Redaksi

Puisi Taubat Nasuha

Taubat Nasuha

Di langgar itu
Pendosa mencicit

Gelar sajadah
Sambil terisak
Menanti TOA memanggilnya
‘Allahu Akbar … Allahu Akbar …’

“Duh, malangnya nasibku, Gusti”
Ratapnya tak henti
Rintihnya bertubi-tubi
Keluhnya tak usai
Namun ketakutannya juga terus tertuai

Semakin tampak malang ia
Duduk di pojokan
Mendekap mushaf yang lusuh digerogoti zaman
Ia tak mampu membaca aksara itu

Hanya di angan dalam aliran yang tak kunjung redam
Ia pernah belajar a ba ta sa
Namun kemudian lupa

Semakin malang ia
Membunuh tiap masa yang dilalui langkahnya
Hanya terpaku pada mayapada
Kerlap-kerlip dunia membutakannya

Hingga dalam satu pinta
Pintu ijabah merengkuhnya
Bersujud ia, dalam tuma’ninah rukunnya
Memadu harap dalam kesunyian batinnya

Sayapnya dikepakkan
Doanya dilangitkan
Dan di sanalah ia menemukan kekhusyukan jiwa
Sampai pada sujud terakhirnya
Terbanglah ia menuju baka
Di sisi Tuhannya

 

Baca juga: NU, Tambang, dan Raja Ampat,  Buat Kamu yang Lagi Berjuang Sendirian

Senja dan Purnamanya

Berjuang

Sangkala debur ombak hampir tidur
Sandyakala mengemasi binarnya
Menatap cakrawala dengan paras meganya
Berpamitan pada pelabuhan yang sempat ia singgahi

Tenung hanyut bersama buihnya
Samudera meraung
Menakwilkan mimpi-mimpi jerih
Tedas sudah

Cahaya tangguhkan gagahnya
Morse- morse bedah rahasianya
Senja merangkum pilunya
Merambati nyiur-nyiur yang lunglai

Hingga gelap menyelimuti lembayung
Meresapi nyala purnama
Membasmi cahaya baskara
Dan memenjarakan renjana yang pernah ada

Tiada yang tahu apa itu cinta
Sebelum ia mencicipinya
Memekik kalut oleh debarannya
Menyesap runtut tiap senti keindahannya
Hingga asmara benderang menyusupi sukma
Membunuh hampa dalam seketika

Tiada yang tahu apa itu duka
Sebelum ia jatuh ke dalam dekapannya
Menggenggam bara pada desir pertama
Lalu melahapnya pada detik berikutnya
Kepiawaian manusia menelanjangi rasa
Merekam segala kebodohan diujung riwayatnya

Jika jaman tidak edan
Yang jatuh takkan semakin tenggelam
Yang terbang takkan semakin kehilangan
Dirangkumnya malam-malam panjang

Runutnya tergenggam
Jejaknya terkenang
Di atas pasir kedigdayaan
—yang curam

Penulis: Shofa Qolbah

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *