Manusia dikenal dengan Homo Ludens yakni mempunyai hasrat untuk bermain. Memang pada dasarnya bermain bagi setiap orang merupakan sesuatu yang fitrah. Bahkan, Tuhan dalam Kitab Nya menyebutkan bahwa karakter dari kehidupan ini adalah La’ibun Wa Lahwun.
Panggung Sandiwara
Yah.. maka dari itu, adakalanya bagi kita untuk tidak terlalu serius. All the world a stage. Dunia merupakan panggung sandiwara. Akan tetapi jangan sampai kita di ninabobokan dengan ketidakseriusan.
Bila kita terhanyut dengan ketidak seriusan yang ada, ya pastinya kita tidak akan mendapatkan sebuah penghargaan dari sang pencipta. Allah Swt. sendiri menciptakan dunia dan kita dihidupkan di dalamnya supaya beribadah kepada-Nya.
Realitanya, manusia hidup di dunia ini tujuannya adalah mencari kebahagiaan. Sebagaimana ungkapan yang sebelumnya penulis utarakan.
Baca juga: Kegusaran Hati Pelajar Muda Islam terhadap Islam yang Stagnan
Memberikan Variasi
Kalau kita mencoba menelaah lebih jauh, Allah Swt. sebenarnya memberikan variasi terhadap kehidupan yang diciptakan. Tentunya tak lain untuk para hambanya sendiri guna berefreshing ria, bercanda, serta sekedar untuk melupakan kepenatan hidup.
Ada sebuah teori filsafat ketuhanan yang dinamai dengan Deus Ludens yang berarti Tuhan itu sebenarnya juga bermain. Teori tentang Deus Ludens itu dicetuskan oleh Zalman. Dia berfikir bahwa saat ini Tuhan itu sedang main petak umpet dengan kita.
Dalam berkehidupan, kita ini sebenarnya disuruh untuk mencari tuhan, mendekatkan diri kepada tuhan, sehingga sampai pada derajat Ma’rifatullah. Agar kita tau bahwa tuhan itu agung, tuhan itu pemurah, tuhan itu kaya, dsb.
Baca juga: Istimewanya Gelar Doktor Honor Causa di Mata Gus Yahya
Terus, jika ada yang tanya begini, “Lah emang, saat ini Tuhanmu hilang? kok kamu mencari tuhanmu?” Yaa jawab aja “Tidak.” Tuhan tengah bermain dengan ku dan dengan mu juga. Itulah yang dimaksud dengan Deus Ludens.



