Syaikh Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili merupakan sosok masyhur yang memiliki kecerdasan dan keterampilan luar biasa dalam bidang menulis. Karya-karya beliau telah tersebar luas mulai dari berbagai bidang ilmu, diantara karyanya yang terkenal dari bidang ilmu Al-Qur’an adalah kitab tafsir yang berjudul At-Tafsīr Al-Munīr Fī Al-Aqīdah Wa As-Sharī’ah Wa Al-Manhaj.
Tujuan Penulisan Kitab Tafsir Al-Munir
Tujuan utama dalam penulisan kitab tafsir Al-Munir tertulis dalam kata pengantarnya, mufassir mengatakan bahwa ia ingin menciptakan sebuah ikatan erat antara seorang muslim dengan Al-Quran. maka, metode yang ia gunakan adalah dengan cara menerangkan hukum-hukum fiqih Al-Quran secara luas yang berbeda dengan kalangan ahli fiqih yang biasa dikenal.
Metode tersebut membuat pembaca juga dapat memahami kandungan seperti aqidah, akhlak, manhaj dan perilaku, konstitusi umum, dan faedah-faedah yang terpetik dari ayat Al-Qur’an baik di dalam struktur sosial bagi setiap komunitas masyarakat maju maupun dalam kehidupan pribadi bagi setiap manusia.
Baca Juga: Ilmu Mantiq: Sebuah Gagasan Al-Farabi tentang Peranan Logika
5 Metode Munasabah yang Wahbah Az-Zuhaili Gunakan
Dalam penafsirannya terhadap Al-Quran, Wahbah Al-Zuhaili juga sangat memperhatikan korelasi antar ayat dengan ayat sehingga ayat tersebut seolah-olah merupakan satu ungkapan yang mempunyai kesatuan dalam menggali makna Al-Quran secara menyeluruh. Yang mana konsep pendekatan itu dalam ilmu Al-Quran disebut juga dengan ilmu munasabah.
Wahbah Az-Zuhaili dalam tafsirnya menggunakan 5 metode munasabah, yaitu:
1. Bentuk munasabah antar ayat dalam satu surah
Sebagai contoh, pada QS. Hud Ayat 112-113. Wahbah Az-Zuhaili menyimpulkan bahwa Allah memerintahkan Rasul dan orang-orang yang beriman untuk beristiqomah dalam beribadah dan tidak keluar dari batasan Agama, serta tidak bersandar kepada orang-orang yang zalim. lalu pada QS. Hud ayat 114 Allah memerintahkan untuk mengerjakan shalat.
Ini merupakan dalil bahwa amal ibadah yang paling agung setelah beriman kepada Allah swt adalah shalat. Menurutnya, shalat merupakan asas dari segala bentuk ibadah dan sebagai tiang agama.
2. Munasabah antar kalimat dengan kalimat dalam ayat
Wahbah Az-Zuhaili dalam menganalisis munasabah kalimat dengan kalimat terkadang menggunakan metode a’taf atau penghubung, contohnya seperti ayat di bawah ini:
ثُمَّ سَوّٰىهُ وَنَفَخَ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِهٖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ.
“Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalam (tubuh)-nya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati bagimu, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur”
Jika dilihat dari ayat tersebut, السَّمْعَ merupakan kalimat a’taf (tanda hubung) yang dihubungkan dengan kalimat وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۗ yang menjadi ma’tufnya (yang dihubungkan). Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa munasabah antar kalimat dengan menggunakan ‘athaf atau tanda penghubung, mencerminkan urutan logis dalam proses penciptaan manusia.
Pertama, pendengaran disebutkan karena manusia pertama kali menerima informasi melalui pendengaran. Kemudian penglihatan, sebagai langkah berikutnya setelah mendengar. Terakhir, hati atau akal pikiran, menunjukkan bahwa setelah manusia menerima informasi melalui pendengaran dan penglihatan, akal pikiran dan pemahaman menyusul.
Dengan demikian, munasabah antar kalimat tersebut memberikan urutan yang logis dan sesuai dengan tahapan perkembangan manusia.
3. Munasabah antar satu surah dengan surah sebelumnya
Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan munasabahnya di setiap surah. Namun beberapa surah ada yang tidak dijelaskan munasabahnya yakni surah Al-Baqarah, surah An-Nahl, surah Al-Ahzab, surah Muhammad dan surah Qaf.
Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan bentuk munasabah ini dengan metode menjelaskan secara panjang lebar. Misalnya ketika menghubungkan surah ash-Shaffat dengan surah Yasin, Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan hubungan kedua surah ini terlihat dari beberapa aspek.
Diantaranya posisi surah Ash-Shaffat yang ditempatkan setelah surah Yasin. Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan bagaimana posisi dan konten surah Ash-Shaffat memberikan penjelasan lebih lanjut terhadap tema yang tertulis dalam surah Yasin, terutama terkait keadaan orang mukmin dan kafir di dunia dan akhirat.
4. Munasabah antara awal surah dengan akhir surah sebelumnya
Sebagai contoh, Wahbah menghubungkan awal surah Al-Hadid dengan akhir surah Al-Waqi’ah. Surah Al-Waqi’ah diakhiri dengan perintah bertasbih sebagai berikut:
فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيْمِ
“Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Maha besar.” (QS. Al-Waqi’ah [56]:96)
Sedangkan dalam surah Al-Hadid seperti berikut:
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
“Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Hadid [57]:1)
Menurut Wahbah Az-Zuhaili ayat itu menjelaskan bahwa seakan-akan dikatakan “Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar”. Kemudian Allah swt menginformasikan bahwa perintah bertasbih itu benar-benar telah dilakukan dan dijalankan dari dahulu oleh segala apa yang ada di langit dan di bumi.
5. Munasabah antar nama surah dengan tujuan turunnya
Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan munasabah tersebut di seluruh surah dalam Al-Qur’an. Selain menjelaskan tujuan adanya penamaan surah, Wahbah juga mengemukakan nama lain dari surah tersebut. Misalnya dalam menguraikan penamaan surah Fathir.
Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan bahwa surah ini dinamakan surah Fathir karena pada ayat pembukaannya terdapat lafal Fathir yang merupakan sifat Allah swt. Yang menunjukkan pengertian penciptaan dan pengadaan alam semesta yang begitu besar.
Surah ini juga dinamakan Al-Mala’ikah karena bagian awal surah ini juga menerangkan bahwa Allah swt menjadikan malaikat sebagai utusan-Nya yang menjadi perantara antara Allah swt. Dan para Nabi-Nya untuk menyampaikan risalah kepada mereka.
Kesimpulan
Dengan demikian dapat kita simpulkan, konsep pemahaman munasabah Al-Quran pemikiran Wahbah Az-Zuhaili berupaya untuk menciptakan sebuah harmoni antar ayat maupun surah dalam Al-Qur’an, sehingga kita dapat menggali kemukjizatan Al-Quran dan mengambil hikmahnya.
Penulis: Toatin Nur Aliyah (Mahasiswi Uin Sunan Ampel Surabaya)



