CerpenKalam HikmahQuote

Surat Kecil dari Shen

Kakiku menjelajah aliran sungai jernih dengan arus yang cukup deras, kurasakan dingin begitu hebat hingga mencapai ubun-ubun meski yang tercelup hanya sedalam mata kaki. Entah sudah berapa lama aku terjebak di sini, tempat yang kuasumsikan sebagai hutan gelap misterius dengan sungai dingin terpanjang yang pernah kujumpai. Kulihat pepohonan cemara gunung yang lebat menjulang serta ranting-rantingnya yang terjalin hampir tanpa celah seolah pagar pembatas yang menutup tempat ini dengan dunia luar, aku tak mengerti bagaimana diriku bisa berada di sini namun aku seolah mengenalnya dengan sangat baik.

Hatiku cemas, pelan-pelan kulangkahkan telapak kaki yang terasa perih dan hampir mati rasa akibat cengkraman dingin arus sungai serta lancip bebatuan yang tak sengaja kuinjak agar segera keluar dan kembali menapak tanah. Kini pandanganku beralih pada dua tupai berbulu putih dengan sedikit gradasi warna abu dibagian perutnya yang tengah berlarian mengejar satu sama lain, betapa lincah keduanya melompat dan sesekali terbang dari dahan ke dahan seperti sedang melakukan tarian memukau.

Aku terperanjat, badanku terhuyung ke depan, tanganku tiba-tiba ditarik oleh seorang anak kecil dengan kasarnya. Ia membawaku berlari menuju hilir sungai lebih cepat, sudah beberapa kali aku meneriakinya agar berhenti karena perih di kakiku yang semakin terasa banyak. Anak itu mengabaikanku dan malah mempercepat laju larinya hingga sampai diujung hulu, tangannya mendorongku terjun pada aliran air yang membentuk jeram tanpa aba-aba.

Baca juga : Nutrisi Sehat Selama Bulan Ramadhan Bagi Penderita Diabetes

Pukul dua dini hari.

Mataku terbelalak, aku beranjak duduk dan mengambil botol air di atas nakas samping tempat tidur lalu menegaknya dengan rakus untuk mengusir haus yang tiba-tiba mengusai tenggorokanku. Napasku masih belum kembali normal, sempat kuperiksa telapak kakiku sebelum kuusap keringat yang membanjiri kening sambil melirik jam dinding yang menunjukkan pukul dua dini hari. Mimpi itu lagi, gumamku.

Tiga menit kemudian aku membuka pintu balkon. Udara sejuk segera menyeruak masuk ke dalam kamar. Kujatuhkan tanganku pada pagar besi yang terasa dingin, kunikmati udara sejuk yang menghampiri kulitku dengan sopannya, kuhirup dalam-dalam oksigen paling bersih dan kubuang secara perlahan, rasanya menenangkan. Inilah yang kusukai dari malam, terlepas dari gelapnya yang menyimpan banyak rahasia adalah saat yang terbebas dari berisiknya hiruk pikuk manusia, kudengarkan derik jangkrik dan suara-suara hewan malam yang mengalun indah menambah khidmat bersama orang-orang yang terlelap.

Kupetik saklar bertulisakan on pada lentera antik yang menggantung di samping pintu dan menaruhnya disisi untuk penerangan. Kusandarkan punggungku pada dinding balkon sambil mendongak ke atas dengan sesekali menghirup udara dalam-dalam, terlintas dalam pikiranku perdebatan Kaizure dengan ibu sambungnya yang seharusnya tak perlu kudengar, kalimat kasar yang tidak pantas ia lontarkan kepada bu Maria membuatku kaget dan tertegun. Ucapan Kaizure sukses membuat bu Maria menitikkan air mata meski cepat-cepat dihapusnya untuk menjaga perasaanku, melihat itu tak banyak yang bisa ku perbuat selain memberikan simpati kepada bu Maria dan pamit pulang karena tidak jadi pergi bersama Kaizure. Teringat juga teriakan pedagang asongan di pasar kepada pembeli yang tak jadi mengambil dagangannya, suara penjual itu cukup untuk menarik puluhan pasang mata yang berlalu lalang agar tidak melewatkan alasan teriakan itu. Jika aku si pembeli di pasar tadi, malunya pasti tak tertahankan. Akan kututup mukaku dengan tangan sambil berlari pergi dari sana atau berharap tanah yang kuinjak mau menelanku beberapa saat agar selamat dari tatapan orang-orang.

Seringkali manusia menolak ingat untuk memikirkan perasaan orang lain, mereka tak pernah berpikir jika suatu saat berada di posisi tersebut. Candaan Juan yang memanggil Zela dengan sebutan Jeldut-gabungan dari kata jelek-gendut memang nihil empati, lancang sekali mulut Juan yang sering membuat Zela menangis diam-diam di tempat sepi. Mudah saja jika Zela ingin membalas Juan dengan perkataan serupa, toh badan Juan juga tidak lebih gempal darinya, namun hati Zela terlampau bersih untuk balas dendam. Begitulah Tuhan menciptakan keberagaman dalam setiap ciptaan-Nya, bahkan terhadap detail kecil yang hampir tak terlirik oleh siapapun. Meskipun begitu, pasti selalu ada pelajaran yang menyisip diantaranya. Adu mulut antar pengguna jalan yang saling bersikukuh bahwa dirinyalah si paling benar atas sial yang menimpa mereka semua, tak pernah ada habisnya. Sahutan klakson yang memekakkan telinga ketika macet mengular pada jam-jam sibuk menunjukkan jika makhluk bernama manusia mayoritas menuhankan egosentrisme.

Baca juga : Bukber yang Tidak Dianjurkan

Sungguh manusia memang sangat berisik, pikirku mereka seringkali lupa menjaga ucapannya dari membuat orang lain merasa tak nyaman, tetapi suka tak terima jika hati kecilnya tersinggung, ah sama saja.  Aku setuju dengan lagu Dere yang diputar Ayuma di mobil saat perjalanan menuju pantai minggu lalu. Menyinggung cerobohnya lisan manusia yang memiliki hati namun tak berhati-hati sangatlah panjang. Benar kata pepatah, lidah lebih tajam daripada pedang. Aku berharap diriku termasuk dalam kategori manusia yang pandai menjaga ucapan, karena tak jarang sakit hati berasal dari kata atau ucapan yang dengan mudahnya lolos dari bibir tanpa melalui filter otak dan perasaan. Aku setuju manusia memiliki hati layaknya kaca yang rentan pecah, sekali saja ada retakan seterusnya tak akan bisa kembali utuh seperti sebelumnya meski sudah diperbaiki.

Tiit tiiit tiiit tiiiit, alarmku berbunyi, aku berdiri dan bergegas ke ranjang untuk segera mematikannya, tak terasa jarum jam telah berlabuh di antara angka dua dan tiga. Aku kembali ke balkon untuk mengambil lentera dan menutup pintu, sudah cukup hawa dingin ini memenuhi kamarku. Ketika kutaruh lentera di meja belajar aku menemukan gulungan kertas kecil yang menyelip di rangka lentera, tanganku tergerak untuk mengambil lalu membukanya, disana tertulis “Kau benar Raina, manusia memang punya hati tetapi ucapannya sering tak berhati, dari Shen”.

Penulis : Nayla Rifana Faza Adhiba

Editor : Muhammad Fachri Hibatullah

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *