Menyelamatkan Terma “Barokah Pesantren” dari Logika Mistika
Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia telah lama menjadi pusat pengembangan ilmu, moralitas, dan spiritualitas. Seiring dengan hal itu, keunikan pesantren terletak pada kemampuannya untuk mengintegrasikan dimensi spiritual dengan nilai-nilai praktis yang relevan dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, di dalam narasi masyarakat pesantren maupun non pesantren, sebagian besar keistimewaan pesantren sering kali direduksi menjadi elemen-elemen mistik yang sulit dijangkau secara rasional. Salah satu contohnya adalah konsepsi barokah yang kerap dipahami sebatas sebagai manifestasi absolut, tanpa memperhatikan potensinya sebagai basis nilai yang operasional dan transformatif.
Dominasi logika mistika ini menciptakan jarak antara nilai-nilai pesantren dengan penilaian masyarakat modern. Alih-alih menjadi panduan etis yang progresif, barokah sering kali ditempatkan dalam wilayah yang transenden semata. Sementara dimensi imanennya sebagai prinsip penggerak perubahan sosial sering diabaikan. Padahal, sebagai sebuah konsep, barokah memiliki potensi untuk menjadi landasan nilai yang menyatukan spiritualitas dan praksis dalam berbagai aspek kehidupan, baik pada tingkat individu maupun masyarakat.
Trivium Modal Pesantren
Mudahnya, logika mistika disedeharnakan dalam terminologi ‘kotoran kesaktian’ menurut Tan Malaka sebagaimana dalam madilognya. Namun, bagaimana diskursus ini berimplikasi pada pemaknaan barokah dalam tradisi pesantren yang secara konvensional diasosiasikan dengan kesakralan?
Di dalam perspektif klasik, barokah menurut Imam Ghazali sering kali diartikulasikan sebagai ziyadatul khair, yakni suatu peningkatan dalam kualitas kebaikan. Jika dikaitkan dengan kerangka yang ada di lingkungan pesantren, sesungguhnya barokah berada dalam ranah moralitas.
Hal itu karena ziyadatul khoir yang dimaksud merujuk pada segala bentuk kebaikan dan kesempurnaan perilaku formal yang ada, bukan bergantung pada suatu amalan besar tertentu. Sebaliknya, barokah ditemukan dalam segala hal (penerapan) tindakan yang berintegrasi, tanpa memandang adanya resistensi terhadap gerakan kepercayaan yang lain.
Ironisnya, dalam babakan keberkahan pesantren, segelintir masyarakat menaruh pemahaman atau istilah ini pada kajian spiritualitas. Hal itu berakibat seolah menafikan segala bentuk ikhtiar yang ada dan menggantungkan sepenuhnya pada kehendak Allah. Padahal, jika ditelisik lebih dalam, perlu kita pahami trivium atau tiga fondasional yang melingkupi dunia kepesantrenan, yakni ilmu, moral, dan spiritual.
Ketiganya bukanlah entitas yang terpisah, melainkan saling berintegrasi untuk membentuk kesatuan yang utuh dalam membangun karakter dan kearifan kehidupan. Tanpa menyeimbangkan ketiganya, esensi dari keberkahan pesantren itu sendiri akan tereduksi menjadi sebatas dogma yang kosong tanpa evidensi nyata dalam keseharian.
baca juga: Kontribusi Hadis Terhadap Pembentukan Identitas Budaya Dalam Persepektif Antropologi Keislaman
Pergeseran Konsep Barokah ke Logika Mistika
Pada mulanya, penting bagi kita untuk merefleksikan apakah konsep barokah yang dimaksud dapat dipahami sebagai manifestasi dari ketiga bentuk modal tersebut. Secara subtansial, gambaran barokah paling gamblang untuk dikemukakan termaktub dalam Q.S. Al-A’raf: 96. Intisarinya adalah aamanuu wat taqow lafatahna ‘alaihim barokah yang berarti bahwa iman dan takwa adalah sebab lantaran turunnya barokah yang Allah turunkan dari langit.
Keberkahan tidak semata-mata merupakan “anugerah langit”, melainkan hasil dari korespondensi antara ikhtiar manusia dalam merealisasikan nilai-nilai moral dan spiritual secara istiqomah. Keberkahan tidak dapat hanya diposisikan sebagai entitas transendental yang diakses melalui keyakinan metafisis. Ia harus dimaknai sebagai prinsip yang memotivasi manusia untuk berusaha, bekerja keras, dan memberikan manfaat nyata bagi individu maupun masyarakat.
Sebab itu, sering kali ditemukan wacana pesimistis dalam percakapan sehari-hari. Misalnya: “sepertinya tidak perlu belajar berlebihan, karena pada akhirnya Kiai akan mendoakan dan Allah akan menjadikan kita insan terpelajar.” Ungkapan semacam ini secara konseptual menafikan ikhtiar empiris yang tampak nyata, sembari menggantinya dengan pendekatan spiritual dengan dalih husnudzan terhadap Tuhan dan keyakinan pada mekanisme gaib di luar jangkauan logis manusia.
Diskursus Epistemik dalam Menyatukan Perspektif Bertentangan
Menimpali persoalan ini, menjadi esensial kiranya ketika hendak mengelaborasi pemahaman yang terlanjur dikotomis. Ranah spiritualitas sebagai keyakinan batiniah yang transendental dan logika manusiawi yang bersifat empirik-rasional. Pada kerangka epistemik, pandangan semacam ini tentu akan segera mengalami disonansi jika disandingkan dengan logika murni yang mengafirmasi rasionalitas.
Kendati demikian, saya berupaya untuk menunjukkan adanya dialektika yang memungkinkan korespondensi antara dua perspektif yang tampak bertentangan ini. Termasuk dalam konteks logika nubuwah, yakni sebuah premis yang meniscayakan karakter kenabian yang bersifat laten. Maka, di dalam kerangka ini urgensinya terletak pada pendahuluan proposisi kebutuhan eksistensial dalam ruang kehidupan yang benar-benar koheren dengan mekanisme logika fungsional.
Hal ini menyiratkan bahwa tindakan kita pada dasarnya harus didasari oleh premis-premis empirik yang mampu dijustifikasi sebagai konstruksi matematis berlandaskan hipotesis. Hipotesis ini, pada gilirannya berimplikasi pada dimensi moralitas sebagai episentrum atau titik awal yang lebih mendalam ketimbang spiritualitas semata. Moralitas, dalam hal ini, bertindak sebagai poros dialektis yang menyeimbangkan triadik fundamental bagi keberlangsungan kehidupan yang rasional maupun transendental.
baca juga: Tafsir Surat Al-Quraisy Ayat 1-4: Anugerah dan Nikmat Besar bagi Bani Quraisy
Kesimpulan
Logika mistika dalam pandangan moral, selalu berhimpitan makna dan berbalik arah tujuannya. Artinya, logika semacam ini perlu dibuang dan dicampakkan. Masyarakat seharusnya dibentuk melalui eksplorasi realitas yang didasarkan pada pendekatan ilmiah. Melalui cara berpikir demikian, terma sakral seperti keberkahan ini tidak seharusnya diinterpretasikan atau diijtihadkan sebagai entitas spiritual yang terjebak dalam kerangka logika mistika.
Pada hakikatnya, barokah merupakan manifestasi moral yang konkret dan bukan fenomena transendental yang terpisah dari realitas praktis. Dalam arti lain, ia adalah emanasi dari struktur moralitas yang terinternalisasi dalam eksistensi manusia, bukan sesuatu yang kontingen atau arbitrer.
Keberkahan harus dipahami sebagai aktualisasi teleologis dari nilai-nilai etis yang terwujud dalam tindakan nyata. Sebetulnya, di dalam kerangka filsafat moral, keberkahan berfungsi sebagai refleksi ontologis dari moralitas. Ketika terjadi dialektika antara kebajikan intrinsik dan praksis etik yang menghasilkan manfaat substantif, baik pada tingkat personal maupun sosial.
Oleh karenanya, keberkahan tidak dapat dipahami sebagai entitas yang terlepas dari usaha dan tindakan manusia. Keberkahan harus dipahami sebagai hasil dari keselarasan antara nilai moral yang dijunjung dan praktek etis yang dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis: Muhammad Ariby Zahron
Editor : Ahmad AY



