
Penulis: Muhammad Rifki Amirudin I Editor: M. Rajib Mahditama
Tentang sebuah hikmah dari sesuap nasi, Suatu hari yang cerah seorang pemuda sedang berjalan di depan sebuah rumah makan untuk melepas rasa jenuh dan penat. Secara tidak sengaja ia melihat ibu-ibu yang tengah makan bersama anaknya. Anak tersebut terlihat lahap memakan santapannya. Namun anak tersebut menyisakan sedikit makanan di piringnya.
Kisah Pemuda dengan Seorang Ibu
Pemuda tersebut melihat sang ibu bertanya pada anaknya. “Nak, kenapa kamu tidak menghabiskan makananmu?” Tanya Ibu tersebut. Lantas anak tersebut menjawab “Tidak mau bu, aku sudah kenyang”, jawab anak tersebut dengan nada angkuh.
Sang ibu kembali bertanya, “Nak tahukah kamu zaman sekarang ini masih ada pahlawan tanpa jasa selain guru, bahkan mereka tidak mendapatkan tempat istimewa layaknya guru?” Tanya ibu tersebut dengan nada serius. “Tidak bu, memang ada pahlawan seperti itu?” Tanya anak tersebut.
Mendengar pertanyaan anaknya yang agak penasaran, lantas ibu tersebut menjawab “Pahlawan tersebut adalah petani nak, mereka rela siang dan malam merawat sawah hanya demi memperoleh suap demi suap nasi agar kita bisa makan. Jika engkau tidak menghabiskan makananmu, berapa juta harapan petani yang telah engkau kecewakan Nak?”. Terang Ibu tersebut dengan sangat serius. “Tapi kan bu, kita beli makanan ini dengan uang kita, bagaimana bisa ibu berkata bahwa para petani tidak mendapatkan tanda jasa?” elak si anak.
Baca juga: Pandangan Islam Mengenai Budaya Nusantara
“Anakku, memang dalam hal ini kita membeli apa yang telah petani hasilkan, tapi apakah kamu pernah berfikir bahwa uang yang kita keluarkan tidak sebanding dengan yang mereka dapatkan?. Yang kita tahu selama ini dihadapan kita adalah beras yang sudah menjadi nasi, tanpa tahu kerja keras orang dibaliknya. Menurutmu apakah petani mendapatkan imbalan semahal ketika kita membeli di toko atau supermarket?” Terang sang ibu.
“Tidak anakku, para petani tidak mendapatkan itu semua, mereka tetap saja kalah dengan para tengkulak. Berapa banyak siklus perdagangan dari tangan petani ke supermarket yang telah terjadi. Kita hanya tahu membeli dan memakan apa yang ada di depan kita. Maka dari itu yang hanya bisa kita lakukan sekarang ini adalah jangan pernah menyisakan nasi di piringmu” ujar sang ibu perlahan menjelaskan.
“Selain itu kita seharusnya bisa bersyukur, berapa banyak orang diluar sana yang tidak bisa makan, atau tidak punya uang untuk membeli makan. Disisi lain, bukankah Islam menyinggung keras tentang orang yang mubazir?. Bahkan dalam QS. Al Isra’ ayat 27 menyamakan orang mubazir sebagai saudara syaitan”. Tambah ibu dengan penuh antusias.
Baca juga: Mengenal Sifat Santri dalam Menghadapi Perkembangan Digitalisasi
Mendengar percakapan dari ibu dan anaknya, pemuda tersebut hanya bisa terdiam dan termenung karena ia masih sering membuang-buang dan menyisakan makanan di piringnya. Ia tersadar bahwa hal sepele semacam itu sangat di benci oleh Islam bahkan dinisbatkan sebagai saudara syaitan. Pemuda tersebut pun berjanji dalam hatinya untuk berusaha tidak mubazir makanan lagi.
Dari cerita ini, apakah kalian masih tega untuk membuang dan menyisakan nasi di piring kalian?. Mari tanyakan itu pada diri kita sendiri.



