Saya menyadari bahwa tugas utama seorang guru bukan membuat anak didik menjadi pintar, akan tetapi bagaimana membuat mereka mencintai proses belajar. Ketika anak didik sudah mencintai proses belajar maka pintar akan menjadi bonusnya.
Tidak mudah menjadi seorang pengajar di usia yang masih sangat muda seperti saya yang masih berumur 18 tahun. Setelah selesai menamatkan pendidikan di PP. Al-Mashduqiah, akhirnya tiba bagi saya untuk membalas budi kepada pesantren dengan menjadi tenaga pengajar secara sukarela selama 1 tahun.
Ada banyak hal yang belum saya ketahui dan saya pelajari, namun keadaan menuntut saya untuk belajar lebih dengan menjadi guru muda. Ada beberapa kesulitan sekaligus kebahagiaan menjadi seorang guru muda seperti saya.
Dituntut untuk Belajar
Ceret tidak akan berguna bagi gelas atau cangkir jika tidak ada isinya. Maka dari itu, ceret ibaratkan seorang guru dan cangkir adalah seorang murid. Bagaimana jadinya jika guru bodoh atau malas belajar? Sebab itulah terkadang saya harus rela menahan malas, menahan untuk tidak main gim hanya untuk mempersiapkan materi yang akan disampaikan kepada anak didik saya.
Baca juga: Mbah Liem, Kiai Khas di balik Suksesnya Gus Dur
Karena kapasitas otak saya kurang memadai untuk pelajaran yang berkaitan dengan hitung-hitungan, sementara saya adalah pengajar mata pelajaran IPA kelas VII SMP yang terkadang ada bab fisikanya, maka saya harus mencari seorang guru untuk belajar lagi atau mencari tutorialnya di YouTube. Menyebalkan, tetapi saya harus melakukannya demi anak didik saya.
Belajar Mengendalikan Emosi
Belajar mengendalikan emosi adalah salah satu hal terumit bagi saya setelah belajar Fisika dan Kimia. Apalagi karena usia saya yang masih sangat muda, di awal pertama kali mengajar emosi saya sering kali tersulut jika ada anak yang tidur saat saya menerangkan pelajaran, berbicara, dan bercanda dengan temannya. Apalagi jika ada siswa yang sudah ditegur malah kenakalannya tambah menjadi-jadi.
Akhirnya, waktu demi waktu saya mulai terbiasa dengan hal tersebut dan menghadapinya dengan kepala dingin. Biasanya saya akan menarik nafas sejenak, dan berusaha untuk tersenyum walaupun hati sedang emosi. Ajaibnya hal itu dengan cepat merubah emosi dan mood saya. Saya juga memberikan beberapa hukuman yang mendidik agar mereka jera. Salah satunya adalah memindahkan anak yang tidak memperhatikan ke bangku paling depan dan membaca surah pendek di depan teman-temannya.
Baca juga: KH Miftachul Akhyar Ceritakan Keistimewaan Kitab Jurumiyah
Sisi kebahagiaan menjadi seorang guru muda bagi saya adalah dapat menghilangkan beban pikiran. Lah kok bisa? Ya, hal itu akan saya dapatkan ketika melihat anak-anak tertawa bahagia saat belajar di kelas. Gus Baha menyebutnya ‘tertawa karena ilmu’, hal ini lebih baik daripada tertawa tidak jelas. Sehingga suasana belajar di kelas tidak mononton dan menyenangkan.
Setelah itu, saya menyadari bahwa tugas utama seorang guru bukan membuat anak didik menjadi pintar, akan tetapi bagaimana membuat mereka mencintai proses belajar. Ketika anak didik sudah mencintai proses belajar maka pintar akan menjadi bonusnya.



