ArtikelKalam Hikmah

Ketika Standar Dunia Ngga Ada Habisnya, Al-Qur’an Jadi Jawaban

Di kehidupan sekarang, banyak orang tanpa sadar menilai dirinya dari apa yang terlihat di layar. Media sosial perlahan membentuk standar hidup: siapa yang terlihat sukses, siapa yang pantas dipuji, dan siapa yang dianggap bernilai. Angka, tampilan, dan pengakuan orang lain sering dijadikan ukuran utama. Akhirnya, hidup terasa seperti ajang saling membandingkan yang tidak ada habisnya.

Masalahnya, standar seperti ini tidak pernah benar-benar adil. Tidak semua orang memulai hidup dari titik yang sama. Kesempatan dan kondisi setiap orang berbeda. Ketika nilai diri hanya diukur dari standar dunia yang terus berubah, wajar jika banyak orang merasa kurang, merasa tertinggal, atau bahkan kehilangan arah tentang siapa dirinya.

Ukuran Nilai Manusia Menurut Al-Qur’an

Di tengah ramainya standar dunia tersebut, Al-Qur’an menawarkan cara pandang yang lebih tenang. Dalam Surah Al-Hujurāt ayat 13, Allah mengingatkan manusia tentang ukuran nilai yang sebenarnya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.”
(QS. Al-Hujurāt: 13)

Ayat ini menggeser cara kita memandang nilai diri. Nilai manusia tidak ditentukan oleh status, popularitas, atau pencapaian yang terlihat, tetapi oleh ketakwaannya. Ukuran ini tidak bisa dipamerkan dan tidak bisa dibandingkan secara kasatmata. Dengan standar ini, setiap orang punya kesempatan yang sama untuk bernilai di hadapan Allah.

baca juga: Awas! Ini Hal-Hal yang Haram Dilakukan Perempuan Saat Haid

Menjalani Dunia dengan Seimbang: : Antara Pencapaian Dunia dan Nilai Akhirat

Namun, Islam tidak mengajarkan kita untuk menjauh dari kehidupan dunia. Menjadikan takwa sebagai ukuran utama bukan berarti meninggalkan realitas hidup. Islam justru mengajarkan keseimbangan. Allah berfirman:

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ

“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia. Berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
(QS. Al-Qaṣaṣ: 77)

Ayat ini menegaskan bahwa dunia bukan untuk ditinggalkan, tetapi juga bukan untuk dijadikan tujuan utama. Dunia adalah amanah. Ketika dunia dijadikan sumber nilai diri, ia akan melelahkan. Namun ketika dunia dijalani dengan kesadaran dan takwa, ia menjadi sarana untuk berbuat baik dan memperbaiki diri.

baca juga: Kisah Imam Muhammad Abdul Baqi dan Kalung Mutiara yang Mengantarkan Jodohnya

Di sinilah keadilan Islam terasa utuh. Takwa menjadi standar nilai manusia, sementara dunia tetap dijalani secara wajar. Kita tidak perlu terus mengejar pengakuan yang tidak pernah cukup, karena nilai diri tidak bergantung pada penilaian orang lain.

Sebagaimana doa Rasulullah ﷺ yang mengingatkan agar hati kita tidak dikuasai oleh gemerlap dunia:

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا

“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia sebagai kegelisahan terbesar (atau perhatian utama) kami.”

Doa ini seolah menutup kegelisahan manusia modern. Ketika dunia tidak lagi menjadi tujuan utama, hidup terasa lebih ringan. Kita tetap berusaha, tetap berkarya, tetapi tidak kehilangan arah. Pada akhirnya, ketika dunia sibuk membandingkan, Al-Qur’an mengajak kita untuk menilai diri dengan cara yang lebih jujur dan adil, bukan tentang siapa yang paling terlihat, tetapi tentang siapa yang terus berusaha bertakwa.


Penulis: Zaidatur Rizqiyah

Editor  : Ahmad AY

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *