Puasa: Mengurangi Makan atau Pindah Waktu Makan
Umat islam selalu menjalankan ibadah puasa pada waktu bulan ramadhan setiap tahunnya. Puasa kerap diartikan menahan dari berbagai godaan hawa nafsu, khususnya perilaku makan. Umat islam menjalankan ibadah puasa dengan menahan perilaku makan mulai dari waktu subuh hingga magrib magrib.
Fakta sosial atau fenomena yang menarik di bulan ramadhan adalah banyaknya orang yang mencari makanan untuk berbuka puasa. Disamping itu banyak juga orang-orang yang memposisikan dirinya sebagai penjual makanan karena faktanya ketika bulan ramadhan perilaku konsumtif masyarakat khususnya umat islam justru semakin meningkat. Sehingga muncul spekulasi bahwa perilaku konsumtif masyarakat pada hakikatnya tidak berkurang, melainkan hanya memindahkan waktu makan. Kemudian muncul pertanyaan yang perlu dijawab, apakah puasa mengurangi makanan atau hanya pindah waktu makan saja?
Untuk menjawab problem statement tersebut, mari kita telisik dari perspektif agama islam dan sains sebagai sebagai pendekatan untuk kesehatan tubuh manusia.
Puasa Perspektif Islam
Islam mewajibkan umatnya untuk melaksanakan ibadah puasa Ramadhan sebagai bagian dari rukun Islam. Tercatat dalam Al Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 187, bahwa Allah Swt menghalalkan hubungan suami istri dan makan serta minum pada malam hari sampai terbitnya fajar. Hal tersebut menjadi simbol bahwa dalam Al Qur’an umat Islam diperintahkan untuk menjaga hawa nafsu baik dari makan-makanan maupun berhubungan dengan pasangan.
Perilaku puasa dengan menahan makan dari waktu subuh hingga magrib tersebut, sepintas dapat dikatakan sebagai “pindah waktu makan”. Namun lebih dari dari itu, Islam mnejadikan puasa sebagai bentuk latihan dalam mengontrol diri (self control) agar tidak hanyut dalam urusan duniawi. Disisi lain juga sebagai bentuk empati kepada sesama manusia yang kurang mampu dari segi finansial (fakir dan miskin). Melakukan ibadah puasa juga bisa diartikan sebagai bentuk kedisiplinan dan ketaatan kepada pencipta dalam memenuhi perintah rukun islam sebagai seorang muslim.
Baca juga : Hukum Membayar Zakat Fitrah Melalui Aplikasi
Puasa Perspektif Sains
Sains memandang bahwa puasa adalah bentuk atau perilaku menjaga pola hidup sehat. Sebagaimana penelitian mengenai berbagai manfaat bagi orang yang berpuasa dalam aspek kesehatan, diantaranya :
- Meningkatkan sensitivitas insulin, membantu pencegahan diabetes tipe 2
- Memberikan keuntungan kardiovaskuler melalui pengurangan tekanan darah
- Terbukti efektif dalam manajemen berat badan, kesehatan mental, dan mengurangi gejala depresi dan kecemasan
- Puasa berpotensi menurunkan peradangan, sebagai pengurangan risiko penyakit kronis
- Berkontribusi pada peningkatan umur panjang dengan cara mengurangi stres
Aktivitas puasa memang memberikan banyak manfaat untuk tubuh manusia. Namun, apakah puasa berarti mengurangi makan? Jawabannya: tergantung perilaku individu.
Jika saat berbuka seseorang mengkonsumsi makanan yang mengandung kalori berlebihan, maka total asupan energi harian bisa tetap sama atau bahkan meningkat. Perilaku seseorang yang paginya berpuasa kemudian malamnya mengkonsumsi makanan yang berlebihan, maka puasa hanya menjadi “pindah waktu makan”. Sebaliknya, jika puasa dilakukan dengan pola makan seimbang dan terkontrol, maka puasanya menjadi efektif. Sehingga terjadi pengurangan kalori ringan yang berdampak pada penurunan berat badan dan perbaikan metabolisme tubuh.
Baca juga : Fidyah: Penebus Rindu Puasa bagi Mereka yang Tak Mampu
Kesimpulan
Dari pertanyaan mengenai apakah puasa mengurangi makan atau hanya memindahkan waktu makan? jawabannya adalah tergantung pada perilaku diri kita sendiri. Jika pola konsumsinya tetap sama atau bahkan melebihi hari-hari biasa, maka puasa hanya menjadi pindah waktu makan. Namun, jika dijalankan dengan kesadaran spiritual dan pengaturan pola makan yang bijak, puasa benar-benar menjadi sarana pengurangan konsumsi yang berdampak positif bagi kesehatan tubuh maupun spiritual.
Penulis : Masrukhin Lubabul Huda
Editor : Muhammad Fachri Hibatullah



