ArtikelDunia IslamInspirasi

Enggan Membaca Al–Qur’an di Siang Hari Bulan Ramadhan: Begini Karomah Habib Jamalullail

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah dimana. Setiap amal kebaikan dilipat gandakan pahalanya, begitu pula dengan amal kejelekan. Pada bulan Ramadhan, setiap insan berlomba–lomba untuk berbuat kebajikan, salah satunya adalah dengan tadarus Al–Qur’an yang menjadi salah satu amalan yang dicintai oleh Allah SWT.

Kisah Inspiratif Ahlul Qur’an

Berbicara mengenai tadarus Al–Qur’an, banyak kisah inspiratif dari para ulama’ Ahlul Qur’an. Seperti halnya di Kota Tarim, kota dengan laqob seribu wali ini melahirkan para ulama dengan karomah yang bermacam–macam.

Habib Jamalullail, begitu sapaan akrabnya. Habib yang memiliki nama lengkap Muhammad bin Hasan Jamlullail adalah orang pertama yang diberi gelar “Jamalullail” yaitu berarti orang yang senantiasa menghidupakan dan menghiasi waktu malam dengan amal ibadah. Beliau juga dikenal sebagai Sohib Raughah dan Syaibah Bahsin.

Memiliki beberapa Karomah

Habib Jamalullail juga dikenal sebagai ulama yang banyak bermujahadah dalam amal ibadah dan mendapat kefahaman ilmu laduni dalam pembacaan Al–Qur’an. Beliau mendapat keistimewaan mengetahui keadaan alam barzakh dan dapat berkumpul dengan orang yang telah mati dalam keadaan sadar.

Baca juga: Detail Solusi Lupa Niat Puasa, Catat Selengkapnya!

Enggan Membaca Al-Qur’an

Suatu ketika pada bulan Ramadhan beliau ditanya, mengapa enggan membaca Al-Qur’an pada siang hari?  Beliau menjawab, “Saya tidak mau membaca Al–Qur’an di siang hari pada bulan Ramadhan, sebab jika saya membaca Al-Qur’an itu tidak berasa lapar, serta berasa seperti ada susu atau madu dimulut saya,” ujarnya.

“Jadi, Aku rubah jadwal membaca Al Qur’anku di malam hari. Aku ingin siang hariku berasa lapar, sebab rasa lapar di bulan Ramadhan mempunyai pengaruh besar untuk menerangi hati dan membina nafsuku,” lanjutnya.

Khawatir Puasanya Batal

Pendapat lain mengatakan bahwa beliau tidak mampu membaca Al–Qur’an siang hari di bulan Ramadhan karena takut puasanya batal. Hal ini dikarenakan rasa manis dari mulutnya yang dirasakan. Beliau juga senang mengulang ayat–ayat Al–Qur’an, sehingga beliau mengatakan, Tidak ada Tuhan selain Allah, betapa manisnya ayat ini,” tegasnya.

Diantara ayat yang sering habib Jamalullail ulang adalah berikut,

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمٰنُ وُدًّا

Artinya: “Sesungguhnya bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, (Allah) Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa cinta (dalam hati) mereka.” Q.S Maryam [19]:96

Baca juga: Keistimewaan Bulan Ramadhan

Pengulanan Kata “Wudda”

Putra beliau yaitu Al–Faqih Abdullah Bin Muhammad Jamalullail menceritakan bahwa, ayahnya sering mengulang kata “Wudda” (kasih sayang). Beliau mengulanginya dari tengah malam sampai waktu subuh karena terlampau asyik dengan kalimat tersebut.

Ayat lain yang sering beliau ulang adalah berikut ini,

وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌۗ وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ

Artinya: “Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya seandainya mereka mengetahui.” Q.S Al Ankabūt [29]:64

Kisah diatas menggambarkan betapa indahnya ketika seorang hamba memiliki rasa nikmat dalam ibadah. Tidak semua orang dapat merasakannya.

Semoga kita bisa meneladani kisah tersebut, sehingga mendapatkan motivasi diri agar jauh lebih baik dan semangat dalam membaca Al-Qur’an, serta mendapatkan posisi Ahlullah sebagaimana dalam hadis Nabi SAW.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنْ النَّاسِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ قَالَ هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai banyak ahli (wali) dari kalangan manusia.” Para sahabat bertanya; “Ya Rasulullah, siapakah mereka itu?” beliau menjawab: “Mereka adalah ahlul Qur`an, mereka adalah para ahli dan orang khusus Allah.” (HR. Ibnu Majah).  Wallahua’lam Bisshowab.

Penulis: Zaidatur Rizqiyah

Editor: Fani Azfar

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *