Dunia IslamOpini

Lalai yang Wajib, Tekun yang Sunnah

Penulis: Muhammad Fathurrozaq/Editor: Rifqi Hayyinul Ula

Dalam konsep Jawa, masa sekarang diistilahkan sebagai “wolak-walike zaman” (bolak-baliknya zaman). Bagaimana tidak, banyak masyarakat yang notabene ingin menjadi pelaku spiritual, menyandarkan segala kegiatannya hanya pada aspek yang menguntungkan bagi dirinya sendiri, bukan semata-mata untuk taqorrub kepada Allah SWT, apalagi untuk kebaikan sesama manusia. Sesuatu yang menjadi kewajiban sering dilalaikan, sedangkan yang sunnah sangat diutamakan. Hal ini bisa diibaratkan orang ingin kenyang dengan makan soto tapi pakai tangan (tidak pakai sendok). Tentu tidak akan jadi kenyang, adanya malah sotonya tercecer kemana-mana dan mengotori dirinya sendiri.

Fenomena yang Terjadi

Fenomena di masyarakat yang sering terjadi adalah Lalai menjaga Sholat lima waktu. Sholat lima waktu yang telah disepakati dan jelas rentang waktunya terdiri dari Dhuhur, Ashar,Magrib, Isya dan Subuh. Akan tetapi, waktu subuh merupakan waktu yang sering terlalaikan. Malam sholat sunnah Tahajud dengan khusuk hingga kecapekan, membuat sholat Subuh kesiangan. Bisa jadi pula sholat Subuh kesiangan tapi sholat Dhuha 4 rokaat dilaksanakan dengan khusuk, karena keyakinannya jika sholat Dhuha bisa menjadi wasilah rezekinya lancar.

Fenomena lain yang sering terjadi, banyak masyarakat yang gemar bersedekah kepada orang lain, menggelontorkan dana untuk kebanggaan pribadi dan berharap diridhoi oleh Allah SWT, tapi hutangnya di berbagai tempat belum dibayar. Padahal sedekah adalah sesuatu yang sunnah, tapi membayar hutang adalah sesuatu yang wajib. Oknum “prematur beragama” seperti inilah yang menjadikan “wolak walike zaman” lebih cepat terjadi.

Memandang Background Seseorang

Terlebih, Ada sebagian masyarakat yang notabene pandai bersuara mengenai hukum dan tatanan ilmu agama, tetapi menyudutkan orang-orang yang masih awam dan berproses mengenal agama, atau malah menganggap sepele dan kurang layak untuk berinteraksi dengan mereka yang “katanya”  ngerti ilmu agama. Hingga membuat batasan bahwa yang layak dekat dengannya adalah orang-orang dengan background priyayi atau Kiai, selain background itu tak layak untuk mendekati.

Terakhir, mari berinstropeksi diri apakah kita telah menjalankan kewajiban dengan baik, atau malah melalaikan kewajiban demi kesunahan. Sering memandang sebelah mata kepada sesama atau memuliakan semua makhluk ciptaan Tuhan yang Maha Esa, Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Wallohu A’lam bisshowab.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *