Artikel

Akhlak Terhadap Nabi Muhammad SAW.

Sebagai seorang Muslim, kita percaya bahwa Nabi Muhammad SAW adalah manusia paling bermoral dan berbudi luhur yang pernah hidup di muka bumi. Salah satu cirinya yang paling menonjol adalah akhlaknya yang mengacu pada kebajikan, kualitas, dan perilaku yang beliau wujudkan sepanjang hidupnya.

Nabi Muhammad SAW dikenal dengan kebaikan, empati, kemurahan hati, kejujuran, dan keadilannya. Ia juga seorang pemimpin hebat yang mampu membangun hubungan kuat dengan orang lain dan membawa kedamaian bagi umat Islam

Pengertian Akhlak

Akhlak berasal dari kata Khuluqun yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat merupakan sifat manusia yang terdidik oleh keadaan yang melekat pada jiwa manusia, serta melahirkan perilaku yang muncul melalui proses pemikiran, pertimbangan, Analisa, dan ketangkasan dalam komunikasi dengan baik.

Baca juga: Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari: Awas Tipu Muslihat Musuh Agama dan Negara

Sedangkan secara terminologi berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Contohnya bisa mengomunikasikan sesuatu dengan baik, tidak berbohong, tidak berbuat curang, selalu jujur dalam pekataan dan perbuatan.

Kata akhlak diartikan sebagai suatu tingkah laku, tetapi tingkah laku tersebut harus dilakukan secara berulang-ulang, tidak cukup hanya sekali melakukan perbuatan baik atau hanya sewaktu-waktu saja.

Seseorang dapat dikatakan berakhlak jika perbuatan yang dilakukan itu didorong oleh motivasi dari dalam diri dan dilakukan tanpa banyak pertimbangan pemikiran. Apabila perbuatan tersebut dilakukan dengan terpaksa, bukanlah pencerminan dari akhlak.

Akhlak Terhadap Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah SAW. diutus ke dunia dengan tujuan untuk menyempurnakan akhlak manusia, Nabi SAW. bersabda

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. Ahmad dan Baihaqi)

Mencintai Rasulullah SAW. adalah wajib dan termasuk bagian dari iman. Semua orang Islam mengimani bahwa Rasulullah SAW. adalah hamba Allah Swt. dan utusan-Nya. Makna mengimani ajaran Rasulullah SAW. adalah menjalankan ajarannya serta menaati perintahnya.

Ahlu sunnah mencintai Rasulullah SAW. dan mengagungkannya sebagaimana para sahabat Rasulullah mencintai beliau lebih dari kecintaan mereka kepada diri mereka sendiri dan keluarga mereka.

Diantara bentuk akhlak terhadap Nabi Muhammad SAW. yakni,

Menghidupkan Sunnah

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW. bersabda yang menerangkan bahwa kita sebagai umat Muslim diperintahkan untuk menghidupkan sunah-sunah yang telah beliau wariskan.

“Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku. Kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikitpun.” (HR Ibnu Majah).

Taat Terhadap Nabi Muhammad SAW.

“Hai orang-orang yg beriman taatilah Allah Swt. dan taatilah RasulNya dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah hal itu kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya jika kamu benar-benar beriman kepada Allah Swt. dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.”

Baca juga: Menjaga Khazanah Keilmuan Aswaja di Tengah Tantangan Zaman

Membaca Salawat dan Salam

Membaca Salawat harus disertai dengan niat dan dengan sikap hormat kepada Nabi Muhammad SAW. Orang yang membaca salawat untuk Nabi SAW. hendaknya disertai dengan niat dan didasari rasa cinta kepada beliau dengan tujuan untuk memuliakan dan menghormati Rasulullah SAW.

Dalam penjelasan hadits (Akhbar Al-Hadits) disebutkan bahwa apabila seseorang membaca salawat tidak disertai dengan niat dan perasaan hormat kepada Nabi SAW., maka timbangannya tidak lebih berat ketimbang selembar sayap. Nabi SAW. bersabda yang artinya,
“Sesungguhnya sahnya amal itu tergantung niatnya.”

Jika kita hidup di tengah masyarakat yang secara nyata perilaku dan sikap hidup mereka sejalan dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW., tentu mudah bagi kita untuk mengikuti beliau. Tapi bagaimana kalau kita hidup di tengah masyarakat yang semakin jauh dari ajaran Rasulullah?

Di sinilah diperlukan kemauan keras, semangat juang, serta konsistensi untuk mengikuti norma sekalipun harus melawan realitas yang ada di masyarakat.

Penulis: Rianto Agus Tinu

Editor: Fani Azfar

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *