Jabatan Bukanlah untuk Mencari Penghormatan
Penulis: Ahmad Depri Kurniawan/Editor: Rifqi Hayyinul Ula

Diceritakan bahwa Hisyam bin Abdul Malik adalah seorang pemimpin dari Bani Umayyah. Ia datang untuk mengerjakan haji di tanah suci kota Mekkah. Tatkala ia memasuki kota Mekkah ia berkata, “Bawalah kepadaku salah seorang dari sahabat nabi!”
Kemudian seseorang menjawab, “Wahai amirul mukminin semua sudah tiada. Sudah meninggal semua.”
Lalu Hisyam menyambung, “Datangkanlah dari golongan tabi’in.”
Kedatangan Tabi’in Thowus al-Yamani
Didatangkanlah Thowus al-Yamani. Tatkala Thowus masuk di hadapan Khalifah Hisyam, ia melepas alas kakinya dengan tepi permadaninya. Ia bahkan tidak memberi salam dengan panggilan amirul mukminin, tetapi ia malah mengatakan, “Assalaamu ‘alaika ya Hisyam”. Kemudian ia langsung duduk di hadapannyam seraya berkata, “Bagaimana kabar engkau wahai Hisyam?”
Mendapat perlakuan seperti itu, Hisyam sangat murka sehingga ia merasa ingin membunuhnya. Lalu salah seorang mengatakan kepada khalifah tersebut, “Engkau berada di tanah suci milik Allah dan Rasul-Nya. Tidak mungkin tuan melakukan yang demikian!”
Khalifah pun bertanya pada Thowus, “Hai Thowus! Apakah yang mendorong engkau melakukan hal demikian?”
Thowus mengatakan, “Memang apa yang telah saya perbuat?”
Maka bertambah-tambahlah kemurkaan dan kemarahan Sang Khalifah.
Khalifah Hisyam berkata lagi, “Engkau buka kedua alas kakimu dengan kedua tepi permadaniku, engkau tidak mencium tanganku, engkau tidak memberi salam kepadaku dengan panggilan amirul mukminin, engkau tidak menyebutkan nama kuniyahku engkau duduk di hadapanku dengan tidak izin, dan engkau langsung mengatakan, “Kaifa anta ya Hisyam?”
Thowus pun menjawab, “Adapun apa yang telah saya perbuat, membuka alas kakiku dengan tepi permadanimu, maka sesungguhnya aku membuka kedua alas kaki itu tiap hari lima kali dihadapan Allah, dan Allah tidak mencela ataupun memarahi aku.”
Adapun perkataanmu, “Engkau tidak mencium tanganku.” Sesungguhnya kau mendengar Sayyidina Ali bin Abi Tholib Karromallahu Wajhah berkata bahwa tidak dihalakan bagi seseorang mencium tangan orang lain, kecuali istrinya karena sahwat atau mencium anaknya karena kasih sayang.
Baca juga: Teguhnya Keimanan Sang Budak Habasyah; Bilal bin Rabbah
Adapun perkataanmu, “Engkau tidak memberi salam kepadaku dengan panggilan amirul mukminin.” Tidaklah semua orang merestui dengan pemerintahanmu. Oleh sebab itu aku tidak mau berdusta.
Mengenai perkataanmu, “Aku tidak menyebutkan kuniyahmu.” Sesungguhnya Allah Swt menyebutkan dalam firmannya tentang nabi-nabiNya dan kekasihNya, Allah berfirman Ya Daud! Ya Yahya! Ya Isa! Dan Allah Swt menyebutkan kuniyah bagi musuh-musuhNya Allah dengan firmannya, “Binasalah tangan Abi Lahab”.
Sedangkan perkataanmu, “Engkau duduk di dihadapanku dengan tidak izin.” Sesungguhnya aku mendengar Sayyidina Ali bin Abi Tholib Karromallohu Wajhah berkata, “Apabila engkau bermaksud untuk melihat sesorang dari penduduk neraka, maka lihatlah kepada orang yang duduk sementara orang-orang di sekitarnya berdiri menghormatinya.”
Nasihat untuk Khalifah Hisyam
Maka Khalifah Hisyam pun berkata kepada Thowus, “Berilah aku nasihat!”
Thowus pun menasehati Khalifah dan berkata, “Aku mendengar Sayyidina Ali bin Abi Tholib berkata, “Sesungguhnya didalam neraka jahannam terdapat ular-ular yang seperti bukit dan kalajengking seperti keledai yang mematuk setiap pemimpin yang tidak berlaku adil kepada rakyatnya”.
Setelah itu, maka Thowus pun baerdiri kemudian pergi meninggalkansang Khalifah.
Mendengar nasehat tersebut, Khalifah pun menangis. Dari penjelasan kisah ini dapat kita jadikan pelajaran bahwa ketika seseorang menjadi pemimpin jangan berlaku semena-mena, karena jabatan bukanlah segalanya dan jabatan bukan untuk mencari penghormatan.



