ArtikelEssayOpini

Islam Mengajarkan untuk Beretika Terhadap Orang Tua, Tak Terkecuali dalam Karya Ilmiah

Sebenarnya saya lebih suka mendengarkan daripada berbicara dan membaca daripada menulis. Ya, karena saya lebih suka menjadi konsumen dari hasil olah pikir orang lain.

Itu juga terjadi ketika salah seorang teman saya menyuruh saya untuk menulis.

“Zi, coba tulislah sebuah opini, puisi, atau cerpen! Nanti kamu bisa kirim tulisan itu ke blog saya”. Dari situ saya mulai tertarik ingin menuangkan apa yang berada dalam pikiran dan opini di lingkungan sekitar saya yakni kurangnya etika dan adab mahasiswa terhadap orang tua.

Saya sering mendengar sebuah khotbah atau ceramah terkait pentingnya adab dan etika terhadap orang tua. Apalagi manusia panutan kita yang paling mulia pun terkenal dengan etika (akhlaknya) yaitu Nabi Muhammad SAW.

Terdapat hal sepele yang sering saya temui adalah di mana orang tua ditulis pada bagian tengah atas bawah dalam lampiran kata pengantar bahkan lebih menempatkan para rektor dan dosen. Hal itu tampak biasa dan menjadi pilihan subjektif bagi setiap orang.

Namun, peran orang tua pastinya juga sangat penting terutama dalam hal pendidikan baik dari kecil sampai dewasa. Sehingga, tidak menjadi penghalang bahwa orang tua yang dapat menjadi peran utama dalam perjalanan kesuksesan pendidikan masing-masing terutama penulisan mahasiswa dalam karya ilmiah.

saya -di sini- hanya ingin mengingatkan kepada teman-teman bahwa orang tua itu begitu penting dalam hidup kita dan kita berkewajiban untuk beretika baik kepada mereka, karena orang tua sudah mengajarkan saya berjalan, berbicara, mengaji, membaca, menghitung, dan masih banyak pelajaran hidup yang diberikan mereka kepada kita.

Paling akhir, saya mengingat pepatah bijak benada anjuran “Ibumu, Ibumu, Ibumu, dan Bapak mu. Bukan Prof mu, Prof mu, Profmu dan Dosenmu”.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *