ArtikelDunia Islam

Qasam Al-Qur’an: Jawaban untuk Orientalis tentang Keraguannya terhadap Al-Quran

Tidak sedikit ditemui orientalis yang mengkaji Islam dengan mengeluarkan statement yang sangat ekstrim. Mereka seolah mencari-cari celah untuk dapat menemukan titik keraguan dalam agama Islam, terlebih lagi mengenai otentisitas Al-Qur’an. Kitab suci umat Islam tersebut pun turut menjadi objek penelitian orientalis dan kemudian banyak melahirkan pendapat yang meragukan kebenaran Al-Qur’an.

Hal tersebut sebenarnya dapat kita jawab dengan menyajikan aspek-aspek yang membuktikan keautentikan Al-Qur’an. Salah satunya dengan adanya Sumpah Allah atau Qasam dalam Al-Qur’an. Sebelum membahas lebih jauh, perlu kiranya penjelasan sekilas tentang gambaran orientalis.

Apa itu Orientalis?

Orientalis adalah golongan sarjana atau intelek Barat yang banyak memfokuskan kajian pada dunia Timur, khususnya dalam hal keilmuwan, peradaban, dan agama. Secara sederhana orientalis merupakan seseorang yang melakukan kajian tentang segala aspek dunia keTimuran mulai dari sastra, sejarah, keadaan antropologi, bahasa, psikologi, bahkan agama.

Sedangkan kata orientalisme berasal dari kata latin yaitu oriens yang artinya rising of the sun dalam Bahasa Inggris, adapula yang mengartikan sebagai the eastern part of the world  yang berarti belahan dunia Timur. Kemudian pendapat beberapa tokoh (Hanafi, 1981) mendefinisikan orientalisme secara sederhana sebagai ilmu-ilmu yang berhubungan dengan dunia Timur atau sebagai kegiatan mengkaji persoalan mengenai budaya ketimuran, dengan menggunakan kaidah Barat.

Baca juga: Pro dan Kontra Ilmu Munasabah dalam Al-Qur’an

Sejarah mengenai munculnya orientalisme tidak diketahui dengan jelas, sederhananya orientalisme muncul akibat adanya perbenturan antara Islam dengan Kristen. Sedangkan kekalahan Kristen pada Perang Salib menjadi motivasi terkuat bagi Barat untuk mengawali studinya terhadap dunia ke Timuran. Hal itu berlandaskan unsur kebencian yang bertujuan dapat menyerang kembali Islam dari dalam.

Pendapat Orientalis tentang Al-Qur’an

Tidak dapat dikatakan bahwa semua orientalis memiliki perasaan dendam dan kebencian pada agama Islam. Faktanya terdapat beberapa tokoh orientalis yang tidak memiliki rasa kebencian tersebut seperti Annemarie Shcimel, orientalis asal Jerman yang mengakui keautentikan Al-Qur’an bahkan mengaplikasikan pemikiran mengenai tasawuf ke dalam karyanya.

Kemudian orientalis asal Jepang bernama Tashihiko Izutsu yang mengemukakan pendapatnya bahwa Al-Qur’an adalah wahyu yang berasal dari Tuhan. Pandangannya tersebut mengindikasikan bahwa dirinya mengakui Al-Qur’an bukanlah karangan manusia. Selanjutnya tidak sedikit juga orientalis yang terang-terangan berpendapat ekstrim mengenai agama Islam, sebut saja Goldziher keturunan Yahudi yang menempuh pendidikan di Berlin.

Ia berpendapat bahwa Al-Qur’an lahir dari teks sama dengan Bible, sehingga Al-Qur’an tidaklah jauh berbeda dengan Bible bahkan ia mengatakan bahwa adanya variasi bacaan Al-Qur’an menunjukkan kekacauan dan inkonsistensi teks Al-Qur’an. Kemudian orientalis asal Jerman bernama Cristoph Luxenberg  berpendapat bahwasannya bahasa yang digunakan Al-Qur’an sebenarnya adalah bukan bahasa Arab melainkan dipengaruhi oleh bahasa Syiriak-Aramaik yang ia anggap sebagai literatur dan budaya Kristen pada masa itu.

Selain itu Luxenberg juga mengajukan kritik terhadap otentisitas Al-Qur’an, menurutnya ada banyak hal yang perlu di rekonstruksi atau dikaji ulang. Selanjutnya orientalis bernama Abraham Geiger dalam karyanya yang berjudul Judaism and Islam. Geiger menjelaskan bahwasannya Al-Qur’an banyak dipengaruhi oleh agama Yahudi dalam beberapa aspek seperti keimanan, linguistik, dan ranah peraturan hukum.

Tidak hanya itu, ia berpendapat bahwa pandangan mengenai kehidupan serta kisah-kisah yang ada di dalam AL-Qur’an terpengaruh oleh agama Yahudi. Tidak hanya sebatas yang tertulis di atas, tentu masih beragam pendapat orientalis yang menarik kita cari tahu.

Adanya Qasam dalam Al-Qur’an

Dari sekian beragamnya pendapat orientalis di atas, untuk menyikapi pendapat yang menolak keotentikan Al-Qur’an, kita sebagai Muslim dapat menjawab tegas dengan menunjukkan aspek-aspek yang mendukung kebenaran Al-Qur’an, salah satunya dengan menunjukkan sumpah Allah atau Qasam pada Al-Qur’an. Qasam Al-Qur’an adalah perkataan sumpah yang disebutkan langsung oleh Allah yang tertera di dalam Al-Qur’an untuk menyempurnakan hujjahnya. Sebab suatu hukum itu akan jelas dengan dua hal, yaitu adanya persaksian atau dengan sumpah. (Suyuthi, 2009)

Baca juga: Menangis saat Shalat, Batal atau Tidak?

Salah satu sumpah Allah yang ada pada Al-Qur’an seperti pada Qs. Ali Imran [3]:186 “ Kamu pasti akan diuji dalam (urusan) hartamu dan dirimu. Kamu pun pasti akan mendengar banyak hal yang sangat menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi Alkitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik. Jika kamu bersabar dan bertakwa, sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (patut) diutamakan.” 

Melihat sumpah Allah tersebut dapat disimpulkan bahwa seseorang yang akan diberi kitab oleh Allah akan menderita terlebih dahulu. Namun, jika terus bersabar maka akan baik untuk kedepannya. Hal tersebut dapat kita lihat pada kehidupan para nabi terdahulu  yang selama mendakwahkan agama Allah terus menerus diuji dengan berbagai hal tetapi mereka senantiasa bersabar dan bertakwa.

Kemudian sumpah Allah terhadap hari kiamat yang tertera pada Qs. al-Qiyamah [75]: 1 “Aku bersumpah demi hari kiamat.” Redaksi tersebut berisi sumpah Allah bahwa hari kiamat akan terjadi suatu saat nanti. Kemudian baru-baru ini telah diteliti bahwa planet bumi suatu saat lagi tidak layak dihuni manusia lagi atau bahkan sudah tidak ada kehidupan. Dengan begitu, sumpah Allah tentang hari kiamat dipastikan benar adanya.

Kesimpulan

Sudah jelas bahwa di dalam Al-Qur’an tidaklah berisi kata-kata bualan semata melainkan berisi seluruh firman Allah yang benar adanya. Oleh karena itu, adanya qasam dalam Al-Qur’an memiliki tujuan untuk menjadi penguat guna meyakinkan dan menegaskan seluruh isi Al-Qur’an. Para orientalis yang meragukan kebenaran Al-Qur’an tidak lain hanyalah mereka yang tidak mau menerima kebenaran Al-Qur’an karena adanya perasaan kebencian pada agama Islam.

Wallahua’lam bi Shawab

 

Penulis: Septhiana Lutfia Hajar

Editor  : Ahmad Ainul Yakin

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *