ArtikelFeature

Al ‘ilmu wal ‘Alim

Ilmu dan Alim bagaikan dua sejoli yang tidak bisa di pisahkan. Ilmu yang mumpuni akan membawa seseorang menjadi alim yang diinginkan. Lalu, apakah bisa di katakan alim jika seseorang tidak berilmu?

Ketahuilah bahwasanya sebutan alim di sematkan bagi mereka yang hidup dan jalannya sesuai dengan ilmunya. Inilah yang kemudian di namakan alim, lagi Amil. Yakni alim dengan makna tahu atau mengerti, dan Amil berarti mengamalkan.

Agus Muhammad Hasan pernah berkata. “Ilmu yang kita miliki, jika hanya ilmu tanpa perbuatan, maka ilmu yang kita miliki hanya menjadi ilmu pengetahuan. Akan tetapi, jika ilmu yang kita miliki lantas kita amalkan, barulah dinamakan sebagai ilmu yang bermanfaat,” ujarnya.

Seperti Cahaya

Ilmu juga di serupakan dengan cahaya yaitu barang siapa yang memilikinya, maka ia akan terjaga dari kesalahan tindakan dan ucapannya. Ilmu menuntun seseorang yang tadinya menuju ke jalan yang salah, berpindah menuju jalan yang di ridhoi Allah.

Baca juga: Innalillahi, Syaifullah Ibnu Nawawi Kepala Biro NU Online Jatim Meninggal

Dalam kitab Adabul ‘Alim wal muta’alim karya Syekh Hasyim Asy’ari di terangkan, Ibnu Katsir berkata, “Abu bakar memberiku surat ketika aku berada di Irak. Surat tersebut berbunyi, “Wahai anakku, peganglah ilmu atau tetapkanlah ilmu. Sesungguhnya, ilmu itu akan menjadi harta ketika kamu faqir, serta menjadi perhiasan ketika kamu kaya atau lapang.”

Abu Muslim Al khoulani dalam kitab yang sama juga menjelaskan, “Sesungguhnya ulama di bumi ini di serupakan dengan bintang di langit. Ketika bintang-bintang tersebut terlihat jelas, maka manusia akan mendapat petunjuk karenanya.

Jika bintang terlihat samar, maka manusia akan kebingungan.” Adanya bintang juga menjadi hiasan tersendiri bagi langit, malam nampak lebih meriah dan megah dengan kehadiran bintang.

Kehadiran Orang Alim

Begitu juga dengan kehadiran orang alim yang sejatinya melengkapi masyarakat pada umumnya. Dalam sajaknya, Abu Muslim juga menerangkan, “Janganlah kamu sekalian memalingkan wajah dari para perowi ilmu, karena para perowi ilmu itu laksana bintang penunjuk. Jika sebagian bintang hilang, maka bintang bintang lain akan bermunculan.”

Baca juga: Kewajiban Terhadap Teman dalam Kitab Washaya Al Abaa’lil Abnaa’ Karya Syaikh Muhammad Syakir

Ulama di serupakan dengan bintang yang dapat menyinari dan membuat langit terlihat indah. Pun, Ulama juga diibaratkan dengan air jernih yang terus mengalir, lalu sumber dari air yang jernih tersebut adalah kanjeng Nabi Muhammad SAW. Jadi, semakin dekat sesuatu dengan sumbernya, maka akan semakin murni dan jernih kualitasnya.

Agus Syarif Hidayatullah pernah berkata, “Ketika kami para santri membacakan doa setelah belajar, beliau membenarkan sebuah nada atau irama yang seharusnya di baca rendah, namun kami baca dengan nada tinggi.”

“Ampun seneng ganti-ganti nada utawi lagune, mangkih  ndak sanad e mboten dugi.”

Menjaga sanad keilmuann

Hal ini beliau sampaikan karena beliau adalah guru yang amat menjaga sanad keilmuannya, bahkan beliau juga pernah menerangkan ketika beberapa muridnya meminta agar beliau meminjamkan kitabnya kepada para santri untuk kepentingan memperbanyak atau memfotokopi.

Beliau pun menjawab, “Jika saya memang menginginkan untuk menyuruh kalian membuat fotokopi, tentu sejak awal saya sudah menyuruhnya. Namun saya mengajar dengan metode seperti ini tak lain untuk meniru kiai  saya, serta berniat untuk menjaga sanad keilmuan meskipun hanya dengan metode pembelajaran yang sama yaitu saya membacakan, menuliskan, dan ketika waktunya menjelaskan maka saya akan menjelaskan.”

Begitu kokohnya pendirian beliau, bahkan tulisan yang keliru atau kurang tepat akan beliau benarkan, meskipun posisi beliau sudah duduk dan jauh dari papan tulis.

Pahala bermajlis dengan ulama

Dalam kitab Adabul alimul muta’allim juga dijelaskan bahwasanya Ka’bul Akbar Ra. berkata, “Jikalau pahala bermajlis dengan ulama diperlihatkan pada manusia, maka manusia akan saling membunuh karena berebut pahala tersebut, sehingga orang yang memiliki kekuasaan akan meninggalkan kepemimpinannya dan orang yang bekerja di pasar akan meninggalkan dagangannya.”

Sebagian Ulama Salaf menjelaskan. Sebaik-baik pemberian dari Allah adalah akal, adapun seburuk-buruk musibah adalah kebodohan. Dalam hal ini juga berkata Mu’adz bin Jabal,

“Belajarlah ilmu karena mempelajari ilmu adalah kebaikan, mencari ilmu adalah ibadah, mengingat ilmu adalah tasbih, membahas ilmu adalah jihad, memberikan ilmu menjadi jalan mendekat kepada Allah, serta mengajari orang yang belum mengetahui ilmu adalah sedekah.”

Saat naik turunnya iman, tebal tipisnya niatan dan kurang klopnya keadaan, terkadang bisa membuat hati siapa saja termasuk para pencari ilmu menjadi goyah dan tidak stabil. Namun, sejatinya jika kita semakin mendekat kepada dawuh dan amaliyah guru, Insyaallah dengan nur yang ada dalam kepribadian dan kebaikan guru, kita akan tersinari dan terseret pada hal baik, meskipun belum termasuk di dalamnya.

Penulis: Rokhimatus Sholekhah

Editor: Fani Azfar

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *