QuoteRedaksi

KAN KU TERJANG SEMUA MASALAH, MESKI DIDAMPINGI DENGAN “YA ALLAH, YA ALLAH, YA ALLAH …”

Ya Allah
Ya Allah, aku capek …

Ada masanya hidup terasa penuh beban. Pagi kamu tersenyum di depan orang, tapi malamnya kamu hanya bisa rebahan di pojokan kamar. Menatap langit-langit, sambil berucap lirih, “Ya Allah, aku capek.”

Lucunya, kadang kita nggak tahu kita lagi kenapa. Bukan karena jatuh cinta yang bertepuk sebelah tangan. Bukan juga karena nilai kuliah jeblok, atau dompet lagi kempes. Tapi, rasanya seperti semua numpuk. Masalah datang satu-satu, tapi pergi berbarengan, sambil ngasih salam perpisahan, “Semangat ya, yang sabar.”

Tapi… hebatnya kamu, tetap berdiri. Tetap kuliah, tetap kerja, tetap senyum. Dalam hati terus berucap “Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah.”

Berjuang Itu Nggak Harus Kuat, Tapi Harus Nempel Sama Allah

Ya Allah
Dekatkan diri kepada-Nya.

Pernah nggak kamu denger kisah Nabi Musa ketika berdiri di depan Laut Merah, sementara pasukan Firaun udah makin dekat? Orang-orang di sekitarnya panik, bingung mau lari ke mana. Tapi, Nabi Musa dengan tenang bilang,

“Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku bersamaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. Asy-Syu‘ara: 62)

Nabi Musa nggak punya pasukan elit. Yang beliau punya cuma keyakinan. Ya, keyakinan bahwa bersama Allah, semuanya mungkin. Dan lihat hasilnya, laut dibelah!

Kadang, kita terlalu fokus nyari pertolongan dari manusia. Padahal, kekuatan terbesar justru saat kita bersandar penuh kepada Allah. Ketika kita sudah mentok, ketika semua jalan tertutup, kita lupa ada satu jalan yang tak pernah ditutup yaitu doa.

Baca juga: Taubat Nasuha

Tiga Kalimat Itu, Lebih dari Sekadar Zikir

QAWAN Quran - Muka 319 - www.QawanQuran.com

Kalau kamu sering bilang “Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah” dalam kesepianmu, jangan merasa lemah. Itu bukan tanda kamu menyerah. Justru itu tanda kamu sadar bahwa kamu nggak sendiri.

Ibnu Qayyim pernah berkata:

“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba-Nya, maka Allah akan bukakan untuknya pintu doa, munajat, dan rasa butuh kepada-Nya.”

Jadi, kalau akhir-akhir ini kamu sering mewek sambil berdoa, itu bukan kelemahan. Itu petunjuk bahwa hatimu sedang dekat-dekatnya dengan Allah.

Baca juga: NU dan Tambang,  Meneguhkan Qanaah dan Syukur di Tengah Arus Hedonisme

Kamu Kuat, Tapi Nggak Perlu Sombong

Iya, kamu kuat. Tapi kamu nggak perlu kuat sendirian.

Kalau capek, rebahanlah sambil zikir. Kalau sedih, cerita aja sama Allah. Nggak usah dipaksain bahagia demi kelihatan “baik-baik saja” di depan orang. Karena, di balik semua usahamu, ada satu kalimat yang selalu kamu bisikkan:

“Kan aku terjang semua masalah, meski didampingi dengan Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah.”

Dan percayalah … itu cukup.

Teruskan langkahmu, walau pelan. Teruskan doamu, meski cuma lirih. Kamu nggak sendiri. Ada Allah yang terus mendengar. Ada doa yang terus naik ke langit, menembus malam, membawa harap.

Jangan lupa istirahat, jangan lupa makan, dan jangan lupa bilang ke diri sendiri:
“Aku nggak apa-apa, selama ada Allah.”

Penulis : Mufit Suyuti

Editor: Albila Nurfadilah

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *