Kritik Pemikiran Muhammad Arkoun terhadap Nalar Ortodoksi Islam
Muhammad Arkoun merupakan sosok Filusuf Modern kelahiran Al Jazair pada tahun 1928. Beliau lebih banyak menghabiskan masa hidupnya di Kota Paris, termasuk juga upayanya dalam membangun latar belakang akademisinya yang ia rintis di kota yang sama.
Hal tersebut tidak menjadi suatu yang mengherankan, mengingat atmosfir pendidikan di Perancis yang lebih bagus daripada Al Jazair.
Pemikiran-pemikiran Arkoun memang lekat dengan nilai-nilai barat. Hal tersebut terjadi sebab relasi yang dia bentuk selama mengenyam Pendidikan di Barat. Salah satu pemikirannya yang eksis untuk dikaji adalah kritik yang dia lontarkan terhadap nalar Ortodoksi Islami.
Memfundamentalkan Nilai Islam
Salah satunya yang terjadi pada dekade ini yakni umat Islam yang terlalu over dalam memfundamentalkan nilai Islam pada sudut-sudut tertentu.
Contohnyata dalam kasus ini adalah Bagaimana sudut pandang seorang Muslim atau santri terhadap Kitab Turats. Kebanyakan mereka memiliki pendirian bahwa nilai maupun norma yang telah para Ulama’ klasik coretkan dalam karangannya tersebut menjadi sebuah kebenaran yang mutlak.
Jika prespektif tersebut terlalu diyakini sebagai suatu hal yang tidak bisa diotak-atik dan dipatenkan, tidak menutup kemungkinan jikalau Umat Islam saat ini mengalami kejumudan (beku) dalam berpikir.
Baca juga: Kontroversi Larangan dan Izin Penulisan Hadis pada Masa Rasulullah
Karya mistik yang sakti mandraguna
Jikalau kita melihat mengenai materi maupun konten-konten yang tersaji dalam kitab Turats, tidak semuanya relevan dengan kondisi yang terjadi pada dewasa ini. Fenomena tersebut seolah-olah mendewakan Kitab Turats sebagai karya mistik yang sakti mandraguna.
Padahal yang diharapkan dengan mempelajari karya-karya tersebut adalah kita bisa mengkritisi dan mengkontekstualisasikan fatwa dan nilai yang terkandung terhadap fenomena dalam kehidupan saat ini. Bukan hanya untuk disakralkan saja.
Problematika lain yang sering menyasar umat Islam, khususnya para santri adalah pemaknaan kata Barokah. Banyak sekali yang terkecoh dengan makna barokah yang kemudian dipersepsikan sebagai sesuatu yang diperoleh secara tiba-tiba dengan minim usaha. Itulah yang menjadi salah satu indikator dari jumudnya umat Islam.
Padahal jika mengacu pada makna sebenarnya dari barokah juga tidakjauh dari istilah ikhtiar. Di mana seseorang jika hendak memperoleh buah atau pencerahan harus melalui tahap-tahap tertentu seperti tirakat, riyadhoh, dan sebagainya.
Baca juga: Gus Ulil: Tidak Benar Imam Al-Ghazali Membunuh Filsafat
Terikat dengan Subjektifitas
Tanpa sadar, para manusia yang terkungkum pada keadaan di atas sebenarnya sedang mengalami realita bahwa pemikiran seseorang itu tidak terlepas dari unsur subjektifitas yang telah mengintervensinya.
Fenomena tersebut yang dalam kacamata Muhammad Arkoun disebut sebagai “Ruang Abad Pertengahan” (Dark age-nya umat Islam). Sedangkan orang-orang Barat sudah melewati masa-masa tersebut sejak era Renaissance (Abad 14-17 M).
Padahal jika kita mencoba melihat dinamika keilmuan ulama’ terdahulu kita, cukup asyik dalam menikmati lika-liku dan kebebasan berpikir yang ada ketika itu, seperti Imam Syafi’I yang kerap berbeda dengan pendapat gurunya yakni Imam Malik, kritik yang Ibnu Rusyd lontarkan dan tertuang dalam kitabnya Tahafut at Tahafut terhadap Imam Ghozali pada kitab nya yang berjudul Tahafut Al Falasifah, dan sebagainya.
Dari sini memang Muhammad Arkoun cukup keras dalam mengkritik umat Islam sendiri. Meski demikian, proyek besar dari pemikiran Arkoun tersebut memiliki tujuan mulia guna mengentaskan umat Islam dari kebeukan berpikir dan mempercantik nama besar Islam di kancah dunia.
Penulis: Fani Azfar (Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana UIN Malang sekaligus santri di Ponpes Sabilurrosyad Gasek
Editor: Alifa Zainar Naasha



