ArtikelTokoh

Montrase Kehidupan di Halaman Gus Baha

Ada banyak hal yang membuat seorang pendakwah bisa begitu menarik di mata jamaahnya. Mulai dari cara menyampaikan materi, gaya bertutur, latar ideologi, sampai ke ciri khas unik yang membedakannya dari yang lain. Ada yang berdakwah dengan suara lantang dan gaya serius, ada pula yang tenang dan santai. Idealnya, pendekatan dakwah memang menyesuaikan karakter para pendengarnya.

Namun, jika kita melihat dan membandingkan para pendakwah yang populer di Indonesia, banyak yang sepakat bahwa figur seperti Gus Baha berada di level tertinggi. Kealiman, keluasan wawasan keislaman, dan cara penyampaian yang jernih namun membumi membuatnya sangat dihormati dan diterima oleh berbagai kalangan.

Mengenal Sosok Gus Baha

Jika harus memilih satu istilah yang paling tepat untuk menggambarkan sosok Gus Baha, maka mujaddid adalah sebutan yang layak disematkan. Istilah ini berakar dari sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, dalam Musnad Ahmad no. 17184, yang berbunyi:

فقد روى أبو داود عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن الله يبعث لهذه الأمة على رأس كل مائة سنة من يجدد لها دينها. قال البيروتي في أسنى المطالب: رواه أبو داود وغيره، وصححه الحاكم وقال الزين العراقي: سنده صحيح

“Sesungguhnya Allah akan mengutus kepada umat ini, pada setiap awal seratus tahun, seseorang yang akan memperbarui (menyegarkan kembali) agama mereka.” (HR. Abu Dawud, no. 4291; Ahmad, no. 17184)

Di dalam semangat tajdid atau pembaruan, Gus Baha hadir dengan karakter keilmuan yang khas, mendalam, tenang, dan sangat kontekstual. Beliau dikenal dengan ceramah-ceramah yang menyentuh aspek mendasar dari keislaman, seperti pentingnya akhlak, keluasan berpikir, serta cara memahami teks keagamaan secara jernih dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Gus Baha tidak memaksakan perubahan bentuk, tetapi menawarkan cara pandang yang segar terhadap tradisi. Inilah yang membuatnya disebut sebagai ulama reformis, yakni sosok yang membuka jalan kesadaran baru dalam beragama tanpa harus melepaskan akar tradisinya.

Salah satu hal menarik yang patut dicatat adalah bahwa beliau pernah menjadi perhatian sejumlah akademisi yang mengusulkan pemberian gelar doktor kehormatan (honoris causa) atas keluasan ilmu dan kedalaman pemikirannya yang menurut kesaksian banyak ulama terkemuka melampaui batas kebiasaan. Namun demikian, beliau secara konsisten menolak tawaran tersebut karena mempertimbangkan sejumlah kekhawatiran pribadi. Alih-alih menerima penghargaan akademik, beliau justru memilih jalan hidup sebagai seorang kiai yang setia membina dan mendidik para santri, suatu peran yang dijalaninya dengan penuh ketekunan hingga kini.

Jika ditelusuri lebih jauh melalui jejak sejarah pendidikannya, tak ditemukan alasan yang secara eksplisit menjelaskan mengapa beliau menolak kesempatan belajar ke Rushoifah atau Yaman seperti kebanyakan mahasantri lain. Besar kemungkinan, pilihannya untuk tetap tinggal dan mengabdi di dalam negeri—khususnya di Pesantren Al-Anwar dan Pesantren Narukan yang merupakan bentuk istikamah dalam khidmah beliau yang justru menjadi sumber kekuatan keilmuannya.

Dalam suatu kesempatan, Prof. Dr. M. Quraish Shihab menyatakan bahwa sulit menemukan seseorang yang memahami dan menghafal detail-detail Al-Qur’an serta fikih yang tersirat dalam ayat-ayatnya seperti Gus Baha. Pernyataan ini disampaikan dalam acara “Ngaji Bareng” di Universitas Islam Indonesia (UII) pada Desember 2024.

Hal serupa diakui oleh Ustadz Adi Hidayat di dalam sebuah ceramah. Beliau menyebut Gus Baha sebagai Manusia Qur’an. Beliau menuturkan bahwa di Rembang terdapat seorang ulama yang tidak banyak dikenal orang, namun memiliki pemahaman luar biasa tentang fikih-fikih dalam Al-Qur’an. Ustadz Adi Hidayat menganjurkan jamaah untuk menghadiri pengajian Gus Baha jika ada kesempatan, karena beliau termasuk di antara orang yang benar-benar mengerti Al-Qur’an.

Gus Baha dikenal sebagai ulama dengan keilmuan yang luas dan mendalam. Beliau adalah seorang hafiz Al-Qur’an, ahli tafsir, ahli fikih, dan menguasai ilmu alat seperti nahwu dan sharaf. Keahliannya tidak hanya diakui oleh masyarakat umum, tetapi juga oleh para ulama dan cendekiawan Islam terkemuka di Indonesia.

Di dalam berbagai ceramahnya, Gus Baha sering menekankan pentingnya memahami Al-Qur’an dengan meneladani kehidupan Rasulullah sebagai pedoman utama. Beliau menyampaikan bahwa ilmu tafsir dimulai dari dialog umum, dan bahwa Al-Qur’an memiliki makna yang luar biasa yang harus dipahami dalam konteks kehidupan sehari-hari. Pengakuan dari tokoh-tokoh besar seperti Prof. Quraish Shihab dan Ustadz Adi Hidayat inilah yang menunjukkan bahwa Gus Baha merupakan sosok ulama yang mampu menjembatani antara tradisi keilmuan klasik dan kebutuhan masyarakat modern dalam memahami ajaran Islam.

baca juga: Urgensi Ketokohan Perempuan dalam Literasi Hadis Abad Pertama Hijriyah

Islam Keseharian dan Madzhab Inklusifitas

Banyak catatan keseharian yang merekam pemikiran Gus Baha yang dikenal sangat kontekstual dan membumi. Gagasan-gagasannya yang kritis terhadap model keberislaman yang berkembang dapat ditelusuri melalui platform seperti Santri Gayeng maupun berbagai konten dakwah digital yang tersebar luas di media. Salah satu pokok pemikiran yang disorot oleh Puthut EA dalam tayangan Mojok.co pada segmen semenjana adalah konsep Islam keseharian, yakni keberislaman yang dijalani secara wajar dan proporsional, baik dalam hal ibadah maupun muamalah sebagai makhluk sosial dan spiritual.

Gus Baha juga sering mengemukakan sejumlah kaidah yang bersifat paradoksal, namun justru berhasil menggugurkan pola pikir keagamaan yang kaku dan cenderung takfiri (mudah mengafirkan). Salah satu yang paling mencolok adalah pernyataannya bahwa dunia lebih penting daripada akhirat. Jika dianalisis melalui kacamata filsafat logika, pandangan tersebut tidak serta-merta dapat dianggap menyimpang.

Sebaliknya, beliau merepresentasikan bentuk kritik yang tajam terhadap cara berpikir yang terlalu dikotomis dalam memahami hubungan antara kehidupan dunia dan akhirat. Di dalam pendekatan logika dialektis, pernyataan yang tampak bertentangan justru kerap mengandung kebenaran yang lebih mendalam ketika ditelusuri melalui asas tujuan dan nilai yang melatarinya.

Gus Baha, melalui kaidah tersebut, seolah sedang mengembalikan kesadaran bahwa dunia adalah medium aktualisasi nilai-nilai ketuhanan. Dunia bukanlah lawan akhirat, melainkan prasyarat untuk mencapainya. Ihwal tersebut, logika teleologis (berbasis tujuan) menunjukkan bahwa karena akhirat hanya dapat dicapai melalui amal, dan amal hanya mungkin diwujudkan dalam kehidupan dunia, maka dunia secara rasional memiliki urgensi yang tidak bisa ditinggalkan.

Kaidah logis klasik dalam ushul fiqh bahkan menyatakan, maa laa yatimmu al-wājib illā bihi fahuwa wājib (apa yang tanpanya sesuatu yang wajib tidak sempurna, maka ia pun menjadi wajib). Artinya, dunia menjadi penting bukan karena nilainya otonom, melainkan karena fungsinya sebagai syarat kesempurnaan akhirat.

Pandangan Gus Baha semacam ini memiliki korespondensi dengan pemikiran Al-Ghazali, yang melihat dunia bukan sebagai sumber kerusakan, melainkan sebagai tempat ujian dan peluang bagi manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Demikian pula dalam filsafat Mulla Sadra, dunia adalah arena gerak substansial manusia menuju kesempurnaan eksistensial.

Bahkan dalam kerangka filsafat moral Immanuel Kant, dunia adalah satu-satunya ruang ketika kebebasan moral dan tanggung jawab etis dapat diwujudkan secara konkret. Maka, mengutamakan dunia dalam membaca (konteks) Gus Baha bukanlah bentuk glorifikasi terhadap materialitas, melainkan penegasan bahwa spiritualitas tanpa pijakan realitas hanyalah ilusi semata (nifaaqul ‘amal).

baca juga: KH Mukhdzir bin Zainal Arifin: Ulama Penulis dari Cilacap

Islam Cukup Dijalani dengan Berpikir

Rangkaian kisah yang disampaikan melalui berbagai platform media sosial turut membentuk corak keberislaman yang praktis dan cakap. Mulai dari penceritaan sirah nabawiyah, kehidupan para sahabat, hingga isu-isu keislaman kontemporer yang relevan semua ini memberi kontribusi pada pemahaman agama yang lebih luas. Salah satu gagasan penting yang menegaskan kemudahan dalam menjalani Islam adalah ajakan untuk menjadi hamba yang berakal, hamba yang berpikir.

Pernyataan ini disampaikan dalam ceramah haul KH Abdul Hamid Pasuruan ke-41 tahun lalu, yang menyatakan bahwa logika dalam Islam adalah ma‘rūf (kebaikan yang diakui secara universal) dan ma‘qūl (masuk akal). Oleh karena itu, umat Islam semestinya diberi ruang dan dorongan untuk berpikir secara nyaman dan merdeka.

Aktivitas berpikir di sini dimaknai sebagai upaya mengasah nalar yang sehat melalui proses belajar yang berkelanjutan. Kemampuan bernalar ini tidak hanya menunjang pemahaman terhadap aspek keagamaan, tetapi juga memperluas cara pandang dalam merespons kebutuhan hidup yang kompleks. Dalam berbagai ceramahnya, Gus Baha kerap menyinggung pentingnya penggunaan logika dalam berbagai dimensi keberislaman, seperti logika kenabian (nubuwwah), logika dalam membimbing agama, logika akidah, ilmu dirayah, hingga logika dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Tak jarang Gus Baha menyampaikan ceramah maupun pengajian dengan tema-tema yang terdengar sederhana namun sarat makna, seperti kiat menjadi wali dengan cara yang sangat terbuka dan mudah dipahami, cara ringan untuk menjadi seorang alim, hingga menjadi wali hanya dengan menjalani aktivitas sehari-hari seperti makan dan tidur. Beliau juga pernah menyampaikan bahwa para pendosa pun memiliki peluang untuk merasakan surga, serta menawarkan definisi kesalehan dalam bentuk yang paling sederhana. Semua ini menjadi bagian dari pendekatan logis dan reflektif beliau dalam merumuskan makna kehidupan beragama secara lebih membumi dan inklusif.

Revitalisasi Tradisi Nalar dalam Filsafat Islam

Pendekatan keberislaman yang ditawarkan Gus Baha, terutama melalui penguatan peran akal dalam beragama, menghidupkan kembali tradisi filsafat Islam yang telah lama memperjuangkan posisi nalar dalam memahami wahyu. Dalam sejarah pemikiran Islam, relasi antara akal dan agama bukanlah sesuatu yang asing. Tokoh-tokoh besar seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, dan al-Ghazali menempatkan akal sebagai instrumen penting untuk mencapai kebenaran ilahiah.

Al-Farabi misalnya, dalam al-Madina al-Fadilah, menjelaskan bahwa masyarakat ideal adalah masyarakat yang dipimpin oleh orang yang mampu menyatukan hikmah (filsafat) dan syariat. Sementara itu, Ibn Sina dalam al-Isharat wa al-Tanbihat menekankan bahwa akal merupakan jalan epistemologis untuk menyambut cahaya wahyu, bahkan dalam persoalan metafisika.

Apa yang disampaikan, apa yang diwasiatkan Gus Baha hari ini adalah memperbarui warisan tersebut dalam bentuk yang lebih kontekstual dan dapat dijangkau masyarakat awam. Tak mengherankan bila beliau kerap disebut sebagai sosok yang gigih memperjuangkan kepentingan kaum awam.

Ceramah-ceramahnya yang menyederhanakan konsep-konsep berat dalam agama seperti takdir, dosa, kesalehan, atau bahkan wilayah kewalian mengandung semangat rasionalisasi yang khas dalam filsafat Islam klasik. Akan tetapi, narasi tersebut tidak berhenti di ruang teoretis. Gus Baha mengemasnya dalam bentuk dialog sehari-hari yang dekat dengan pengalaman sosial masyarakat, sehingga yang semula bersifat abstrak menjadi dapat dirasakan sebagai nilai hidup.

Di dalam perspektif hermeneutika filosofis Hans-Georg Gadamer dalam Truth and Method, pengalaman religius tidak pernah lepas dari proses penafsiran yang terus-menerus. Gus Baha memfasilitasi ruang penafsiran ini dengan membebaskan umat dari cara pandang yang literalistik dan ketat, lalu mengajak untuk merengkuh makna melalui pendekatan kebijaksanaan.

Hal ini juga dapat dibaca dalam kerangka maqāṣid al-syarī‘ah, yakni upaya menjaga lima pokok utama, yakni agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Pemberdayaan akal dalam beragama yang diperjuangkan Gus Baha selaras dengan maqasid ini, terutama dalam aspek hifz al-‘aql (menjaga akal), yang menjadi fondasi bagi keberlangsungan etika dan peradaban.

Melalui pendekatan yang tenang, rasional, dan dekat dengan keseharian, Gus Baha menunjukkan bahwa agama bisa dijalani dengan kepala dingin tanpa kehilangan kedalaman makna. Beliau tidak menawarkan model keberislaman yang berat dan menekan, tapi justru memberi ruang bagi siapa pun untuk berpikir, bertanya, dan tumbuh dalam pemahaman yang wajar.

Nilai-nilai yang disampaikan terus terasa relevan dalam keseharian, dari soal ibadah sampai urusan hidup yang paling sederhana. Apa yang ditunjukkan Gus Baha selama ini adalah ihwal keistikamahan dalam menjadikan ilmu itu bermanfaat. Dari ceramah-ceramah beliau, kita belajar bahwa Islam bukan tentang seberapa banyak yang kita tahu, tapi seberapa bijak kita memahami dan mengamalkannya dalam hidup nyata.

Penulis : Muhammad Ariby Zahron

Editor   : Ahmad AY

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *