Budaya Membandingkan Diri di Media Sosial
“Kenapa ya, aku nggak bisa kayak dia?”
Satu hal yang sering muncul dalam kepala kala tengah asyik scroll media sosial, entah itu TikTok, Instagram, dan lainnya. Melihat cerita orang-orang yang sukses dengan prestasi selangit atau para pebisnis muda yang telah meraup keuntungan melejit. Sementara kita?, masih duduk diam di dalam kamar menatap layar tipis dengan berbagai macam informasi tak terbatas setiap menitnya.
Bukan cuma soal materi atau pencapaian materi. Jempol yang terus mengusap layar sering kali membawa mata kita melirik fisik orang lain yang tampak sempurna tanpa celah, gaya busana yang selalu ikonis, hingga momen liburan mewah yang memanjakan mata. Tanpa sadar, helaan napas berat lolos begitu saja. Ada rasa sesak yang merayap perlahan, meracuni pikiran dengan pertanyaan-pertanyaan penghakiman pada diri sendiri: “Kenapa hidungku tidak se-mancung itu?”, “Kenapa hidupku membosankan sekali?”, atau “Mengapa aku selalu tertinggal jauh dibelakang?”
Ketika Layar Ponsel Menjadi Panggung Penghakiman Diri
Fenomena membandingkan diri di media sosial atau dalam istilah psikologi sering disebut social comparison telah menjadi racun halus di era digital. Media sosial yang awalnya diciptakan untuk mendekatkan yang jauh, kini tak jarang justru mengasingkan kita dari rasa damai dalam jiwa.
Ketika kita terus-menerus membandingkan bab pertama kehidupan kira dengan bab paling puncak dari kehidupan orang lain, dampak buruknya tidak main-main:
- Krisis Identitas dan Insecurity Akut: Kita mulai membenci pantulan diri di cermin dan merasa tidak pernah “cukup”, baik secara fisik, finansial, maupun pencapaian akademis.
- Kecemasan Berkelanjutan (FOMO): Muncul rasa takut tertinggal (Fear of Missing Out) yang membuat kita cemas berlebihan setiap kali melihat orang lain meraih sesuatu.
- Depresi dan Kelumpuhan Mental: Alih-alih terpacu untuk berkembang, melihat kesuksesan orang lain secara terus-menerus justru bisa membuat kita merasa putus asa, hingga akhirnya memilih untuk menyerah sebelum mencoba.
Padahal, ada satu hal besar yang sering kita lupakan yakni apa yang tampil di layar ponsel hanyalah highlight reel. Tidak ada orang yang sengaja mengunggah tangisan di tengah malam, kegagalan bisnis, jerawat yang meradang, atau pertengkaran rumah tangga mereka. Kita membandingkan seluruh kenyataan pahit hidup kita dengan ilusi manis orang lain yang sudah disaring, diatur sudut pengambilannya, dan dipoles filter digital.
Baca juga: NU Peduli NTT Kembali Salurkan Bantuan Logistik, Sekolah di Ngada Masih Gunakan Tenda Darurat
Perspektif Islam tentang Rezeki dan Takdir
Bagi seorang muslim, terjebak dalam budaya membandingkan diri sejatinya merupakan sinyal bahwa rasa syukur yang sedang tergerus di dalam hati. Islam memberikan sudut pandang yang sangat menyejukkan sekaligus rasional dalam menghadapi hiruk-pikuk keduniaan.
Rasulullah SAW. telah memberi panduan berharga agar hati kita tidak gampang goyah saat memandang kilau dunia milik orang lain:
“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atas kalian, karena hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah atas kalian.” (HR. Muslim)
Media sosial secara otomatis merancang algoritmanya untuk menyuguhkan hal-hal yang “lebih” di atas kita. Jika kita menuruti arus tersebut, mata kita akan selalu mendongak ke atas. Kita akan menjadi buta terhadap ribuan nikmat yang saat ini kita rasakan seperti kesehatan, waktu luang, nafas yang lega, hingga kedamaian dalam keluarga.
Selain itu, renungkanlah satu rahasia Ilahi ini “Apa yang tampak indah di tangan orang lain, belum tentu baik jika diletakkan di tangan kita.”
Setiap manusia diciptakan dengan takaran ujian dan kapasitas jiwa yang berbeda. Boleh jadi, kekayaan melimpah atau kepopuleran yang dimiliki orang lain adalah bentuk ujian berat bagi mereka, yang diberikan kepada kita, mungkin justru akan menghancurkan iman dan kehidupan kita. Allah Ta’ala berfirman dengan sangat indah:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah maha mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QR. Al-Baqarah: 216)
Skenario Allah untuk setiap hamba-Nya sudah disusun dengan keadilan yang sempurna. Rezeki bukan cuma angka di rekening atau jumlah pengikut di media sosial, tetapi juga ketenangan pikiran dan hati yang lapang. Membandingkan takdir sendiri dengan takdir orang lain hanya akan melahirkan prasangka buruk (su’udzon) kepada Sang Maha Pengatur Takdir.
Baca juga: Kalau Bahasa Kerennya, sih Work-Life Balance
Langkah Praktis Memutus Rantai Perbandingan
Agar kita tidak terus-menerus tenggelam dalam pusaran insecurity setiap kali memakar waktu di media sosial, ada beberapa langkah nyata yang bisa kita latih mulau hari ini”
- Lakukan Digital Detox dan Filter Lini Masa
Jangan ragu untuk menekan tombol unfollow, mute, atau bahkan memblokir akun-akun yang secara konsisten membuatmu merasa kecil, cemas, atau iri. Penuhi lini masamu dengan konten-konten yang memotivasi, menambah wawasan, atau mengingatkan pada kebaikan.
- Ubah Iri Hati Menjadi Doa Kebaikan
Saat tak sengaja melihat pencapaian atau keindahan hidup orang lain, lawan bisikan iri dengan mengucap doa, “Masya Allah, semoga dia dapat berkah dan berkahnya nular ke aku.” Mendoakan kebaikan untuk orang lain akan mengundang malaikat untuk mendoakan hal serupa bagimu, sekaligus membersihkan hati dari penyakit dengki.
- Sadari Bahwa Rute Setiap Orang Berbeda
Hidup bukanlah garis start dan finish maraton yang sama untuk semua orang. Ada yang sukses di usia 20 tahun, ada yang baru menemukan jalannya di usia 40 tahun. Tolok ukur kemajuan sejatimu bukanlah pencapaian orang lain hari ini, melainkan perbandingan antara dirmu hari ini dengan dirimu yang kemarin.
- Praktikkan Jurnal Syukur (Gratitude Journal)
Setiap malam sebelum tidur, luangkan waktu dua menit untuk mencatat tiga hal yang kamu syukuri hari ini. Bisa jadi berupa makanan lezat yang kamu santap, tubuh yang sehat, atau tawa bersama teman. Kebiasaan kecil ini melatih otak untuk berfokus pada apa yang kita miliki, bukan apa yang tidak kita miliki.
Pada akhirnya, media sosial hanyalah sebuah jendela kecil, bukan keseluruhan dunia. Jangan biarkan selembar layar kaca berukuran lima inci merampas kebahagiaan terima kasih kepada Sang Pencipta atas nikmat yang tiada tara.
Penulis: Luk Luk Ilma Nafiah
Editor: Muhammad Fachri Hibatullah


