Beberapa tren populer terakhir, gaya hidup modern menghadirkan beragam cara bagi manusia untuk merawat dirinya. Media sosial dipenuhi gambar orang berlibur setelah gajian, membungkus secangkir kopi mahal dengan tagar me time, atau memamerkan rak buku penuh dengan self-help terbaru. Seluruh adegan kehidupan ini seakan menjadi jawaban atas ritme hidup yang melelahkan.
Namun, ketika saya mengamati lebih jauh, ingatan saya melayang pada tulisan-tulisan klasik yang berbicara tentang disiplin diri dan tujuan hidup. Mulai dari Meditations (meditasi) karya Marcus Aurelius yang menekankan pengendalian hasrat, hingga pemikiran Al-Ghazali tentang tazkiyatun nafs, penyucian jiwa dari dorongan-dorongan yang mengikat. Di sana ada benang merah yang menarik bahwa upaya memperbaiki diri selalu dikaitkan dengan kesadaran akan batas dan tanggung jawab yang bukan sekadar kenyamanan.
Kontras perilaku ini membuat saya bertanya-tanya apakah self-reward, self-development, dan determinasi personal yang kini populer benar-benar menghidupkan kesadaran seperti itu atau jangan-jangan semua ini hanyalah versi baru dari pengejaran ego yang kadang diselimuti narasi religius yang memberi rasa benar pada sesuatu yang sebetulnya dangkal?
Self-Reward antara Psikologi dan Syariat
Fenomena self-reward dan istilah self yang lain memang dipandang sebagai bentuk penghargaan diri setelah melewati tekanan kerja maupun rutinitas harian. Secara psikologis, hal itu dianggap sehat karena memberi ruang jeda, relaksasi, serta penguatan motivasi. Namun dalam perspektif Islam, penghargaan terhadap diri sendiri tidak dapat dilepaskan dari prinsip dasar syariat, yakni keseimbangan (tawazun) dan keterhindaran dari sifat berlebihan (israf). Al-Qur’an sendiri telah menegaskan, “Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan” (QS. Al-Isra’ [17]: 27). Ayat ini memberi landasan normatif bahwa penghargaan diri, jika berubah menjadi perilaku konsumtif tanpa kendali, justru menjauhkan manusia dari nilai spiritual yang hakiki.
baca juga: Benarkah Kekayaan Bisa Menjamin Kesejahteraan? Ini Pandangan Ibnu Khaldun
Paradigma moral, tampaknya menjadi suatu landasan penting dalam menuntun telaah perilaku manusia. Gagasan ini lahir tidak terlepas dari konteks yang melingkupinya. Ia selalu diikat oleh prinsip maqasid syariah, yakni tujuan syariat menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Maka, penghargaan diri baru sahih disebut bernilai jika mampu menopang kelima tujuan tersebut.
Membeli barang mewah tanpa urgensi nyata misalnya, tidak hanya berpotensi melanggar prinsip menjaga harga, melainkan juga melemahkan fungsi jiwa. Hal itu dapat menjerumuskan ke dalam lingkaran nafsu. Kritik ini penting untuk mengimbangi narasi populer yang kerap menyamakan sel-reward dengan perayaan konsumtif.
Kritik Budaya terhadap Self-Reward Konsumtif
Apabila ditafsirkan melalui kritik budaya, modernitas saat ini sebenarnya merefleksikan tekanan kapitalisme yang menjual ilusi kebahagiaan. Media sosial mengonstruksi citra bahwa diri yang sehat adalah diri yang bisa membeli, mengoleksi, dan memamerkan sesuatu. Inilah yang kemudian menjadi catatan penting bahwa penghargaan diri yang bergeser menjadi konsumsi berlebihan bukanlah apresiasi lagi, melainkan perbudakan gaya hidup. Di titik ini, Islam telah menawarkan koreksi bahwa nilai diri tidak diukur dari benda yang dipunya, tetapi bagaimana seseorang menata nafsu dan mensyukurinya.
baca juga: Mengajar Bukan Hanya Mengisi Kepala, Tapi Menyentuh Jiwa
Melihat dari perspektif sosiologi pengetahuan, istilah “self” dalam berbagai derivasi modern lahir dari wacana individualisme barat yang mengedepankan otonomi pribadi. Namun, ketika wacana ini diadopsi secara serampangan di sebagian masyarakat muslim, ia berpotensi menimbulkan ketegangan epistemologis. Di dalam Islam, penghargaan pada diri tidak bisa dilepaskan dari orientasi transedental. Hal itu berarti bahwa segala nikmat berasal dari Allah dan akan dipertanggungjawabkan. Maka, Islam menempatkan self bukan sebagai entitas otonom, tetapi sebagai subjek yang berkaitan antara berkah Tuhan dan nikmat seorang hamba.
Kesadaran kritis semacam ini mengantarkan kita pada simpulan bahwa self beserta derivasi lainnya dalam perspektif Islam hanyalah sah sejauh ia mampu memperkuat dimensi spiritual dan sosial manusia. Ia gagal memenuhi fungsi etik jika berhenti pada pemanjaan ego dan di sini lah perbedaan substansialnya. Wacana modern menjual budaya self reward sebagai bentuk kebebasan, sedangkan Islam mengarahkan self-reward sebagai latihan bertanggung jawab.
Penulis: Muhammad Ariby Zahron
Editor : Ahmad AY



