ArtikelOpini

Memahami Bahasa Santri dengan Teori Humanistik

Penulis: Ita Nur Aini | Editor: Alifa Zainar Naasha

Bahasa yang digunakan di dalam pesantren pasti beragam karena para santri berasal dari berbagai daerah yang berbeda. Bahkan dalam sebuah bahasa, terdapat pula cara pengucapan berbeda sebab dialek tiap wilayah. Bahasa santri ini menarik dalam keterkaitannya dengan sebuah teori, yaitu teori humanistik.

Apa itu Teori Humanistik?

Teori Humanistik atau juga konsep memanusiakan manusia merupakan sebuah teori dalam proses pembelajaran. Beberapa tokoh mencetuskan teori ini, salah satunya adalah Abraham Maslow. Teori ini menjelaskan tentang bagaimana kita memosisikan diri sebagai manusia dan berinteraksi dengan sekitar.

Tidak hanya dalam pembelajaran, kita juga dapat mengimplementasikan teori ini pada bidang yang lain. Misalnya, pengimplementasian teori ini dalam ruang lingkup bahasa sebagai objek utama.

Relevansi Bahasa dan Pesantren

Dalam keragaman bahasa yang ada di pesantren, para santri akan cenderung menggunakan bahasa daerahnya masing-masing. Seperti santri yang berasal dari Jawa akan berbahasa Jawa, santri yang berasal dari Madura akan berbahasa Madura, dan sebagainya.

Baca juga: NU dan Tantangan Abad Kecerdasan Buatan

Tentu saja, bahasa Indonesia merupakan bahasa utama yang berfungsi sebagai alternatif di pesantren, sebab semua daerah pasti memahami bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Meski berbeda dalam hal penuturan, para santri tetap toleran dengan bahasa kepada satu sama lain. Sebutan santri di sini juga mengacu pada orang-orang yang mendapatkan bimbingan atau pengajaran dari guru agama. Meski secara umum, santri memang lebih indentik berada di ruang lingkup pesantren.

Sementara pengertian bahasa sendiri merupakan salah satu alat komunikasi manusia yang sangat penting. Dalam ilmu bahasa, terdapat penutur dan mitra tutur.

Kaitan Teori Humanistik dengan Bahasa Santri

Mengaitkan teori humanistik dengan bahasa santri dapat dilakukan dengan mengamati tindak tutur dari penutur dan mitra tutur, dalam konteks ini adalah tindak tutur dari santri kepada kiai. Secara definisi, terdapat pemahaman bahwa berbahasa bisa terkait dengan teori humanistik. Yaitu bagaimana cara kita memanusiakan manusia dan mengaktualisasikan cara dalam kita melakukan tindak tutur.

Dalam teori humanistik, penutur harus mengucapkan bahasa yang biasa digunakan dalam ruang lingkup tertentu. Hal ini sesuai dengan bahasa santri ketika melakukan tindak tutur terhadap kiainya, yang sangat berbeda dengan tindak tutur terhadap sesama santri. Dari perbedaan tersebut,  bisa kita pahami bahwa teori humanistik juga berperan. Yakni bagaimana cara kita mengaktualisasikan tindak tutur kita dengan orang yang berbeda.

Baca juga: Nashoihul Ibad : Mutiara Hikmah dari Ulama Banten

Fenomena bahasa yang terjadi ini berkaitan dengan ilmu bahasa dalam ruang lingkup sosial atau biasa disebut sebagai ilmu sosiolinguistik. Yang secara spesifik termasuk dalam sosiolek atau dialek sosial. Di mana variasi bahasa yang ada berkaitan dengan status, golongan, dan kelas sosial penutur dan mitra tutur. Seperti ketika santri menyebut “rumah” jika khusus untuk kiai maka berubah menjadi “ndalem”.

Dari pembahasan di atas, terdapat kesimpulan bahwa bahasa sebagai alat komunikasi dapat mempermudah penyampaian hal-hal yang ada dalam hati manusia dan keinginan-keinginannya. Sebagai makhluk sosial, peran bahasa sangat memudahkan aktivitas. Dalam hal ini, seperti di pesantren, tidak hanya bahasa Indonesia sebagai bahasa negara, tapi, juga setiap bahasa daerah memiliki peran pentingnya sendiri-sendiri.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *