Marah adalah salah satu bentuk emosi dasar yang dimiliki manusia. Bukan sesuatu yang berbahaya, itu adalah respons yang biasa muncul dan normal ketika kita mengalami guncangan.
Ada banyak hal yang dapat memancing kemarahan, diantaranya rasa kecewa, hilangnya keadilan, atau adanya sesuatu yang mengancam. Marah sering dikonotasikan pada hal yang bersifat negatif, padahal marah sendiri merupakan emosi yang seharusnya perlu untuk divalidasi bukan musuh berbahaya yang harus kita usir untuk pergi. Namun, marah memiliki manfaat yang jika kita mampu mengendalikannya justru akan menjadi tameng pelindung diri. Marah mampu memberikan batasan pada orang lain untuk memperlakukan kita dengan tidak semena-mena.
Bagaimana Cara Terbaik Mengekspresikan Rasa Marah?
Masalah muncul ketika kita tidak mampu mengekspresikan marah dengan baik dan benar. Luapan emosi yang meledak-ledak dapat merusak hubungan dekat bahkan bisa jadi pemicu munculnya masalah baru. Sudah banyak kisah terlukanya orang-orang akibat amarah yang tidak terkontrol salah satunya dengan perkataan yang menyakitkan. Islam yang identik dengan adab telah mengatur sedemikian rupa bagaimana caranya mengontrol amarah, salah satu yang dinukil oleh Sayyid Muhammad Amin bin Idrus dalam kitabnya yang berjudul Kitaabul Adaabi, beliau berpesan untuk tidak menentukan suatu keputusan dan tidak berbicara saat marah, seperti yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW, yang diriwayatkan oleh Ahmad:
إِذا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ
Artinya: “jika salah seorang dari kalian dalam keadaan marah, maka diamlah”.
Marah yang Tidak Ramah
Dari hadist di atas sudah jelas ditekankan bahwa luapan dari marah yang tak terkontrol akan sangat berbahaya dan dampaknya akan berkepanjangan. Hal-hal yang bisa terjadi jika emosi disalurkan dengan buruk diantaranya:
Hancurnya Silaturahmi
Ucapan kasar, penghinaan, caci maki atau tuduhan tanpa bukti, jika dilontarkan saat amarah tinggi dapat menimbulkan sakit hati dan melukai perasaan yang mendalam. Bukankah luka batin akibat lidah yang tajam lebih sulit disembuhkan dari luka sayatan pisau? Sekali kata yang terucap akan sangat sulit untuk ditarik kembali. Bukan tak mungkin jika hubungan teman, pasangan bahkan keluarga sekalipun akan merenggang.
Hilangnya Kepercayaan
Ledakan emosi yang berlebihan akan membuat orang merasa takut dan enggan jika harus berinteraksi dengan kita. Di mata mereka kita akan dianggap sebagai sosok manusia yang tidak bisa mengelola perasaan. Pada akhirnya mereka akan menghindar, dan kita akan kehilangan banyak teman, lebih menyedihkannya lagi jika masyarakat pun ikut menjauh dari kita.
Tercorengnya Citra Diri
Luapan emosi yang disalurkan melalui kata-kata kasar bahkan penghinaan akan melahirkan paradigma orang sekitar bahwa kita bukanlah sosok yang dewasa dan cenderung temperamental. Jika paradigma tersebut melekat, ini akan sangat berdampak pada lingkungan pergaulan. Reputasi yang susah payah dibangun akan hancur seketika.
Marah bukanlah sesuatu yang salah, hanya saja pengendalian kita terhadap emosi tersebutlah yang salah. Cara meluapkan dengan kata-kata kasar dan menyakitkan akan menghancurkan hubungan saat itu juga. Namun, jika amarah dipenndam dalam diam sejatinya diamnya itu sedang merakit bom waktu dan tinggal menunggu waktunya tiba. Maka cara terbaik pengendalian amarah adalah dengan diam, lalu utarakan penyebabnya ketika tenang.
Penulis: Eva Nurpadilah
Editor: Bella Fadhilatus Sanah



