Akhlak seorang anak tidak terbentuk begitu saja, ada dua cara akhlak seorang anak tersebut dapat terbentuk, yaitu melalui pendidikan formal dan informal. Pendidikan formal melibatkan aktifitas yang terjadi di lingkungan sekolah maupun pesantren. Pendidikan formal hanya dapat dilakukan ketika anak sudah cukup umur untuk memasuki usia sekolah.
Sedangkan pendidikan informal berlangsung di lingkungan keluarga dan melibatkan peran orang tua secara langsung, memalui pendidikan informal inilah akhlak pertama kali diterima anak bersama kedua orang tuanya. Sampai seorang anak mencapai usia sekolah, orang tua bertanggung jawab sebagai pendidik dan pengawas tunggalnya.
Orang Tua Sebagai Agen Pendidikan
Orang tua merupakan agen pendidikan yang paling dekat dengan anak sebelum ia terpapar dengan lingkungan luar. Anak-anak menghabiskan sebagian waktunya bersama orang tuanya, terutama ibunya. Oleh karena itu, segala sesuatu yang dilakukan orang tua dapat dengan mudah ditiru oleh anak dan menjadi suatu kebiasaan.
Peniruan perilaku semacam ini merupakan dampak dari pendidikan informal yang diterima anak tanpa disadari. Ketika orang tua melakukan sesuatu, anak melihatnya sebagai teladan yang harus ditiru. Mereka tidak tahu mana yang baik dan patut ditiru, serta mana yang buruk dan sebaiknya dibuang.
Peran Orang Tua
Di sisi lain, orang tua yang berperan untuk memberikan contoh pun terkadang memiliki emosi yang tidak terkendali, dan seringkali orang tua melakukan hal-hal buruk tanpa disadari. Perbuatan salah yang dilakukan orang tua, baik dalam tindakan maupun perkataannya, berdampak buruk pada perkembangan moral anak.
Tingkah laku dan perbuatan baik tidak melekat pada diri anak dengan sendirinya tanpa melalui suatu proses. Perilaku baik dan buruk orang tua ditularkan kepada anaknya melalui Pendidikan Informal di lingkungan rumah. Oleh karena itu, bimbingan dan pembinaan yang tepat dari orang tua sangat penting untuk membentuk akhlak anak, apalagi akhlak tersebut dikaitkan dengan nilai-nilai pendidikan agama.
Dari perspektif pendidikan, orang tua dianggap sebagai salah satu dari tiga agen pendidikan penting dalam hidup manusia. Ketiga lembaga pendidikan tersebut yaitu rumah tangga, sekolah, dan masyarakat.
Baca juga: Rahasia Mantiq: Logika dari masa ke masa hingga menggali hikmah Al-Qur’an
Dalam hal ini orang tua yang termasuk dalam dimensi keluarga berperan sebagai lembaga konseling informal sejak lahir hingga dewasa. Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua untuk memberikan tauladan yang baik didepan anak mereka. Hal itu sebagai wujud tanggung jawabnya dalam membentuk akhlak anak.
Hadits Tentang Pentingnya Peran Orang Tua
Dalam pandangan islam, peranan orang tua sangat penting dalam pembentukan akhlak anak. Pentingnya peranan orang tua dalam membentuk akhlak anak ditujukan pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA. yaitu,
حدثنا عبدان أخبرنا عبد الله أخبرنا يونُسُ عنِ الزُّهري أخبرني أبو سلمة بن عبدِ الرحمنِ أنَّ أبا هريرة رضي الله عنه قال : قال رسولُ اللهِ ﷺ: (ما مِن مَولودٍ إلا يُولَدُ على الفِطرَةِ ، فأبواهُ يُهَوِّدانهِ أو يُنصرانه أو يُمَجِّسانه ، كما تنتج البهيمة بهيمة جمعاء ، هل تُحِسُّونَ فيها مِن جَدْعاءَ؟( ثم يقول أبو هريرة رضي الله عنه : (فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ القيّم(.
“Telah menceritakan kepada kami ‘Abdan, telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah, telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Az Zuhriy, telah mengabarkan kepada saya Abu Salamah bin ‘Abdurrahman bahwa Abu Hurairah radhiallahu’anhu berkata, telah bersabda Rasulullah SAW, “Tidak ada seorang anak pun yang terlahir kecuali dia dilahirkan dalam keadaan fithrah. Maka kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya.” Kemudian Abu Hurairah radhiallahu’anhu berkata, (Sebagai fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus).“
Kandungan Hadits
Hadits ini menunjukkan bahwa anak tidak dilahirkan dengan label yang melekat. Seorang anak lahir dalam keadaan fitrah, baik dalam kelahirannya maupun fitrah batinnya. Ibarat kertas, seorang anak adalah selembar kertas kosong dan orang tua memberi warna pada kertas tersebut.
Warna dan gambar yang baik meningkatkan moral dan karakter anak. Sebaliknya, warna dan gambar yang buruk akan mempengaruhi kealamian kertas putih. Secara harfiah, warna yang dimaksud adalah contoh perilaku, ucapan, dan nilai-nilai yang diajarkan orang tua saat membesarkan anaknya.
Sikap orang tua terhadap anak dan saudaranya merupakan suatu perilaku yang menjadi bagian dari kepribadian anak di kemudian hari. Melalui perbuatan dan tindakan orang tua yang sesuai dengan ajaran agama dan norma moral, lahirlah pengalaman hidup dalam jiwa seorang anak. Hal itu menjadi unsur pembentuk kepribadian.
Baca juga: Kisah Pohon Kurma Menangis di Hadapan Nabi Muhammad
Akhlak Menurut al-Ghazali
Menurut al-Ghazali, akhlak adalah “keteguhan jiwa yang dengan mudah menghasilkan atau melakukan perbuatan tanpa perlu direnungkan dan disengaja. Bila keteguhan ini sudah kokoh, sehingga menghasilkan tingkah laku yang baik maka disebut akhlak yang baik, dan jika perilaku yang dihasilkan dari situasi tersebut tercela, maka disebut dengan akhlak yang buruk.
”Hakikat akhlak menurut al-Ghazali yaitu bukanlah ilmu tentang baik dan buruk (ma’rifah) atau sifat baik dan jahat (qudrah), bukan pula mengamalkan baik (fi’il) dan buruk. Melainkan keadaan jiwa yang stabil (hay’a rasikha fi-n-nafs).
Dari pengertian akhlak yang dikemukakan oleh al-Ghazali, kita dapat menyimpulkan bahwa akhlak tidak terbentuk atas dasar pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh sebelumnya. Moralitas adalah kestabilan mental yang timbul dari rasa percaya diri seseorang.
Stabilitas psikologis hanya terjadi ketika seseorang yakin dengan tindakan yang akan dilakukannya dan tidak perlu memikirkan apakah tindakan yang akan dilakukannya itu baik atau buruk.
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa peran orang tua dalam pembentukan akhlak sangatlah penting. Sebagai madrasah pertama, orang tua harus mampu menanamkan nilai-nilai keimanan, menjaga harkat dan martabat anaknya. Orang tua bertugas membimbing anaknya ke jalan yang benar dengan menanamkan nilai-nilai Islam serta menanamkan pola pikir dan sikap yang Islami.
Penulis: Wahidatul Nikmah
Editor: Ahmad Ainul Yakin



