ArtikelEducationFeature

Digital Religion: Praktik Keagamaan di Era Teknologi

Kalian tahu fenomena agama saat ini? Zaman dimana semua hal dapat diakses dengan mudah melalui teknologi  yang biasa disebut dengan zaman modern atau zaman digital. Seluruh elemennya serba canggih yang bikin kita nggak perlu bersusah payah lagi. Iya, zaman digital religion, dimana reproduksi agama di zaman ini ditransformasi menjadi agama digital. Transformasi agama visual menjadi audiovisual. Tapi sebelum menguliknya lebih dalam, berikut ada penjelasan tentang era digital dan agama digital.

Era Digital

Kondisi zaman yang disebut dengan era digital adalah masa ketika teknologi informasi dan komunikasi memiliki peran yang krusial dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Era ini dikenal dengan istilah revolusi industri 4. 0. Ditandai dengan adanya perangkat digital seperti smartphone dan internet yang bisa diakses dengan cepat dimanapun dan kapanpun. Kesimpulannya, dunia digital sangat membantu manusia memenuhi aktivitas kesehariannya, pekerjaan manusia,  juga bisa membuat komunikasi menjadi instan, dan jarak geografis tidak lagi menjadi halangan. Bahasa kerennya, kita hanya duduk santai dirumah dan teknologi bisa memenuhi kebutuhan kita hanya dengan satu kali klik saja.

Menurut Don Tapscott (pakar informasi digital) menyebut era digital sebagai masa ketika teknologi tidak hanya menjadi alat bantu, tetapi menjadi bagian inti dari kehidupan manusia. Teknologi menciptakan ekosistem baru dalam ekonomi, pendidikan, dan komunikasi. Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa era digital tidak hanya berhenti pada kemanfaatan teknologinya, tapi juga menciptakan perubahan di bidang ekonomi dan pendidikan. Juga mempengaruhi cara berpikir dan sistem kerja yang di dorong oleh kemajuan digital.

Baca juga : Khutbah Jumat: Menggapai Ampunan Allah Melalui Tobat yang Tulus

Agama Digital (Digital Religion)

Agama digital adalah agama yang menyatu dengan dunia digital. Kolaborasi antara agama dengan dunia digital, yang berhasil mengubah cara pandang manusia dalam menjalankan praktik keagamaan. Mengintegrasi nilai-nilai keagaamaan, aktivitas ibadah, serta pencarian pengetahuan agama yang dilakukan melalui perangkat digital seperti aplikasi, media sosial, atau platform pembelajaran online. Menurut Campbell dalam salah satu tulisannya yang berjudul ”The Rise of the Study of Digital Religion”, merumuskan bahwa istilah “agama digital” merupakan sebuah ruang teknologi dan budaya yang ditimbulkan ketika terjadi integrasi antara lingkup agama online dan offline telah berkelindan satu sama lain.

Dari pendapat diatas, kita bisa menyimpulkan bahwa agama digital muncul dari interaksi antara praktik keagamaan yang dilakukan di internet dan dari kehidupan nyata. Penggabungan kedua aspek ini membentuk suatu ruang yang bersifat teknologi dan budaya, dimana pengalaman, pemahaman dan cara orang mengekspresikan keyakinan mereka, tidak lagi terpisah dengan antara dunia maya dan dunia nyata. Sebaliknya, keduanya justru saling mempengaruhi dan mengintervesi sehingga lahirlah praktik keagamaan yang baru.

Kemajuan teknologi digital memang telah membawa dampak yang signifikan terutama bagi manusia. Kehadirannya mengubah cara manusia berkomunikasi, belajar, dan bersosialisasi. Sedikit banyaknya, perubahan ini juga berpengaruh pada bidang spiritualitas dan praktik keagamaan. Hal ini melahirkan fenomena baru yang dikenal dengan istilah agama digital. Istilah ini merujuk pada proses pengintegrasian nilai-nilai keagamaan, praktik ibadah, serta cara manusia mencari pengetahuan tentang keagamaan.  Hal ini tentu saja menjadi sesuatu yang baru untuk manusia, sehingga harus benar-benar dipelajari agar kemanfaatan yang didapat lebih banyak dari pada madhorot nya.

Praktik Keagamaan di Era Digital

Zaman sekarang, siapa sih yang tidak memiliki media sosial? Saat layar ponsel menjadi hal yang krusial untuk mengetahui berita terkini tentang dunia. Media sosial kini bukan sekedar menjadi tempat untuk update story setiap hari, melainkan juga berubah menjadi laman dakwah dan diskusi keagamaan. Entah itu melalui kajian online, video reels singkat, qoutes keagamaan, atau podcast.

Dari sudut pandang Islam, kehadiran platform digital ini bisa menjadi media untuk menyebarkan pesan agama secara luas dan lebih efisien. Contohnya saat kita ingin mendengarkan kajian, kita tidak perlu jauh-jauh datang ke majelis, cukup ikuti pengajian via zoom, streaming, atau dengerin podcast keagamaan yang bisa diakses kapan pun dan dimana pun. Tapi yang harus tetap digaris bawahi adalah, kita harus memastikan bahwa apa yang kita lihat, dengar dan praktikkan itu berasal dari sumber yang terpercaya dan bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. Karenanya penting membahas, bagaimana etika beragama yang benar di media digital.

Media Sosial Sebagai Ruang Dakwah.

Meskipun banyak sekali tantangannya, media sosial memberikan kesempatan besar untuk menyebarkan pengetahuan lewat media digital. Karena semua aspek, pada akhirnya harus mampu beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan perkembangan tersebut agar terus eksis dan relevan dengan zaman. Begitu juga dengan mempelajari pengetahuan agama dan kewajiban penyampaiannya dengan sarana media sosial. Rasulullah SAW. bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku walau satu ayat.” (HR. Bukhari)

Hadis diatas menekankan tentang pentingnya menyampaikan kebaikan, entah sekecil apapun bentuk kebaikan tersebut. Karena selamanya kita tidak akan tahu, amal yang mana yang kelak bisa menolong kita di Hari Kesaksian. Dan dengan memanfaatkan teknologi digital, kita hanya perlu satu kali klik share untuk menyebarkan ilmu pengetahuan ke seluruh penjuru dunia. Satu kiriman yang dapat menjangkau ribuan orang dalam sekejap. Lebih mudah, lebih efisien, lebih hemat waktu, biaya dan tenaga. Karena sarana yang di perlukan hanyalah platform digital dan mobile data.

Baca juga : Tenang, Rukun, dan Patuh pada Dawuh Para Masayikh: Pesan KH. Marzuqi Mustamar untuk Menghadapi Situasi NU dan Negeri

Etika Beragama di Sosial Media (Tabayyun)

Kenali data adalah langkah awal yang harus dilakukan jika ingin menyebarkan informasi. Karena tantangan utama beragama di media sosial adalah banjir informasi yang sering kali tidak akurat kebenarannya. Banyak ayat, hadis, dan fatwa yang disebar luaskan tanpa proses verifikasi. Kalau yang disebarkan benar sih tidak masalah, tapi kalau sebaliknya? Saat informasi tersebut sudah tersebar luas, dibaca banyak orang, dan cara mereka memahami informasi tentu berbeda-beda. Hal ini, jika sampai ada kesalahan penafsiran makna oleh penerima informasi, maka akan menimbulkan pemahaman yang salah yang berujung hoaks dan bisa menimbulkan fitnah. Padahal dalam Al-Qur’an Allah SWT. telah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat:6)

Validasi sebelum finalisasi, saring sebelum sharing, adalah hal yang harus diperhatikan sebelum menyebarkan informasi di media digital. Verifikasi dan teliti lagi informasinya, cek ulang keakuratan sumber datanya, dan pastikan bahwa berita yang kamu sebarkan benar-benar bisa dipertanggung jawabkan kebenaran dan kesahihannya. Karena berdakwah tanpa tabayyun adalah dusta yang dapat menimbulkan fitnah dan kerusakan yang besar. Sebagimana sabda Rasulullah SAW tidak hanya melarang dusta yang di sengaja, tetapi juga menyamakan orang yang menyampaikan sesuatu yang di dengarnya, tanpa seleksi dan verifikasi, dengan pendusta. Karena dalam dunia digital, fitur share, reetwet atau forward adalah bentuk menceritakan.

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dikatakan pendusta apabila ia menceritakan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Apakah Beragama Digital itu Salah?

Jawabannya tidak.

Karena agama juga turut beradaptasi. Jika dulu lewat kitab atau datang ke majlis langsung, sekarang semuanya bisa diakses lewat digital. Kuncinya itu bukan pada medianya, tapi niat dan keyakinan kita. Digital memang perlu, tapi harus tetap tahu batas antara dunia maya dan nyata. Harus bijak memilah, mana konten yang bikin kita berkembang menjadi lebih baik, bukan sebaliknya. Karena agama itu, bukan soal hubungan kita sama layar, tapi soal hubungan kita sama Tuhan. Zaman digital memang bikin kita jadi mudah mengakses apapun. Tapi jangan sampai bikin keimanan kita goyah hanya karena nonton konten di hp. Harus tetap kita pahami betul maknanya, di gali benar-benar, informasi ini berasal dari sumber terpercaya atau tidak. Dan yang paling penting, harus punya pedoman kuat mana yang harus di ikuti dan mana yang hanya sekedar di mengerti.

Penulis : Rifqi Duwi Arsila

Editor : Muhammad Fachri Hibatullah

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *