moeslim Imampuro (Mbah Liem) yang khusyu’ di area Muktamar.
“Mbah, Pripun niki, Gus Dur mau kalah.” kata mereka. Mbah Liem pun menjawab, “wes ora perlu kakean polah, ayo doa bareng, nangekne Mbah Hasyim Asy’ari.” (sudahlah jangan banyak tingkah, ayo bareng-bareng “membangunkan” Mbah Hasyim Asy’ari).
Seketika itu, para pemuda di ajak berdoa bersama Mbah Liem. Bacaan basmalah, syahadat, salawat, dan kalimat thayyibah dilafalkan Mbah Liem serta para pemuda tersebut. Hingga Mbah Liem dawuh, “Mbah Hasyim.. Mbah Hasyim, yen njenengan mboten lilo kuburan njenengan di uyuhi wong liyo, tangio. Ewangono putu njenengan ben menang, Al faatihah.” (Mbah Hasyim, jika engkau tidak rela makammu di kencingi orang lain, bangunlah. Bantu cucumu agar menang, Al Faatihah).
Baca juga : Biografi KH. Muhammad Syafi’i Hadzami
Dengan kehendak Allah Swt, Nabi Muhammad SAW, serta barokahnya Mbah Hasyim Asy’ari dan Mbah Liem, seketila perolehan suara Gus Dur langsung mengungguli perolehan suara Abu hasan. Detik demi detik menjadi momen kembalinya senyum para Kiai setelah di akhir penghitungan suara, diputuskan bahwa Gus Dur lah yang unggul dan memenangkan pemilihan ketua umum PBNU atas rivalnya Abu hasan.
Mendoakan Gus Dur menjadi Presiden Republik Indonesia
Sekitar tahun 1983, Gus Dur bersama mbah Liem Ziaroh ke Makam Mbah Hasyim Asy’ari di Tebuireng, Jombang. Ketika itu mbah liem membawa 10 Map, isinya adalah tulisan dari mbah Liem sendiri.
Ketika sampai di makamnya Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Liem nyletuk kepada Gus Dur, “ Gus.. kowe ojo ngaku putune Mbah Hasyim yen ora iso ngatur negoro iki.” (Gus, anda jangan mengaku cucunya Mbah Hasyim kalau tidak bisa mengatur negara ini). Kemudian 10 map yang dibawa Mbah Liem tadi, 9 mapnya di berikan kepada Gus Dur dan 1 map yang tersisa disimpan oleh Mbah Liem sendiri.
Begitu pula ketika Gus Dur sowan ke rumah Mbah Liem, ketika masuk ke rumah Mbah Liem, Gus Dur duduk di lantai. Seketika Mbah Liem langsung bilang “ Gus.. ayo duduk di kursi itu, agar nanti bisa jadi Presiden.” Gus Dur tidak langsung duduk di kursi itu, karena sebagai bentuk ketawadhu’an kepada Mbah Liem. Akhirnya, Mbah Liem menarik kursi dan memegang pundak beliau, “sudah, duduk sini.. sebentar tidak apa-apa.” dawuh Mbah Liem kepada Gus Dur. Akhirnya Gus Dur menduduki kursi tersebut.
Baca juga : Saat Kiai Miftah Menelpon Wartawan
Wallahu a’lam, beberapa tahun kemudian, Gus Dur terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia meskipun sebentar. Mirip dengan dawuh Mbah Liem tadi. Diketahui, ketika Gus Dur bercerita terkait dirinya menjadi Presiden meskipun dalam waktu yang singkat, Gus Dur menjawab dengan jelas, “saya mengikuti ucapan mbah Liem.”
Wallahua’alam.



