Dunia IslamOpini

Ibadah Terbaik, Apakah Aku Pantas Menunaikannya ?

Penulis : Noviya A’yun/Editor : Faiz Nur Musyafa'

Pernahkan kalian menganggap diri kalian adalah manusia yang paling baik? Saya yakin mayoritas jawabannya adalah “iya”. Jika tidak, coba ingat-ingat kembali. Oh, atau mungkin sekarang anda sedang berada di fase ini? menganggap orang di sekitar anda tidak sebaik anda dan menilai orang lain hanya bisa itu-itu saja (amatiran).

“Sepertinya itu mirip dengan ciri-ciri ku, hmmm”. Manusia semacam ini hanyalah bagaikan intip nasi gosong di rice cooker. Tidak berguna, bahkan ayam pun enggan memakannya.

Praktis penulis, kita ini manusia biasa, manusia akhir zaman, manusia yang tidak se-level dengan para Kyai, para wali, keturunan Nabi, apalagi se maqam dengan Nabi.

“Sadarlah wahai kawan, dan juga aku! Sepertinya setan sudah sangat kelewatan. Kapan memulai memeranginya lagi?”

“Ya sekarang…!”

“Aduhaaii, manusia sudah sangat terlena”. Daripada berlagak menjadi manusia terbaik, bukankah lebih baik kita beralih untuk menjadi hamba yang baik, yakni dengan mempersembahkan ibadah terbaik kepada Allah?.

Baca juga : Indahnya Berbagi

To the point. Singkat cerita, takdir Allah telah menggiring penulis untuk hadir dalam sebuah pengajian rutin, yang selama ini jarang ia hadiri alias sering membolos. Kemudian pada pagi itu, hidayah sepertinya masuk melalui jendela kamar dan mengketuk sanubarinya.

Pengajian kala itu terasa berbeda, terlebih ada beberapa bait yang relevan dengan kehidupannya :

قد أجمع العرّاف حلّهم على  #  أنّ أفضل الطّاعات لله العلا

Benar-benar telah bersepakat para ahli ma’rifat pada sebagian ‘urf

Bahwa ta’at yang paling utama kepada Allah yang Maha Luhur

حفظ لأنفاس يكون خروجها  #  ودخولها با لله في الملأ الخلا

Adalah menjaga setiap nafas yang keluar

Dan masuknya, semata-mata untuk Allah. Baik ketika dalam kesepian maupun keramaian

باالشدّ ثمّ المدّ تحت ثمّ فو  #  ق صفة له مع برزخٍ فستكملا

Melafalkan “Allah” dengan tasyid dibaca mad, dari bawah lalu ditarik keatas

Akan menambahi keteguhan menjaga nafas disertai pemisah, lalu sempurnakan!

أو ذكر تهليل وذا الذّكر الخفي  #  من غير تحريك الشّفاه تداولا

Atau dengan dzikir tahlil atau dzikir yang dinamakan dzikir secara samar-samar

Dengan tanpa menggerakkan mulut secara terus-menerus

(Syeikh Zainuddin al-Malibari, “Mandzumat Hidayatul Atqiya’ ilaa Thariqil Auliyaa”)

Pada sayarahnya, Kitab Kifayatul Atqiya’ karangan Syekh Abu Bakar As-Sayyid Al Bakri Ibn As-Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyati, Jelasnya seperti ini, bahwa “sebaik-baik ibadah kepada Allah adalah menyadari setiap nafas yang keluar dan masuk adalah semata-mata karena Allah baik dalam sepi-sepi maupun keramaian”. Setelah itu, disisipkan pula tips untuk mengerjakannya. Yakni dengan melafalkan lafadz “Allah” dengan sedalam-dalam makna dan penghayatan, Atau dengan dzikir khofi (samar), yaitu dengan melafalkan dalam hati dan lisan, tanpa menggerakkan mulut secara terus menerus.

Baca juga : Menjaga Diri di Zaman Ini

Dapat disarikan, ini termasuk dzikir yang ringan namun berat di timbangan. Sangat relevan sekali dengan keadaan pemuda sekarangan yang senang rebahan.

Setelah mengetahui ini, apakah anda berniat untuk melakukan ibadah terbaik sepanjang hari? Semoga iya, dan semoga saja itu menular kepada penulis. Bukan mengapa, karena penulis ini adalah pribadi yang sering lupa.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *