ArtikelDunia Islam

Burak: Armada Rasulullah yang Terbakar Api Kerinduan

Aku iseng membuka kembali kitab yang pernah dibuat bandongan Pak Yai di pesantren. Meski belum sempat khatam, bahkan baru bagian awal. Tidak sengaja aku menemukan redaksi singkat yang seingatku sudah kubaca terjemah Indonesianya di salah satu media sosial.

Tulisan ini bertema Isra’ Mi’raj. Uniknya, ini merupakan cerita yang jarang dibahas yaitu tentang burak, hewan yang ditunggangi Nabi Muhammad SAW. ketika melaksanakan perjalanan luar biasa itu.

Baca juga: Aku, Preman, dan Kalimat Tauhid

Ciri fisik Burak

Beliau penyusun kitab, memberitahu bahwa burak adalah sejenis hewan yang lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari bighal (peranakan dari kuda dan keledai). Ketika burak ini berpacu, jarak yang ditempuh sejauh mata memandang, cepat sekali.

Hewan ini juga memiliki sepasang sayap di sekitar punggungnya. Begitu kira-kira ciri yang dijelaskan oleh beliau. Hampir sama seperti yang aku temukan di beberapa kitab lain, salah satunya kitab yang dikaji Pak Yai juga biasanya ketika bulan Rajab.

Mirip hewan mitologi Yunani

Setelah membaca ciri fisik yang dijelaskan oleh penyusun kitab, aku terpikirkan seekor hewan yang mirip. Di kepalaku, muncul bayangan Pegasus. Namun untuk hewan dari mitologi Yunani ini sudah jelas merupakan seekor kuda. Agaknya memang berbeda. Terlepas dari itu, begini kisah pendeknya,

Tatkala malaikat Jibril diperintah oleh Allah SWT. untuk pergi ke surga dan mengajak satu burak untuk bertemu dengan nabi Muhammad SAW., Jibril melihat ada 40.000 ekor burak yang berada di sabana surga.

Pada setiap dahi mereka tertulis nama Muhammad SAW. Kemudian Jibril terfokus pandangannya pada seekor burak yang menundukkan kepalanya sambil menangis. Kedua matanya meneteskan air mata. Jibril lantas bertanya, “Kau kenapa?” ujarnya.

Baca juga: Al-Jauhar al-Munazzham: Kitab Yang Menjelaskan Seputar Bulan Muharram

Burak itu menjawab, “Semenjak aku mendengar seseorang yang namanya tertulis di dahiku sejak 40.000 tahun lalu, timbul dalam hatiku rasa cinta dan kangen kepadanya. Sejak itu, aku tidak butuh makan dan minum, serta diriku terbakar dalam api kerinduan,” kata Burak tersebut.

“Aku akan mempertemukanmu dengannya,” Kata Jibril. Keduanya kemudian berangkat menuju tempat Nabi Muhammad SAW. dan terjadilah mukjizat Isra’ Mi’raj seperti yang kita ketahui.

 

Penulis: Abdullah Zulfa Muntafa (Mahasiswa Pascasarjana Jurusan Pendidikan Bahasa Arab UIN Walisongo, Semarang)

Editor: Fani Azfar

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *