Manusia merupakan pribadi yang memiliki konsep hidup yang kompleks. Para pemikir Barat sejak dahulu sudah banyak yang meneliti eksistensi manusia sebagai makhluk hidup yang berbeda dengan makhluk lainnya. Sebut saja Socrates, Aristoteles, dan Plato.
Filsuf Barat menyatakan pendapatnya bahwa manusia tidaklah berbeda dengan hewan, hanya saja dibedakan berdasarkan adanya akal. (Musyrifin, 2021)
Pendapat para filsuf Barat tersebut seolah bertentangan dengan pemikir muslim yang menganggap bahwa manusia tidak sama dengan hewan. Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling tinggi derajatnya, sebab manusia diberikan anugerah tersendiri untuk menjadi khalifah di bumi ini.
Baca juga: Sekolah Ramah Anak, Apakah Ini Solusi yang Tepat dalam Dunia Pendidikan?
Pada tulisan kali ini akan dibahas pendapat salah seorang filsuf muslim asal Indonesia, Fahruddin Faiz mengenai perbedaan manusia dengan hewan atau makhluk infrahuman.
Biografi Fahruddin Faiz
Fahruddin Faiz merupakan intelektual muslim yang sering berkecimpung pada pembahasan filsafat. Pada umumnya pembahasan filsafat dikenal menakutkan bagi banyak mahasiswa dan orang umum.
Namun, Fahruddin Faiz berhasil menyampaikan kajian filsafat dengan bahasa-bahasa yang sederhana sehinga menjadi ilmu yang enak didengar dan disukai banyak orang. Fahruddin Faiz merupakan akademisi, dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Pada jenjang Strata-1 beliau mengambil jurusan Aqidah Filsafat, kemudian pada Strata-2 mengambil jurusan Agama dan Filsafat, serta mengambil jurusan Studi Islam pada jenjang Strata-3 yang mana ditempuh di kampus yang sama yakni UIN Sunan Kalijaga.
Selain berkarir sebagai akademisi, beliau juga mengisi kajian rutin yang diberi nama Ngaji Filsafat di Masjid Jenderal Sudirman Yogyakarta, sehingga menjadikan beliau sebagai tokoh yang cukup diidolakan banyak mahasiswa melalui penyampaian materi filsafat tersebut.
Pendapat Ilmuwan Barat dan Muslim mengenai Manusia dan Infrahuman
Ilmuwan Barat atau filsuf Barat memiliki pendapat bahwa manusia tidak jauh berbeda dengan hewan. Sebut saja Socrates yang mengemukakan pendapatnya bahwasannya manusia adalah hewan yang bermasyarakat (animal social).
Demikian juga dengan muridnya yang bernama Aristoteles dan Willian E Hocking turut mengemukakan pendapatnya bahwa manusia merupakan hewan yang berpikir (animal rational). Dari sekian banyaknya pendapat para filusuf Barat, mereka memiliki satu persamaan yaitu seolah menyetarakan kedudukan manusia dengan hewan.
Disamping itu, filusuf atau pemikir Muslim mengemukakan pendapatnya bahwa manusia tidak bisa disamakan kedudukannya dengan hewan. Derajat manusia lebih tinggi daripada hewan karena manusia telah dianugerahi akal, sehingga dapat berpikir.
Berpikir adalah bertanya, bertanya adalah mencari jawaban, dan mencari jawaban adalah mencari kebenaran, sehingga hakikatnya manusia merupakan makhluk pencari kebenaran.
Salah satu pendapat filusuf Muslim yaitu Ibnu Bajah dalam kitabnya Risalat al-Ittishal, mengungkapkan bahwa makan tentunya berlaku bagi setiap makhluk. Namun berbeda dengan binatang, manusia makan bukan hanya untuk menjaga kekuatan jasmani melainkan juga mencapai kebahagiaan spiritual.
Selain itu, manusia merupakan makhluk yang harus belajar. Allah Swt. telah menganugerahkan hati dan akal untuk belajar. Dengan belajar manusia dapat mengembangkan ilmu pengetahuan, serta mengambil hikmah dalam berbagai peristiwa kehidupan sehingga dapat menciptakan kehidupan yang beradab dan berbudaya.
Perbedaan Manusia dengan Infrahuman Prespektif Fakhruddin Faiz
Kali ini akan dijelaskan pendapat pribadi Fahruddin Faiz mengenai perbedaan manusia dengan makhluk lainnya. Menurutnya, manusia memiliki 3 dimensi meliputi dimensi internal, dimensi eksternal, dan dimensi transendental.
Dimensi internal yaitu sesuatu yang berasal dari dalam diri setiap manusia, dimensi ini setidaknya meliputi lima hal yaitu.
Potensi atau bakat
Setiap insan dianugerahi oleh Allah Swt. berupa bakat atau kemampuan khusus yang menjadikannya kelebihan untuk manusia tersebut.
Sarana (raga, jiwa, dan rohani)
Setiap manusia memiliki media untuk mengekspresikan bakat atau potensi di atas melalui raga, jiwa, dan rohani mereka.
Daya pribadi
Setiap manusia memiliki kemampuan pribadi seperti insting, pikiran, dan emosi yang senantiasa dirasakan di kehidupan.
Kualitas insani
Manusia merupakan makhluk yang memiliki keinginan untuk hidup bermakna. Pada kualitas inilah manusia akan melahirkan karya, kreasi, dan keunikan tersendiri serta menjadikannya pembeda antara manusia dengan hewan.
Kebebasan
Setiap manusia tentu memiliki kemampuan menentukan yang terbaik bagi diri sendiri. Melalui kegiatan berpikir itulah manusia akan dapat menentukan mana yang baik dan buruk.
Baca juga: Hubungan Erat Antara Syariat dan Hakikat
Dimensi Eksternal yaitu sesuatu yang berasal dari luar diri manusia. dimensi ini setidaknya memiliki dua hal yaitu
Kondisi lingkungan
Kondisi lingkungan atau situasi masyarakat dapat menentukan pribadi manusia. pribadi manusia yang baik jika dipertemukan dengan situasi masyarakat yang kurang baik maka akan membawa dampak tersendiri bagi manusia tersebut.
Norma sosial
Manusia merupakan makhluk sosial sehingga tidak terlepas darinya norma atau nilai-nilai sosial yang berlaku, sehingga manusia tersebut wajib mentaati norma-norma tersebut
Dimensi transendental yaitu kemampuan manusia yang melebihi dari aspek internal dan eksternalnya. Sikap manusia pada situasi terkini dengan merancang kehidupan masa depannya yang lebih baik.
Kesimpulan
Fahruddin Faiz menjelaskan perbedaan antara manusia dengan makhluk hidup lainnya dengan memperhatikan struktur diri yang ada pada diri manusia, yaitu internal, eksternal, dan transendental. Melalui dimensi transendental inilah dapat ditarik garis perbedaan secara jelas antara manusia dengan hewan (infrahuman) atau makhluk lainnya.
Dengan begitu, beliau agaknya kurang menyetujui dengan anggapan bahwa manusia disamakan kedudukannya dengan hewan, layaknya pendapat para filsuf Barat yang sudah dijabarkan sebelumnya. Hal ini dikarenakan adanya struktur diri yang dijelaskan oleh beliau menunjukkan bahwa pada dasarnya manusia dengan hewan atau makhluk lainnya tidaklah sama.
Penulis: Septhiana Lutfia Hajar
Penulis: Fani Azfar


