
kerja suatu malam di sebuah warung proletarian dekat terminal, saya melihat seorang lelaki paruh baya memarahi telepon genggamnya sendiri. Bukan karena sinyal buruk atau upah di rekeningnya hilang. Ia marah karena video ceramah yang didelik tiba-tiba terlekang oleh iklan pinjaman daring. “Semua sekarang jualan,” gerutunya lirih.
Setelah itu, ia diam cukup lama lalu menatap jalan raya yang lengang seperti seseorang yang sedang kehilangan sesuatu, tetapi tak tahu apa yang lenyap. Di meja sebelahnya, tiga anak muda duduk melingkar tanpa benar-benar membundar. Kepala mereka menunduk ke layar masing-masing. Sesekali tertawa, tetapi bukan kepada orang di hadapannya. Mereka sedang berbincang dengan dunia lain yang tak terlihat.
Sontak, saya merasa ada sesuatu yang ganjil pada malam itu. Manusia modern tampaknya tidak lagi kesepian karena tidak punya teman, melainkan karena gagal hadir sepenuhnya di tempat ia berada. Di tempat eksentris itulah saya mulai curiga bahwa krisis terbesar manusia hari ini bukanlah kemiskinan, perang, atau bahkan kerusakan lingkungan. Krisis paling sunyi justri terjadi di dalam kepala manusia sendiri, yakni kesadaran yang perlahan kehilangan kemampuan untuk melekap pada hidupnya sendiri.
Petuah Sang Maestro Filsafat
Padahal, sejak ribuan tahun lalu filsafat lahir justru dari upaya manusia untuk menyadari keberadaannya. Ketika Socrates berkeliling Athena dan mengusik warga dengan pertanyaan-pertanyaan yang melelahkan, sesungguhnya ia sedang mengajarkan satu hal sederhana, bahwa manusia harus hidup dengan kesadaran. “Hidup yang tidak direfleksikan tidak layak dijalani,” katanya.
Namun, di zaman sekarang, refleksi sering dianggap kemewahan. Orang dituntut cepat sebelum sempat berpikir. Dunia bergerak seperti ban berjalan raksasa yang memaksa manusia terus melangkah agar tidak terjatuh.
Baca juga: Agama Itu Petunjuk, Bukan Pembenaran
Di dalam tradisi Islam, kesadaran semacam itu seseungguhnya telah lama dibincangkan jauh sebelum psikologi modern lahir. Imam Ghazali menyebutnya sebagai ghaflah, yakni keadaan ketika manusia hidup secara fisikal, tetapi batinnya terjerembab pada tempurung lamunan.
Maka dari itu, Al-Quran mengingatkan dalam Al-A’raf: 178 bahwa agar manusia tidak menjadi makhluk yang “memiliki mata tetapi tidak melihat, memiliki telinga tetapi tidak mendengar” (lahum qulûbul lâ yafqahûna bihâ wa lahum a‘yunul lâ yubshirûna bihâ wa lahum âdzânul lâ yasma‘ûna bihâ) sebab, yang lumpuh bukan organ tubuhnya, melainkan kesadarannya.
Gwarosa pada Masyarakat Korea Selatan
Gejala demikian tidak lagi sekadar dapat dibaca sebagai keluhan abstrak para filsuf. Ia telah menjelma sebagai fenomena sosial yang kasatmata. Pada tahun 2021 silam, masyarakat Korea Selatan diguncang laporan tentang meningkatnya kematian pekerja muda akibat gwarosa—terminologi Korea bagi maut yang dipicu ekses kerja.
Para buruh muda ditemukan wafat di apartemen sempit, di kursi kantor, bahkan di dalam kendaraan mereka sendiri setelah bekerja melampaui ambang fisiologis tubuh manusia. Modernitas neoliberal, dengan segala mantra efisiensi dan produktivitasnya, ternyata sedang membangun peradaban yang diam-diam menggerus vitalitas batin manusia hingga ke taraf paling aus. Tubuh diperlakukan seperti komoditas utilitarian dengan diperas selama mungkin, lalu diganti ketika mulai uzur.
Barangkali karena itu, banyak kota besar hari ini, azan sudah bukan lagi panggilan spiritual, melainkan bunyi latar yang tenggelam di antara dering notifikasi, raungan knalpot, dan desakan target kehidupan. Padahal, dalam khazanah Islam, azan merupakan interupsi metafisis, yakni upaya menghentikan manusia sejenak dari kegaduhan dunia agar kembali menyadari dirinya sebagai makhluk fana.
“Hayya ‘alal falah” sudah selayaknya kita cermati sebagai undangan menuju keselamatan eksistensial. Namun, manusia modern telanjur hidup dalam peradaban yang menganggap jeda sebagai dosa produktivitas.
Bias dalam Menentukan Skala Prioritas
Barangkali karena itu pula, manusia modern semakin sulit membedakan mana kebutuhan hidup dan mana kebisingan hidup. Kita membeli banyak barang untuk mengobati kehampaan yang bahkan tidak kita pahami sumbernya. Mendayagunakan tubuh hingga remuk demi memperoleh pengakuan dari orang-orang yang diam-diam juga sama rapuhnya. Kita mengunggah momen bahagia agar terlihat hidup, padahal sering kali justru sedang merasa paling kosong.
Di jepang bahkan, fenomena karoshi telah menjadi persoalan nasional sejak dekade 1980-an. Negara industri itu berkali-kali diguncang kasus pekerja yang wafat akibat hemoragi serebral, serangan jantung, atau bunuh diri setelah menjalani jam kerja yang brutal. Ironisnya, masyarakat global tetap memandang Jepang sebagai ikon disiplin dan kemajuan.
Padahal, di balik neon metropolitan Tokyo yang gemerlap, tersembunyi generasi manusia yang hidup dalam keletihan eksistensial berkepanjangan. Mereka tampak berjalan, bekerja, dan tersenyum seperti biasa, tetapi sesungguhnya sedang mengalami disintegrasi psikis secara perlahan.
Terminal Pengharapan Manusia
Di dalam situasi seperti itu, harapan sebenarnya masih ada. Manusia belum sepenuhnya kehilangan dirinya. Sebab, di tengah dunia yang serba gaduh ini, selalu ada orang-orang yang masih mencoba menjaga kesadarannya tetap hidup. Seorang ibu yang tetap mendengarkan cerita anaknya sepulang kerja meski tubuhnya lelah.
Seorang guru desa yang terus mengajar dengan sabar di ruang kelas yang boncos. Seorang petani tua yang menanam pohon, meskipun tahu ia mungkin tidak akan menikmati hasilnya. Mereka mungkin tidak membaca filsafat, tetapi menjalani hidup dengan kesadaran yang lebih otentik dibanding banyak orang terpelajar.
Maka dari itu, filsafat kesadaran bukan pertama-tama soal teori yang rumit. Ia bermula dari kemampuan manusia untuk benar-benar hadir dalam hidupnya sendiri, ketika berbicara, ketika mencintai, serta ketika berduka.
Baca juga: Hilal Terlihat, PBNU: Idul Adha 1447 H Rabu, 27 Mei 2026
Sebab, dunia modern telah membuat manusia terlalu sering hidup di mana-mana, kecuali di dalam dirinya sendiri. Walhasil, di situlah tragedi terbesar manusia hari ini, yakni harapan tentang kehidupan yang lebih bermakna terus diproduksi setiap hari, tetapi kesadaran untuk sungguh-sungguh menghayati kehidupan tak kunjung melekap.
Penulis: Muhammad Ariby Zahron
Editor: Fani Azfar


